WAJAH perempuan berambut panjang itu tampak semringah. Sesekali, dia menyapu butiran keringat yang membasahi dahinya. Meski tampak ceria, wajah letih perempuan 19 tahun ini tidak dapat ditutupi.

Nanda, begitu dia disapa, lahir dengan kondisi fisik tak sempurna. Kondisi lengannya hanya sebatas siku. Meski begitu, Nanda tidak pernah berkecil hati akan apa yang diberikan oleh Tuhan. Dia pun tidak minder untuk bersekolah dan bergaul. Hingga akhirnya, takdir membawanya menjadi atlet disabilitas dengan torehan prestasi membanggakan (para athlete).
Nanda merupakan atlet paralimpik cabang atletik nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. ”Cita-cita awal saya menjadi guru,” kata Nanda ditemui, Kamis (19/7).

Awal mula Nanda berkecimpung di dunia olahraga, ketika Pemerintah Daerah Kediri mencari bibit-bibit atlet. Tawaran menjadi atlet disampaikan oleh pencari bakat kepada ibunya. ”Awalnya sempat ragu, tapi dinasihati untuk dicoba dulu, siapa tahu bisa menjad rezeki saya,” tuturnya.
Benar saja, bakat lari benar-benar terpendam dalam diri Nanda. Hanya dalam waktu dua bulan menjalani latihan, Nanda sudah bisa meraih tiga medali emas di kejuaraan olahraga yang digelar di Surabaya.

Prestasi Nanda terus berlanjut hingga saat ini. Perlahan namun pasti, pretasi demi prestasi berhasil diraihnya. Keikutsertaannya pertama kali di ajang internasional ASEAN Youth Para Games di Malaysia. Baru pertama kali ikut, Nanda langsung menggondol tiga emas dari cabang atletik.
Setahun kemudian, dia dipercaya mengikuti ajang kompetisi yang lebih tinggi, ASEAN Para Games di Myanmar. Keikutsertaannya yang pertama kali ini membuahkan medali perak dan perunggu. ”Ketika itu, masih penyesuaian untuk tampail di ajang senior,” katanya.

Barulah peningkatan prestasi terjadi di dua ajang ASEAN Para Games 2015 dan 2017 yang berlangsung di Singapura dan Malaysia. Tidak tanggung-tanggu dari masing-masing ajang tersebut dia berhasil mengumpulkan tiga medali emas, dari ajang atletik 100 meter, 200 meter, dan 400 meter.
Di ajang Asian Games, Oktober tahun ini, merupakan kompetisi pertama pada level Asia yang dia ikuti. Dia pun tidak muluk-muluk pasang target dari tiga nomor yang diikuti.
”Minimal bisa merebut perunggu di ajang lompat jauh. Untuk nomor lari atletik minimal bisa memperbaiki ranking Asia,” jelas pelari yang masuk dalam ranking 10 besar Asia ini.

Sejak Februari lalu, Nanda menjalani pelatnas atletik di Solo. Dia sadar betul akan persaingan para atlet di cabang atletik, dia pun tak muluk-muluk memasang target. Dia melihat atlet dari Jepang, Korea Selatan, dan Thailand menjadi pesaing terberat di cabang lari 100 meter dan 200 meter.
”Memang tidak ada beban, tapi saya sendiri menargetkan bisa menyumbang medali justru dari lompat jauh,” kata perempuan yang kini bercita-cita menjadi pelatih olahraga.

Nanda mengungkapkan rasa senangnya dan makin bersemangat setelah melihat antusiasme warga DIJ yang memberikan dukungan kepadanya selama membawa obor Asian Games. Dia tidak menyangka, dukungan yang diberikan wara Jogja begitu besar sehingga membangkitkan semangat untuk bertanding.
”Kalau biasanya bertanding di lintasan, penontonnya jauh. Sekarang dekat sekali dengan saya, jadi sangat excited. Jadi penyemangat dalam bertanding,” ungkapnya. (ila/mg1)