JOGJA – Mahasiswa STTNas mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian kepada Masyarakat dengan judul kegiatan “Pelajar Belajar untuk Mengajar”.
Tim PKM STTNas yang terdiri dari Juhair Al Habib, M. Tufik Hidayat dan Muhammad Hafiduddin ini terinspirasi dengan program gerakan Indonesia Mengajar.

Dalam kegitan Pengabdian Masyarakat ini, mahasiswa PKM STTNas melihat beberapa faktor menurunnya kualitas pendidikan. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2018 siswa putus sekolah jenjang SD seluruh Indonesia 32.127 anak dan di DIJ sebanyak 151 anak putus sekolah (PDSPK 2017).

Tujuan yang ingin dicapai pada program kreativitas mahasiswa bidang pengabdian kepada masyarakat ini yakni mengajak siswa SMA untuk ikut peduli dengan memberikan motivasi belajar ke siswa SD.
“Sekolah dasar yang dijadikan objek Tim PKM STTNas di Desa Banjarejo, Tunjungsari, Gunungkidul. Sebab, di daerah tersebut masih banyak siswa yang putus sekolah dan minimnya minat siswa untuk belajar,” ujar Ketua Tim PKM STTNas Juhair Al Habib.

Juhair menuturkan, data yang diperoleh jumlah anak usia sekolah di desa tersebut sebanyak 120 anak. Tapi, lanjutnya, dari jumlah itu hanya 17 anak yang sekolah di SD Bopkri dan 39 anak sekolah di SD Muhammadiyah Jarah.
“Metode yang diterapkan dalam program ini adalah Pelajar Belajar untuk Mengajar. Menghubungkan level pendidikan SD, SMA, dan Perguruan Tinggi,” ungkapnya.

Program ini terdapat tiga komponen yakni mahasiswa sebagai penggerak dan siswa SMA yang berprestasi sebagai Role Model yang akan mendidik. “Serta siswa SD sebagai objek,” ujarnya.
Selain itu, untuk mendukung metode tersebut dibuat Instrument Supporting Method yakni OPINI (Optimis, Inspiratif dan Imitasi) supaya motivasi belajar anak-anak akan meningkat. “Dengan begitu diharapkan masalah pendidikan di Desa Banjarejo dapat teratasi,” ujarnya. (sce/a1/ila/mg1)