Aksi Sapta Pesona dan Sadar Wisata kembali digelar Dinas Pariwisata DIY. Kali ini dipusatkan di Desa Wisata Songgolanggit, Mangunan, Dlingo, Bantul, Kamis (19/7). Kegiatan tersebut bertajuk “Ngrencak Uwuhe Dewi “. Ini akronim dari ngrengkuh lan macak uwuhe desa wisata. Ngrengkuh berarti merangkul. Sedangkan macak uwuhe artinya membersihkan sampah.

Aksi Sapta Pesona dan Sadar Wisata itu ditandai dengan kerja bakti. Berbagai elemen dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) bahu membahu membersihkan sampah di Desa Wisata Songgolangit tersebut.

Dilibatkannya pokdarwis bukan tanpa alasan. Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistyani mengungkapkan, pokdarwis diharapkan menjadi motivator para pelaku wisata. “Penerapan Sapta Pesona memberikan kepuasan dan kenyamanan bagi wisatawan,” kata Titik di sela acara.

Sapta Pesona merupakan penjabaran dari Sadar Wisata. Khususnya dukungan dan peran serta masyarakat sebagai tuan rumah dalam menciptakan lingkungan kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata.

“Peran serta itu diwujudkan melalui tujuh unsur dalam Sapta Pesona yang meliputi unsur aman, tertib, bersih, sejuk, indah dan unsur kenangan,” kata Titik.

Sedangkan Sadar Wisata dapat didefiniskan sebagai konsep yang menggambarkan partisipasi dan dukungan masyarakat mendorong tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu wilayah. “Kampanye Sadar Wisata harus terus disuarakan semua pelaku wisata,” ajakanya.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih ikut hadir dalam acara tersebut. Dia mengatakan, pokdarwis memegang peran penting mengembangkan pariwisata DIY. Ini sejalan dengan konsep pariwisata berbasis komunitas.

Implementasi dari konsep itu seperti di Desa Wisata Songgolanggit yang menawarkan objek wisata Seribu Batu Songgolanggit. Baru berjalan dua tahun, pengelolaan desa wisata ini terbilang berhasil. Selain banyak perubahan juga terjadi peningkatan. “Songgolangit inisudah seperti surga tersembunyi terpopuler,” ungkapnya.

Halim mengingatkan, unsur bersih dalam Sapta Pesona harus selalu diperhatikan. Kebersihan bukan lagi sekadar pendukung. Tapi menjadi ruh bagi pariwisata. Karena itu, dia ingin agar setiap pokdarwis menjaga secara serius faktor kebersihan itu.

“Pokdarwis harus menguatkan budaya Sapta Pesona,” lanjut wakil bupati yang pernah menjadi anggota DPRD DIY periode 2004-2014 ini. Dalam acara itu Halim secara simbolik menyerahkan alat-alat kebersihan dan tanaman untuk penghijauan kepada peserta. (cr6/kus/mg1)