KHAS JOGJA: Mengenakan pakaian tokoh-tokoh pewayangan, kelompok masyarakat ini memeriahkan kirab obor Asian Games di depan Kantor Gurbernur DIJ di Jalan Malioboro. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Sejak pagi hari mereka menunggu di beberapa jalan yang dilewati. Kemeriahan menumpuk di Tugu Pal Putih. Warga berbagai kalangan, mulai dari pelajar, masyarakat umum, atlet dan pejabat tumpah ruah di kawasan tugu. Suasana semakin meriah dengan hadirnya berbagai atraksi hiburan mulai dari alunan musik, modern dance, band, dan pawai kesenian.

Bisa dimaklumi, penyambutan obor ajang olahraga empat tahunan tersebut berlangsung cukup meriah. Sebab, Jogjakarta mendapat kesempatan spesial menjadi kota pertama, mendaratnya obor Asian Games yang dibawa dari India.
Kirab obor Asian Games dimulai dari Pagelaran Keraton Jogja dan dilepas Gubernur DIJ Hamengku Bowo X. Di Kraton Jogja, HB X menyerahkan obor tersebut kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Bersama sejumlah atlet dan mantan atlet, obor dibawa ke 23 titik yang ada di Jogja, dengan jarak tempuh sekitar 11 kilometer.

Oleh Menlu obor di bawa ke titik nol kilometer untuk selanjutnya diarak keliling Kota Jogja. Tampak pula Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri dan Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Mohammad Zamroni. Selain mereka, ada 10 atlet dan mantan atlet asal DIJ berprestasi. Mereka secara estafet membawa obor yakni Finarsih (bulutangkis), Asep Santoso (taekwondo), Kamilia Lituhayu (wushu), Rahmat Sulistiawan (panahan), Slamet Latanggang (pencak silat), Nurhayati (balap sepeda), Etik Hendrawati (panjat tebing), Nabila Khaerunisa Umarela (loncat indah), Hendra Purnama (panahan), dan Suwartoyo (paralimpik).

Sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan kirab obor yang dibawa Sekjen INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee), Eris Haryanto tiba di Tugu Jogja sebagai lokasi pemberhentian terakhir di Jogjakarta. Obor selanjutnya diserahkan kepada Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS). Selanjutnya, dibantu peraih emas SEA Games 1991 Manila cabang balap sepeda M Basri, HS memindahkan api obor ke dalam tinder box (lentera) untuk selanjutnya diserahkan ke Ketua Torch Relay 18th Asian Games Heti Purba.
Dari Jogja, api selanjutnya dibawa ke Solo, Jawa Tengah. Tercatat nantinya akan ada 54 kota dari 18 kabupaten yang dilalui arak-arakan obor ini.
Haryadi Suyuti mengapresiasi pantia penyelenggara Asian Games yang menjadikan Jogja sebagai tempat pertama arak-arakan obor Asian Games. Keberadaan api Asian Games di Jogjakarta menegaskan betapa istimewanya Jogja bagi Indonesia. “Tentu akan sangat menguntungkan bagi iklim pariwisata Jogja. Sekaligus menegaskan keistimewaan Jogja,” kata Haryadi.

Sebagai tuan rumah, dia berdoa, semoga Indonesia bisa sukses secara penyelenggaraan dan juga prestasi. Dia pun berpesan kepada para atlet DIJ yang kini tengah menjalani pelatnas, untuk berkonsentrasi dengan baik. “Tunjukkan prestasi yang terbaik, soal bonus pasti mengikuti,” kata Haryadi.
Dia berharap kirab pawai obor ke seluruh Indonesia dari Kota Jogja, menjadi penyemangat para atlet yang akan berlaga. “Semoga semangat api obor bisa menular ke seluruh atlet Indonesia. Untuk itu kita doakan bersama atlet sukses meraih prestasi, Indonesia juga bisa sukses penyelenggaraan,” ujarnya.

Sementara Heti Purba mengatakan setelah dari Jogja api akan dibawa ke Solo. Untuk selanjutnya, api akan diarah ke sejumlah kota yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Untuk memudahkan pemindahan api, kami memasukkan dalam lentera untuk memudahkan pindah ke kota lain,” kata Heti.
Suwartoyo, selaku atlet yang mewakili paralimpik mengaku sangat bangga mendapat kepercayaan terlibat dalam acara ini. Baginya, ini kesempatan langka dan tidak akan terulang lagi. Kemarin, dia mendapat jatah untuk membawa obor dari Telkom Pugeran hingga Pojok Beteng. “ Semoga menjadi penyemangat dan atlet yang berlaga mendapat prestasi yang membanggakan. Ini juga penyemangat untuk Asian Paralimpic Games (APG),’’ tegasnya. (bhn/din/mg1)