BEGITU keluar Kantor Imigrasi Pakistan di Wagah, kota perbatasan Pakistan, jalanan tampak sepi. Sekitar 500 meter dari pintu gerbang ada pangkalan taksi. Taksi di sini yang dimaksud adalah bajaj. Di pangkalan bajaj diparkir berjejer.
Begitu penulis muncul beberapa calo langsung mengerubungi, menawarkan jasa. Tak ada penumpang lain kecuali penulis siang itu. Salah satunya ada yang bisa bahasa Inggris.

Umumnya para calo bersuara keras. Dalam situasi ini kita dituntut ikut bersuara keras agar tak dianggap takut. Setelah tawar-menawar tercapai kesepakatan harga 700 rupee sampai Kota Lahore, ibu kota Punjab, Pakistan. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari Wagah.

Saat mau naik bajaj terjadi keributan. Dua sopir bajaj yang ikut mengerubungi penulis tadi saling ngotot agar penulis naik salah satu bajaj mereka. Terjadi otot-otoan bahkan saling cengkeram kerah baju. Tapi, untung dipisah rekan-rekannya, sehingga tidak sempat baku pukul. Kejadian itu jadi tontonan orang banyak. Apalagi, ada sopir-sopir lain saling membela rekannya. Maka, keributan makin ramai.

Penulis ikut turun dan mengusulkan agar kedua sopir bajaj itu diundi saja. Penulis pernah lihat itu dilakukan seorang guide terhadap sopir bajaj yang rebutan penumpang di Taj Mahal, India. Siapa pemenangnya berhak mengantar penulis.

Tapi, si calo yang bisa bahasa Inggris tadi menolak. Dia dan rekannya minta penulis tenang dan jangan khawatir. Dia berusaha mendamaikan. Penulis disuruh menunggu saja. Setelah reda, ternyata si calo tadi yang menyopiri. Penulis diminta naik bajaj yang disopirinya.

Saat bajaj jalan beberapa meter salah seorang sopir yang ribut tadi langsung naik dan menggantikannya jadi sopir. Sedangkan si calo pindah ke bangku belakang. Perasaan penulis tidak enak. Penulis merasa ada yang tidak beres.
Benar saja. Si calo mulai nerocos, mengajak omong sambil matanya jelalatan. Dia terus melirik tas kecil barang bawaan penulis berisi kamera dan laptop. Penulis langsung sigap.

Penulis teringat pengalaman Agustinus Wibowo, petualang negara-negara berakhiran Tan (Afghanistan, Kirgistan, Tajikistan, dst) begitu menghadapi bahaya, hendak dirampok atau ditodong dalam mobil atau angkutan umum langsung membaca Alquran atau berdoa dengan suara keras. Atau minimal didengar pelaku. Biasanya mereka akan mengurungkan niat.

Itu juga penulis praktikkan. Sambil waspada, penulis baca surah-surah pendek dan zikir tidak keras, tapi cukup terdengar. Begitu si calo tadi mengajak omong, penulis minta dia diam karena penulis sedang berzikir.

Pertama manjur, dia pun diam. Tapi, lama-lama dia tidak tahan. Dengan berbagai cara dia terus memancing obrolan agar penulis mau menjawab. Sesekali dia juga mengobrol dengan temannya tadi.

Hanya sesekali penulis jawab sambil terus waspada. Bahkan, dia berpura-pura minta kertas berisi alamat PC Hotel yang penulis simpan di tas kecil tempat kamera dan laptop. Dia juga tanya apa isi tas. Tapi, tidak penulis jawab. Padahal, sebelumnya dia sudah penulis tunjukkan catatan tadi dan membacanya beberapa kali alamat hotel itu.

Tampak dari kaca spion sopir bajaj terus memperhatikan penulis dan barang bawaan. Duduk penulis dan dia hanya dipisahkan tas besar penulis berisi pakaian. Batin penulis, kalau berniat merampas tas kecil ini akan penulis lawan. Karena ini alat kerja penulis paling berharga.

Namun dalam perjalanan rasanya bajaj begitu lama sampai di hotel. Mendekati hotel si calo tadi terus nerocos. Dia minta tambahan 200 rupee. Tapi, penulis pura-pura tidak dengar. Ini pemerasan, batin penulis.

Bagitu sampai di PC Hotel tas langsung penulis amankan. Penulis bayar 700 rupee seperti kesepakatan pada sopir. Tapi, si calo tadi turun dan marah-marah. Dia minta tambahan 200 rupee lagi. Alasannya, letak hotel cukup jauh. Agar tidak ribut penulis tambah 100 lagi. Tapi, dia ngotot minta terus, Akhirnya, penulis panggilkan petugas keamanan hotel yang berjaga di luar. Sopir dan si calo tadi buru-buru kabur dengan bajajnya. Penulis bersyukur terhindar aksi kejahatan.

Namun sebelum masuk India dan Pakistan banyak teman mengingatkan agar penulis selalu waspada dan jangan mudah percaya terhadap orang baru. Karena wilayah ini rawan kasus penipuan. Belakangan penulis tahu “perkelahian” antarsopir sebelumnya hanya sandiwara semata. Tujuannya, agar calon penumpang kecil nyalinya.

Sesampai di hotel pengamanan cukup ketat. Seperti dalam suasana perang. Tentara dengan senjata lengkap ada di mana-mana. Banyak barikade didirikan di tengah jalan untuk menghambat pengendara.

Begitu memasuki halaman hotel, seluruh tas diperiksa, barang digeledah. Sebelum masuk hotel barang bawaan masuk mesin scanner layaknya di bandara. Sedangkan untuk kendaraan harus melewati banyak barikade sebelum bisa masuk hotel. “Soal keamanan di Pakistan nomor satu,” kata Muladi, staf KBRI Islamabad yang penulis temui.

Lahore ibu kota Provinsi Punjab, Pakistan, merupakan kota terbesar kedua setelah Karachi. Nama Provinsi Punjab juga ada di India yang beribukota Amritsar. Letak kedua provinsi itu hanya terpisahkan perbatasan kedua negara.
Lahore yang merupakan kota tua di Pakistan banyak menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Islam masa lampau. Bahkan, Kaisar Kerajaan Islam Mughal Syah Jahan yang dikenal sebagai pendiri Taj Mahal, di Agra, India, juga berasal dari Lahore.

Di Lahore juga ada kuburan Ratu Noor Jahan, istri Kaisar Mughal Jahangir, yang merupakan ayah kandung Syah Jahan. Juga masjid peninggalan Karajaan Mughal. Di sini juga berdiri univeristas paling tua dan bergenghsi di Pakistan. Namanya Punjab University atau UI-nya Indonesia.

Jalan-jalan di Lahore cukup padat. Di mana-mana banyak polisi dan tentara berjaga dengan senjata laras panjang. Mereka siaga layaknya perang. Bahkan, di sudut-sudut bangunan tampak karung berisi pasir ditupuk sebagai benteng pertahanan. Juga tampak menara di kantor pemerintah atau rumah orang kaya tempat sniper. Tentara mengawasi lalu lalang orang yang mencurigakan.

Tak terkecuali kendaraan angkutan umum. Tingkat pengamanannya super tinggi. Saat naik bus Lahore-Islamabad berjarak sekitar 370 kilometer semua barang bawaan diperiksa teliti. Badan digeledah. Belum cukup, seluruh badan penumpang diperiksa pakai pendeteksi logam.

Bagasi penumpang pun diberi nomor. Sebelum berangkat, seorang petugas bus masuk seraya mengarahkan handycam pada para penumpang. Satu per satu wajah penumpang direkam. Tujuannya, mendata semua penumpang jika terjadi sesuatu bisa diketahui dari rekaman tadi. “Kalau ada penumpang yang berniat jahat, merampok misalnya, bisa diketahui wajahnya,” jelas Muladi. “Ini sudah dilakukan sejak lima tahun lalu,” tambahnya.

Saat keluar terminal, bus langsung disergap kemacetan parah. Hampir setengah jam lamanya bus terjebak macet. Baru setelah itu masuk jalan tol sangat panjang antara Lahore – Islamabad sejauh 370 kilometer.

Hebatnya, Pemerintah Pakistan “menggratiskan” jalan tol yang cukup panjang itu. Tak heran hanya ada dua pintu gerbang. Yakni, saat keluar atau masuk di Rawalpindi dan ketika keluar/masuk di Lahore.

Pengendara jalan tol hanya dipungut 100 rupee, sekitar Rp 9 ribu, untuk jarak 370 kilometer. Itu sangat kecil, bahkan bisa dibilang gratis untuk jalan sepanjang itu. Bandingkan dengan tarif tol di Indonesia.

Apalagi, jalan tol menuju Bandara Soekarno Hatta. Jarak yang hanya belasan kilometer, pengendara diharuskan membayar berulang-ulang dengan jumlah cukup besar. Benar-benar mahal.

Bus melaju kencang dengan pemandangan beragam. Kiri kanan jalan yang dilalui awalnya perumahan warga, lahan pertanian, tanah tandus, dan gunung batu. Bus hanya sekali berhenti di semacam rest area. Itu pun tidak lama. Hanya 10 menit. Saat minum kopi belum habis, bus sudah berangkat lagi.

Menariknya, bus eksekutif buatan Korea Selatan yang penulis tumpangi itu dilengkapi seorang pramugari. Penulis lebih suka menggunakan kata pramugari daripada kondektur.

Selain fungsinya lebih mirip pramugari, orangnya lebih cantik dari pramugari umumnya. Bekulit kuning, berhidung mancung. Ramah lagi. Dengan cekatan pramugari tadi siap melayani penumpang. Memberi minum, snack, koran, permen, atau apa saja yang dibutuhkan penumpang. Hampir sepanjang perjalanan 4,5 jam pramugari tadi terus melayani penumpang dengan senyum. Bus sampai di Rawalpindi, setengah jam dari Islamabad.

Memasuki Islamabad penjagaan kian ketat. Di berbagai sudut ibu kota Pakistan itu tentara dan polisi dengan senjata lengkap berdiri siaga di mana-mana. Menjelang masuk kompleks kedutaan negara asing keamanan kian diperketat. Seperti di kawasan Diplomatic Enclave I Street, di mana salah satunya KBRI Islamabad berada.

Untuk memasuki kawasan itu harus diperiksa indentitasnya. Tak peduli diplomat, tetap harus menunjukkan kartu indentitasnya. Warga asing diperiksa paspornya. Selain banyak barikade, beberapa portal didirikan di berbagai sudut jalan.

Sedikitnya dipasang tiga portal besi. Barikade besi baja elektronik yang bisa naik turun. Di berbagai sudut jalan itu juga terlihat berbagai tumpukan karung goni berisi pasir untuk pertahanan. Mirip suasana perang.

Bahkan di Kedubes Amerika Serikat yang letaknya sedikit jauh dari kompleks kedutaan negara asing lainnya, penjagaan super ketat dilakukan di jalan menjelang sekitar 500 meter dari gedung utama. (yog/bersambung)