Di zaman yang serba internet membuat demokrasi di abad 21 berbeda dengan demokrasi sebelum abad 21. Teknologi digital bukan hanya menambah jumlah sarana partisipasi yang bisa digunakan oleh publik, tapi menawarkan kelebihan-kelebihan tertentu. Sebagai sarana yang bersifat maya, internet membuat aktivitas patisipasi bisa dilakukan lebih mudah. Partisipasi politik kampanye dilakukan dari balik meja komputer tanpa mengurangi efektivitasnya.

Kelebihannya yang lain ialah hemat waktu. Penggalangan dukungan yang dilakukan melalui media sosial jauh lebih cepat dari yang dilakukan offline. Tak perlu bertatap muka dari satu orang ke orang lain untuk menarik dukungan publik. Cukup mencolek mereka secara online, misalnya melalui akun media sosialnya jauh lebih mudah dan bisa efektif

Hadirnya teknologi digital seperti media sosial: Facebook, Instagram, Twitter, dan lain-lain tidak cuma mengubah strategi komunikasi politik, tapi juga bagaimana cara partisipasi politik warga negara. Sifat terbuka interaktif yang ada pada internet membuat potensi meningkatkan partisipasi politik entah citizen mengkritik atau mendukung sebuah kebijakan politik. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana partisipasi politik maka wajah demokrasi baru mulai lahir dengan trend digitar atau istilah khusus: Cyberdemocracy.

Demokrasi ruang maya lebih populer lagi dengan sebutan demokrasi digital.
Demokrasi digital adalah sebuah cara atau strategi untuk mengimplementasikan konsep demokrasi yang tidak terkurung dalam batas waktu. Kapan pun di mana pun masyarakat dapat menyampaikan pendapat politiknya dalam waktu yang cepat. Contoh fenomena partisipasi sosial dalam waktu yang cepat adalah Arab spring pada tahu 2011. Pada kejadian ini, publik Timur Tengah menggunakan media sosial sebagai sarana baru melancarkan protes terhadap pemerintah.

Revolusi yang terjadi di mesir, Tunisia, Libya bermula dari protes online yang lambat laun semakin masif. Protes online berunjung pada protes offline yang kemudian menjatuhkan rezim-rezim di negara-negara tersebut. Ini membuktikan keberhasilan sinergi antarpartisipasi online dan offline. Sebelumnya tak terbayangkan warga Timur Tengah dapat meruntuhkan rezim yang sangat hegemonik.

Fenomena di Amerika Serikat saat terpilihnya Presiden Barack Obama. Pada saat kampanye Obama menggunakan media sosial sebagai sarana kampanye paling efektif untuk mempengaruhi kaum muda. Setiap minggu tim sukses Obama mengirimkan email ke-10 juta pendukungnya di jejaring sosial untuk menyumbangkan 5 USD atau 10 USD. Obama menganggap gerakan ini merupakan gerakan akar rumput dan gerakan ini sangat berhasil dalam penggalangan dana untuk memfasilitasi kampanye Obama dalam pilpres di AS. Peran media sosial salah satu faktor penting dalam kemenangan Obama sebagai presiden Amerika Serikat ke-44.

Fenomena di Indonesia pertama, #Koin untuk Australia.’ Pernyataan Perdana Menteri Australia Tonny Abbott yang mengungkit dana bantuan tsunami warga Aceh pada tahun 2004 berkaitan permohonan untuk membantalkan eksekusi mati terhadap dua warga Australia berbuntut panjang. Pernyataan itu mendapatkan kecaman oleh warga Indonesia. Kedua, #KOINUNTUKKPK” pada tahun 2012 mucul gerakan koin untuk KPK yang dilatarbelakangi oleh keprihatinan publik terhadap KPK yang kesulitan memperoleh anggaran untuk membangun gedung sendiri.

Terakhir yang sedang heboh adalah Fenomena #GantiPresiden2019 merupakan salah satu kelebihan teknologi media sosial dalam menggiring persepsi publik untuk melakukan perubahan politik. Dengan membuat hastag yang diikuti jutaan masyarakat yang tidak puas dengan pemerintah. Hastag itu membuat heboh masyarakat Indonesia dan melakukan gerakan membuat baju yang bertulis #GantiPresiden2019. Baju ini membuat Presiden Jokowi angkat bicara. Singkat kata, dengan teknologi digital partisipasi jauh lebih mudah dan bisa lebih efektif. Efeknya: demokrasi semakin kuat. Karena saluran untuk berpartisipasi semakin beragam. Tapi juga maya. Inilah pertanda awal datangnya era demokrasi baru: Demokrasi Digital.

Pada Pemilihan Umum 2019 nanti peran media sosial dalam partisipasi politik sangat tinggi. Media sosial akan menjadi strategi tim sukses pemenangan calon politik untuk mempengaruhi kalangan muda atau pemilih pemula. Generasi milenial hari ini dapat diperhatikan gaya hidup mereka hampir separuh jam dalam satu hari mengunakan gadget sebagai sumber informasi.

Kekuatan gadget dalam mendapatkan informasi lebih cepat dibandingkan media cetak atau TV. Dalam rilis internet world stats Indonesia menjadi nomor tiga penguna internet terbanyak di Asia. Penguna bisnis sangat tinggi dalam mewarnai media sosial di Indonesia.

Kemudahan teknologi digital ini membuat informasi apa pun dapat diterima secara gampang oleh masyarakat. Hoax dan propaganda untuk menggiring opini publik untuk melakukan sesuatu yang melanggar norma sangat mudah dilakukan. Media sosial akhir-akhir ini diwarnai banyak pertikaian politik menjelang 2019. Ini harus dicermati citizen untuk tidak menjadi bagian provokasi memecah bangsa. (sce/laz/fn)

*) Penulis Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisipol UMY, dan Kordinator Umum Komunitas Independen Sadar Pemilu.