SLEMAN – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia bekerja sama dengan Ecole Francais d’Extreme Orient (EFEO) mengadakan kursus internasional intensif Bahasa Jawa Kuno ke-4. Tempatnya di Villa Cangkringan Spa and Resort. Agenda ini dibuka Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Republik Indonesia Ofy Sofiana M.Hum.

Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus Perpusnas Republik Indonesia Drs Teguh Purwanto S.IP mengungkapkan, kursus bertujuan agar para pelajar mampu membaca sekaligus menganalisa teks-teks Jawa kuno. Juga agar mereka secara mandiri dapat memanfaatkanya sebagai referensi penelitian.

”Sehingga penelitian Jawa Kuno dan studi terkait lebih berkembang di masa depan,” harap Teguh.

Tidak hanya EFEO yang digandeng. Perpusnas Republik Indonesia juga menggandeng Ecole Pratique des Hautes Etudes (EPHE), PSL Research University, Paris, Prancis, dan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Asia Tenggara dan Karibia (KITLV) dalam menyelenggarakan kursus internasional yang pertama kali digelar pada 2014 ini.

”Pertama pada 2014, kemudian, 2015, 2017, dan sekarang 2018,” tuturnya.

Kursus internasional ini diampu pengajar kondang. Yakni, Prof. Dr. Willem van der Molen dari KITLV, Leiden, Belanda. Dia adalah profesor filologi Jawa Kuno. Berikutnya, Dr. Andrea Acri dari EPHE, Paris, Prancis. Dia seorang dosen dan peneliti filologi Jawa Kuno. Lalu, Dr. Dwi Puspitorini, seorang dosen sastra Jawa dari Universitas Indonesia.

Kursus berlangsung selama 15 hari. Diikuti 27 pelajar. Dia menyebut sebenarnya ada 89 peserta yang melamar ingin mengikuti kursus ini. Tapi, hanya 27 pelajar yang terpilih. Dari jumlah itu, 20 di antaranya berasal dari Indonesia. Sisanya siswa asing. Mereka dari berbagai negara. Yakni, Jerman, Italia, India, Thailand, Belanda, China, dan Inggris. Kursus juga dilengkapi dengan studi lapangan ke bebagai situs sejarah di Jawa Tengah.

“Peserta kursus akan mendapat ilmu di kelas. Mereka juga mendapatkan pengalaman untuk berkunjung ke situs-situs yang relevan dengan fokus pembelajaran. Seperti Candi Gedong Songo, Dieng, dan Prambanan,” ujarnya.

Teguh berharap generasi baru filolog Jawa kuno dapat bekerja sama membangun kemitraan internasional, sehingga menghasilkan beragam penelitian yang berkualitas. (A2/zam/mg1)