SLEMAN – Memasuki musim kemarau yang puncaknya diprediksi Agustus nanti, para petani mengganti jenis tanamannya. Sebagian besar mengganti padi menjadi palawija yang tidak memerlukan banyak air.

Seperti yang dilakukan oleh Sumaryadi, 62, petani Desa Madurejo, Prambanan. Dia beralih menanam kacang setelah sebelumnya menanam padi.
“Biasanya kami menanam jagung, tapi dua musim terakhir hasilnya kurang maksimal,” kata Sumaryadi, Rabu (18/7).

Namun tidak semua petani di derahnya mengikuti langkah Sumaryadi. Tetap ada petani yang menanam padi lantaran memiliki sumur bor di sekitar areal persawahan. Sehingga suplai air masih cukup memadai.

Sumaryadi mengaku, dia tidak memiliki sumur bor dan masih mengandalkan saluran irigasi sebagai penyuplai utama air di lahan pertanian seluas 3.000 meter persegi miliknya. Namun ketersediaan air untuk lahannya pada musim kemarau ini relatif sulit.

Dikatakan, saluran irigasi yang menjadi urat nadi pertaniannya rusak. “Kalau di atas saluran irigasi dibangun warung atau di sekitarnya ditanami pohon bakal merusak sistem irigasi,” kata Sumaryadi.

Dia menyebut suplai dari hulu juga bermasalah. Banyak saluran irigasi yang rusak dan belum diperbaiki. “Padahal saya sudah lapor ke gabungan kelompok tani (gapoktan) tapi belum ada tanggapan,” jelasnya.

Guna mencukupi kebutuhan air dia meminta petani lain yang memiliki sumur bor. “Sementara masih numpang, kalau bikin (sumur bor) biayanya mahal,” keluh Sumaryadi.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Heru Saptono menyebut pihaknya akan segera membangun lima saluran irigasi tanah dangkal. “Masing-masing irigasi dibuat sumur bor sedalam 30 meter, lalu dialirkan ke saluran irigasi,” kata Heru.

Pihaknya akan segera membangun saluran irigasi di Jumeneng (Mlati), Kebon Agung (Sleman), Sangonan (Godean), Prumpung (Ngaglik) dan Balong (Ngemplak).

Sementara itu, debit air Selokan Mataram mulai menyusut. Hal itu disampaikan anggota Pos Pengamatan Selokan Mataram II, Sriyana. “Kalau dari hulu debitnya besar, tapi setelah sampai Maguwoharjo semakin berkurang,” kata Sriyana ditemui di kantornya.

Dia menyebut persoalan sampah masih menjadi kendala utama. Padahal dia bersama anggotanya rutin membersihkan sampah di Selokan Mataram.

“Sudah kami lakukan sosialisasi, tapi warga masih sering membuang sampah seperti bangkai hewan ataupun sampah rumah tangga ke selokan,” kata Sriyana.

Bukan hanya perilaku warga yang kerap membuang sampah, namun dia juga prihatin terhadap ulah oknum petani yang sengaja membendung aliran selokan dengan batu-batu besar. “Dari Maguwoharjo hingga hilir saja kami hitung ada tujuh bendungan buatan,” kata Sriyana.

Pihaknya telah melakukan sosialisasi terhadap para petani. Bendungan buatan mengakibatkan sampah menumpuk. “Aliran air tidak lancar dan selokan menjadi kumuh,” kata Sriyana.

Dia maklum, lantaran salah satu cara untuk dapat mengalirkan air ke lahan pertanian selain dengan pompa adalah dengan bendungan buatan. Sehingga pihaknya setiap hari terus mengontrol dan memberikan peringatan kepada petani yang tidak membersihkan sampah di bendungan buatan.

“Kalau nggel-nggelan (bendungan buatan) tidak dibersihkan secara rutin terpaksa kami bongkar,” tegas Sriyana. (har/iwa/mg1)