SEMENTARA itu, banyaknya objek wisata susur gua di Kabupaten Gunungkidul mendapatkan perhatian serius Basarnas DIJ. Apa lagi, beberapa wisatawan pernah terjadi terjatuh ke dalam gua.

”Ini perlu diantisipasi,” jelas Kasi Penyelenggaraan Diklat Balai Diklat Basarnas DIJ Sukarta saat Workshop Penyelamatan dan Evakuasi di Dalam Gua, Rabu  (18/7).

Sekadar catatan, ada 98 gua di Bumi Handayani. Dari jumlah itu, 12 di antaranya dikelola sebagai objek wisata minat khusus.

Menurutnya, pendidikan dan pelatihan (diklat) selama empat hari. Yakni, mulai 17 hingga 20 Juli. Diklat ini melibatkan instruktur Basarnas. Tepatnya instruktur di bidang penyelamatan dan evakuasi di dalam gua. Sedangkan diklat terfokus di Gua Cokro, Gua Dadap, dan Gua Gremeng.

”Tiga lokasi ini dipilih karena memiliki kontur yang layak sebagai pelatihan dan bisa mengimplementasikan teori,” ucapnya.

Lalu, siapa yang mengikuti diklat? Dia menyebut ada 32 orang. Meliputi 18 instruktur balai diklat, 13 rescuer kantor Basarnas DIJ dan 6 pemandu wisata Gua Cokro.

Melalui diklat ini, Sukarta berharap kapasitas dan profesionalisme instruktur meningkat. Sebab, materi yang disampaikan di antaranya berupa evakuasi di gua vertikal dan horizontal.

”Termasuk materi penyelamatan dengan teknik rappelling dan lifting,” ujarnya.
Berdasar data Basarnas, angka kecelakaan di dalam gua kecil. Sukarta melihat penyebab utama kecelakaan ini adalah kelalaian. Wisatawan tidak mempersiapkan diri ketika susur gua.

”Juga tidak melengkapi diri dengan standar peralatan gua,” tambahnya.

Pengelola Gua Cokro Purwanto berharap diklat berlangsung konsisten. Agar setiap pengelola wisata memiliki standar keamanan yang optimal.

”Kemampuan evakuasi seperti ini tidak sepenuhnya kami kuasai, sehingga akan menjadi kendala jika suatu waktu ada kecelakaan,” katanya. (gun/dwi/zam/mg1)