PEMERIKSAAN imigrasi di Attari, kota perbatasan di India dan Pakistan begitu ketat. Begitu pula di imigrasi Wagah, kota di Pakistan yang berbatasan langsung dengan Attari. Pemeriksaan berlapis-lapis. Mulai petugas imigrasi sampai tentara. Apalagi, India dan Pakistan sampai kini masih berseteru soal Kashmir.

Jadilah kedua negara curiga terhadap para pelintas batas. Baik ke India maupun Pakistan. Makanya, pemeriksaan ketat dan berlapis diterapkan kedua negara.
Saat penulis meninggalkan New Delhi menuju Amritsar, ibu kota Punjab, India yang berjarak sekitar 480 kilometer Jumat, 8 Oktober 2011, malam jalanan sangat macet. Berjam-jam penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, terperangkap macet karena hari itu bersamaan jam pulang kantor.

Setelah pukul 20.00 mobil yang penulis tumpangi baru bisa melaju lancar di high way yang bisa dipacu hingga 100 kilometer per jam. Tapi, itu tidak lama karena jalan yang mulus tadi hanya sekitar 50 kilometer per jam. Selebihnya banyak jalan belum jadi, bahkan rusak hingga kembali ke jalan lama. Meski demikian mobil bisa dipacu kecepatan sedang. Banyak truk dan bus besar melintas di jalan ini. Debu pun beterbangan.

Saat memasuki Provinsi Punjab, mobil luar kota seperti dari New Delhi harus melapor dan membayar semacam restribusi. Tak pelak terjadi antrean panjang, namun tidak sampai macet.

Laju mobil kadang cepat, kadang melambat. Itu akibat high way yang sebagaian belum jadi. Hingga mobil kerap keluar jalan tol dan kembali ke jalur lama. Kecepatan otomatis berkurang.

Selain itu, karena dalam tahap pembangunan petunjuk arah jalan nyaris tidak ada. Banyak sopir yang tidak biasa melewati rute kesasar dan bertanya pada warga setempat. Termasuk Jay,24, sopir mobil yang penulis tumpangi. Pemuda berperawakan kecil itu beberapa kali kesasar.

Beberapa kota kecil dilalui seperti Jalanabad dan Hamira. Pemandangan malam itu kiri kanan jalan umumnya hanya persawahan. Beberapa hotel, rumah makan besar, dan tempat penginapan cukup bagus banyak dijumpai di sepanjang jalan ini. Jalan New Delhi-Amritsar merupakan jalur utama menuju Provinsi Punjab, yang merupakan kawasan dengan jumlah penduduk terbesar di India.

Mobil masuk Amritsar Sabtu (9 Oktober 2011) sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Suasana kota pagi itu sepi. Belum ada aktivitas. Hanya ada beberapa warga terlihat lari pagi.

Kota Attari masih berjarak 17 kilometer lagi. Sesampai di Attari Border terlihat ratusan truk antre di pintu masuk perbatasan Pakistan. Panjangnya belasan kilometer.

Sambil menunggu masuk border, para sopir umumnya minum cae, minuman khas warga Pakisan-India dan negara sekitarnya. Berupa teh yang dicampur susu kerbau untuk menyegarkan tubuh yang lelah. Layaknya orang minum kopi di Indonesia. Sebagaian sopir tiduran. Makanya, banyak warung cae atau kopi berdiri dekat perbatasan.

Supaya tidak menunggu terlalu lama di perbatasan penulis memutuskan balik dulu ke Amritsar guna melihat keindahan kuil emas atau Golden Temple penganut Syik yang terkenal itu.

Dari jauh kubah keemasan tampak mengilat. Ribuan penganut Syik sudah memadati areal kuil yang disucikan itu. Ada yang mandi di kolam, berdoa di sepanjang pinggir kolam, dan antre memasuki kubah pusat kuil emas. Pukul 08.30 penulis balik ke Attari Border.

Sambil menunggu pintu perbatasan buka, penulis sarapan homelet atau roti bakar dicampur telur. Tapi, jangan ditanya rasanya. Wong, pembelinya umumnya para sopir yang baju dan dandanannya kulu-kulu alias terlihat tidak mandi beberapa hari.

Bahkan penjualnya yang berbadan subur itu hanya mengenakan kaos singlet. Sesekali memegangi ketiaknya. ‘’Enak tah?,’’ tanya Henda Eka sambil cekikian begitu melihat penjual tadi garuk-garuk ketiak. ‘’Yang penting bisa ganjal perut,’’ jawab saya. Hendra memilih sarapan mi karena tidak tahan kelakuan penjual cae tadi.

Sekitar pukul 10.00 border mulai dibuka. Hendra Eka yang mendampingi penulis sejak dari Bangkok, Thailand, terpaksa tidak bisa menyertai lagi ke Islamabad karena belum mengantongi visa Pakistan.

Rasanya agak berat juga ‘’berpisah’’ meski hanya sementara. Hendra nantinya direncanakan menyusul dan bertemu lagi di Uni Emirat Arab (UEA) atau Iran. Tergantung situasi lapangan. Baru kemudian sama-sama masuk Saudi Arabia.
Sebelum masuk border pun kami berpelukan. “Tenang Pak, nanti kita secepatnya bertemu lagi,” ujar Echa, sapaan Eka Hendra, berusaha menghibur.

Adi, seorang mahasiswa asal Jogjakarta yang kuliah di India mau mengantar penulis dan ikut masuk ke border. Tapi, dilarang petugas. ‘’Ya wis Pak, ati-ati,’’ kata Adi sambil mengulurkan tangannya. Adi yang suka petualangan itu belakangan justru kuliah di Moskwa, Rusia.

Jarak pintu masuk border dengan imigrasi India hanya sekitar 50 meter. Saat itu hanya terlihat seorang pelintas batas. Sedangkan petugas ada tiga orang. Pukul 10.00 lebih sedikit petugas tadi mulai melayani pelintas. Tak lama muncul empat orang lagi. Yang datang umumnya warga India atau Pakistan.
Setelah mengisi form, pelintas menyerahkannya ke petugas imigrasi. Setelah diperiksa, tak lama kelar. Giliran penulis diperiksa agak lama. Petugas nomor loket tadi terus membolak-bolik paspor penulis. Mungkin karena cap imigrasi yang saya lintasi banyak yang berselisih beberapa hari.

Hari ini datang, besok pergi. Atau hari ini datang ke negara itu, besok sudah dapat visa negara lain. Apalagi, visa India saya ada dua. Satu dikeluarkan di Bangkok, satunya Nepal. Mungkin itu yang membuat dian heran.

Padahal, kenyataannya penulis kadang hanya melintas sehari atau dua hari di sebuah negara. Begitu sudah mendapat visa negara lain yang dituju penulis langsung cabut.

Kembali ke petugas tadi, dia terus membolak-balik paspor penulis, meneliti lembar per lembar. Dengan kaca mata minusnya dia terus memelototi cap demi cap imigrasi beberapa negara. Sesekali dia tampak mengeleng-gelengkan kepalanya.

Dua rekan di sebelahnya juga disuruh meneliti isi paspor penulis. Saat itu penulis hanya berdiri mematung sekitar satu meter di depan petugas tadi. Menyaksikan dengan tegang. Tapi, berusaha tidak panik atau grogi. Khawatir nanti malah dicurigai.

Dua rekan petugas tadi hanya sesekali melirik ke arah penulis tapi tidak berkomentar sedikit pun. Akhirnya, kedua rekan petugas imigrasi tadi menyerahkan paspor penulis kepada petugas yang pertama.

Dia pun membolak-balik paspor penulis lagi. Cukup lama. Ada sekitar 15- 20 menit. Akhirnya, dia menyetempel pada paspor penulis. Plong rasanya. Sebelum menyerahkan paspor petugas tadi sempat bertanya. “What job?” katanya. “Art worker,” jawab saya. “Imposibble,” gumannya pelan sambil memberikan paspor penulis dengan cara setengah melemparkan di mejanya.

Namun saat melewati pemeriksaan petugas India berikutnya, orangnya cukup ramah. Dia memeriksa form tadi lalu mencocokkan dengan barang bawaan. Selanjutnya, petugas yang satunya mencatat indentitas paspor penulis. Karena belum tanda tangan, penulis pun dipanggil mendekat untuk membubuhkan tanda tangan.

Hanya dua menit kelar. Petugas pemeriksa di gerbang pintu terakhir India hanya meminta form yang penulis isi tadi.

Masuk ke wilayah Pakistan penjagaan pun cukup ketat. Di setiap jengkal tanah perbatasan ada tentara siaga lengkap dengan senjata laras panjang. Pemeriksaan pelintas oleh tentara dilakukan empat lapis.

Pertama, indentitas pelintas dicatat. Di pemeriksaan kedua tentara yang menenteng senjata hanya memeriksa paspor. Di lapis ketiga juga memeriksa paspor dan tentara itu mencatatnya. Tentara terakhir juga hanya memeriksa paspor.

Menariknya, meski sudah memasuki wilayah Pakistan, tak hanya visa Pakistan yang diperiksa. Tapi, visa India yang ada di paspor penulis juga ikut diperiksa. Bahkan lebih teliti. Dibolik-balik. Setelah yakin, baru diberikan.

Di dekat gerbang wilayah Pakistan terdapat stadion dengan deretan bangku penonton cukup panjang. Bukannya, untuk menonton bola. Tapi, itu disediakan bagi warga Pakistan dan turis untuk menyaksikan penurunan bendera di waktu senja dengan upacara khusus.

Tak kalah dengan Pakistan, tentara India juga melakukan penurunan bendera yang sama meski hanya dipisahkan pintu gerbang. Jadilah kedua tentara negara tetangga itu unjuk kebolehan dalam penurunan bendera.

Acara makin ramai dengan kahadiran penonton di kedua belah pihak. Mereka saling bersorak memberikan semangat dan dukungan pada tentara negaranya. Jadilah upacara penurunan bendera di perbatasan menjadi hiburan warga dan turis setiap sore.

Kembali ke perbatasan. Giliran masuk pemeriksaan imigrasi Pakistan muncul masalah lagi. Semula dua petugas sudah agak tua itu cukup ramah begitu penulis memberi salam. “Assalamualaikum,” sapa penulis. Kedua petugas itu langsung tersenyum.

Tapi, begitu memeriksa paspor wajahnya sedikit tegang. ‘’Visa India,’’ katanya. ‘’Ya, ‘’ jawab saya. Kedua petugas itu terus berbicara sambil membolak-balik paspor penulis. ‘’Berapa lama tinggal di Pakistan?’’ tanyanya. “Sekitar satu minggu atau lebih,” jawab penulis.

‘’Anda tinggal di PC (Pearl Continental) Hotel di Lahore,” tanyanya lagi. “Itu hotel mahal, sehari bisa ribuan rupee,” ucapnya sedikit tak percaya. Pertanyaan itu wajar dilontarkan karena pagi itu pakaian penulis sedikit lusuh dan tidak mandi setelah perjalanan semalaman. Apalagi, penulis hanya membawa ransel ala back packer. “Ya,” jawab penulis tenang.

Padahal, alamat hotel itu penulis dapat dari rekan KBRI Islamabad yang kebetulan ada acara di PC. Penulis datang di situ menemui rekan tadi untuk berangkat bersama naik bus ke Islamabad. Tapi, karena dalam form harus diisi alamat tempat tinggal selama di Pakistan, maka penulis masukkan saja alamat hotel itu.

Belakangan penulis paham. Mengapa petugas imigrasi tadi ragu penulis menginap di PC Hotel. Setelah masuk, penulis baru tahu hotel itu yang terbaik di Lahore dengan penjagaan super ketat. Umumnya yang menginap pejabat, pebisnis, dan turis kelas atas.

Tak lama paspor penulis di-dok. Petugas yang semula berwajah angker berubah tersenyum. “Welcome to Pakistan,’’ katanya seraya menyerahkan paspor. Lega rasanya. Tapi, saat hendak melangkah pergi penulis dipanggil lagi. Mak deg hati penulis. “Pinjam penanya. Hanya sebentar,” pinta petugas tadi. Dia lalu membubuhkan tanda tangan pada form pelintas batas yang lain. “Terima kasih,” katanya sambil mengembalikan pena tadi. Penulis pun melangkah keluar pintu gerbang Pakistan dengan hati berbunga. Ada tulisan besar-besar “Welcome to Pakistan ’’ di sebuah papan besar. (yog/bersambung)