”Mas, hape-mu kok primitif banget sih. Mbok ganti yang bisa untuk WA.” Begitu saran sobat saya ketika melihat saya menelepon memakai Nokia seri 130 yang saya miliki sejak tujuh-delapan tahun lalu. Bukannya saya merasa terhina. Saya memakai handphone alias hape itu karena suka dan masih ada nomor sobat lama, yang hanya tahu nomor di hape yang primitif itu.

Tapi, saya terhenyak mendengar kata primitif yang digunakan sang sobat. Saya menjadi memahami bahwa kata primitif dalam teknologi itu bisa diucapkan untuk sesuatu yang relatif baru dan sebenarnya masuk kategori produk karya budaya modern pula. Primitif bukan berarti sesuatu yang kuno atau produk zaman dulu. Sebab, kualitas jasa (manfaat) suatu teknologi itu pula yang akan memelorotkan status barang modern menjadi barang primitif.

Sebutan hape primitif saya terima sebagai istilah yang tepat dan pas seiring dengan perubahan teknologi komunikasi yang demikian cepat, yang terkadang pula cerminan dari masyrakatnya yang mau tak mau lengket dengan instrumen komunikasi antarindividu itu pula. Teknologi menciptakan kebutuhan bagi umat manusia, yang kalau setiap individu manusia tak melakukan adjustment dan tak menggunakannya maka dia akan terkena stereotip sebagai manusia yang masuk kategori primitif pula.

Mungkin sebagian besar pemilik hape tidak membutuhkan begitu banyak fitur dalam satu unit gadget. Tetapi, karena tidak mau masuk dalam kategori manusia primitif, dia sebetulnya terpaksa membelanjakan uangnya untuk bermacam fitur yang tak bermanfaat yang sudah dikemas di dalamnya.

Sebagai contoh, eyang-eyang pensiunan itu, sebetulnya sudah tak membutuhkan banyak fitur. Kecuali, fitur untuk bisa telepon, kontak via Whatsapp (WA), instrumen panggil Grab, dan tentu beberapa fitur lagi.

Sehingga, mereka membeli banyak hak paten yang masuk dalam sebuah alat komunikasi yang mereka sebut hape. Tentu, kalau banyak fitur yang dikurangi dalam satu paket hape, harganya bisa jauh lebih murah dan lebih banyak lagi manusia yang tidak masuk kategori primitif.

Marilah, kita cermati pengertian primitif dari beberapa kamus. Primitive means belonging to a society in which people live in a very simple way, usually without industries or a writing systems. Collins Dictionary menjelaskan bahwa kata sifat ini memberikan telaah kata ini untuk menunjuk (a) individu dan (b) sekelompok manusia (masyarakat). Lebih jauh, Collins memberikan deskripsi sebagai berikut: That is very simple in style or very old fashioned.

Kata sifat primitif sebetulnya berlaku untuk suatu konsep yang luas jangkauannya. Bukan hanya terbatas pada teknologi semata. Tetapi, mencakup keseluruhan olah budi manusia. Sehingga, sekelompok manusia bisa disebut primitif atau sebaliknya masuk kategori manusia modern.

Dalam koteks zaman yang berbeda, seusai penyerbuan pasukan Inggris ke Keraton Jogjakarta pada 20 Juni 1812, komandan tentara Inggris menyatakan: ”Bagaimana mungkin tentara Sultan yang masih primitif persenjataannya bisa mengalahkan tentara Inggris yang mempunyai persenjataan modern”. Bahkan, dengan congkak dia menambahkan: ”Meski sudah dibantu jimat dan doa agar Nyai Ratu Kidul ikut membantu menyelamatkan Keraton Jogjakarta, ternyata tak satupun kekuatan mistik bisa mengalahkan tentara Inggris”. Artinya, dikotomi kata modern dan primitif itu sudah ada sejak dua ratus tahun yang lalu. Meski, senjata yang digunakan tentara Inggris itu seabad berikutnya juga termasuk arsenal primitif. Saat itu orang mendeskripsikan teknologi militer primitif sebagai dengan mudah dihancurkan oleh teknologi militer yang lebih modern.

Sisi lain, ketika intel Jepang di bawah kendali Laksamana Maeda menginginkan agar Indonesia cepat-cepat merdeka pasca-Jepang menyerah kalah pada 14 Agustus 1945, itu karena ingin menyerahkan semua perlengkapan perang dan aset militer kepada tentara Indonesia sesegera mungkin. Sebagai negara yang kalah perang, semua aset militer harus dilucuti dan diserahkan kepada pihak Sekutu.

Tetapi, ketika seluruh perlengkapan militer itu jatuh ke tangan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) maka secara tidak langsung Jepang sudah mempersenjatai rakyat Indonesia dengan persenjataan modern guna melawan tentara Belanda, yang tentu akan menuntut koloninya kembali ke tangan Kerajaan Belanda. Jepang pun benar-benar pintar. Rakyat Indonesia diberi persenjataan modern agar melawan penjajah. Padahal, Belanda tahu mereka hanya bisa menang kalau rakyat Indonesia punya senjata primitif.

Pada akhirnya, aksi polisionil Belanda pun gagal. Sebab, rakyat Indonesia sudah mempunyai senjata modern dan tentara yang terlatih dan dilatih tentara Dai Nippon.

Namun, dalam konteks waktu dan pertumbuhan teknologi pula, senjata modern dari ”rampasan perang” tentara Dai Nippon itu pun masuk kategori primitif untuk perang pada 1970-an. Apalagi, perang di abad 21. Teknologi mengubah peralatan militer sehingga akan selalu memunculkan kata teknologi primitif untuk semua bentuk teknologi masa lalu.

Dari waktu ke waktu, perubahan sosial itu akan terjadi dan selalu berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam waktu dan dekade yang sama, ada pula yang tetap tidak berubah dan meyakini untuk tidak ikut arus perubahan dalam sistem sosial. Primitivitas pun tetap diyakini sebagai suatu yang diyakini dan harus dipertahankan.

Bahkan, tetap pula diikuti sebagai ajaran dan gaya hidup yang primitif. Tidak mudah untuk mendamaikan keduanya. Meskipun, telah terbukti dalam sejarah peradaban manusia bahwa modernitas itu dengan mudah mengalahkan primitivitas bila keduanya saling berbenturan.

Hape sebagai bentuk pengejawantahan teknologi informasi yang dipasarkan oleh bisnis mewakili kelompok modern adalah suatu contoh. Ia dengan cerdik memaksa kelompok primitif untuk membeli sesuatu yang melebihi kebutuhan dirinya sendiri. Dari detik ke detik, uang kelompok primitif disedot masuk ke rekening pemilik paten untuk sesuatu fitur yang tidak pernah dia manfaatkan dengan hitungan pulsa.

Kalau di era dua ratus tahun yang lalu, hegemoni diciptakan dengan undang-undang kolonial yang monopolistik dan diskriminasi rasial serta dengan dukungan kekuatan militer. Maka, di abad milenial ini, hegemoni telah dibentuk dengan penguasaan hak paten (teknologi) tanpa dukungan senjata. Lebih murah dan lebih irit tetapi esensinya sama, modernitas lebih unggul dari primitivitas. (*/amd/mg1)