MEMBANJIRNYA berbagai informasi dan tersedianya beragam saluran komunikasi diharapkan menjadikan masyarakat semakin cerdas. Namun demikian, tak sedikit informasi yang memberikan dampak negatif.

Menyikapi itu Komisi I DPR RI bersama Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BPPPTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) giat menggelar sosialisasi terkait revolusi industri 4.0 dengan semangat kebangsaan.

“Revolusi industri 4.0 ini telah membuncahkan banyak saluran komunikasi dan tsunami informasi,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI Ahmad Hanafi Rais saat seminar bertajuk Merajut Nusantara bertema Pemanfaatan Media Sosial di Era Digital di Hotel King’s Wates, Kulonprogo pada Sabtu (14/7).

Revolusi industri 4.0 merupakan sistem yang mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri. Efek revolusi ini meningkatkan efisiensi produksi karena menggunakan teknologi digital, otomatisasi dan mengubah komposisi lapangan kerja.

Hanafi mengatakan, media massa belakangan banyak yang menjadi media partisan. Akibatnya, ketika jurnalisme yang dihadirkan itu tidak objektif, tak adil dan berpihak. Dalam istilah lain jurnalisme picisan atau jurnalisme mutilasi. Yakni dengan judul sama, tapi isi berbeda.

“Media seperti ini bisa ditinggalkan pembaca dan pemirsa karena kehilangan kepercayaan. Mereka memilih beralih ke media sosial karena berita yang ditampilkan lebih ekspresif dan lebih bebas,” ujar dia.

Fenomena revolusi industri 4.0 ini menjadi otokritik bagi media masa agar kembali ke jurnalisme yang benar, objektif dan adil. “Tegak lurus dengan akidah yang ada. Kalau bisa seperti itu media massa akan kembali menjadi rujukan dan tidak ditinggalkan masyarakat,” ingat anggota DPR dari Dapil DIY ini.

Dikatakan, di era digital memudahkan dalam banyak hal seperti bisnis, dakwah politik dan sekolah. Namun demikian, Hanafi mengingatkan, teknologi itu hanya alat bantu. “Jangan sampai teknologi malah mengendalikan kita. Revolusi industri 4.0 itu canggih. Tahu apa yang menjadi selera kita,” bebernya. (tom/mg1)