Berkendara di India di daratan harus ekstra sabar. Sebab, setiap melewati perempatan apalagi pasar dipastikan macet. Pengedara motor, mobil, angkot dan gerobak saling serobot, tidak ada yang mengalah. Belum kalau ada gerombolan sapi tiduran di tengah jalan. Wah..macet panjang karena tidak ada warga berani menghalau. Sapi oleh warga India dianggap binatang suci.

Memasuki kawasan perbatasan Nepal-India Rabu (5/11/2011) siang itu, suasananya sangat ramai. Ratusan kios menjual aneka barang, mulai kelontong kain, kerajinan tangan, sembako, sayur, buah, aneka dagangan, hingga jual beli atau tukar uang (money changer) ada di sini

Ratusan perempuan hilir mudik. Suasananya begitu semerawut dan berdebu. Ditambah terik menyengat siang itu. Belum lagi deretan truk antre di jalan tak jauh dari pasar.

Setelah berjalan beberapa meter dari Kantor Imigrasi Nepal yang sederhana ada tulisan Welcome to India. Tak jauh dari situ ada pos Imigrasi India. Seperti Kantor Imigrasi Nepal, bentuknya sangat sederhana. Tidak ada meja atau barang berharga di situ. Kelima petugas imigrasi yang berjaga duduk berderet di bangku panjang layaknya orang sedang berjualan. Sebagian bahkan sudah sepuh.

Bangunan imigrasi itu mirip toko yang ada di sekitarnya. Para petugas itu cukup ramah. Setelah menanyakan dari mana asal pengunjung, langsung memberi formulir. Setelah diisi dan dikembalikan, petugas tadi mencatat. Berkas distempel, selesai. Prosesnya tidak sampai lima menit. Benar-benar efektif.

Untuk menuju New Delhi dari Sunauli, kota perbatasan Nepal-India, menempuh perjalanan sekitar 875 kilometer. Dari Sunauli ke Locknow sekitar 375 kilometer. Disambung dari Lucknow ke New Delhi sekitar 500 kilometer. Sekadar perbandingan jarak Jakarta- Surabaya sekitar 700 kilometer.

Mobil yang kami tumpangi juga berganti. Jenis sedan. Tapi, sempat kisruh saat Sumo, sopir yang mengantar penulis dari Nepal, mencari agen sopir untuk membawa penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, ke India.

Sempat terjadi salah paham di antara mereka. Mungkin soal pembagian uang, atau ongkos, atau minta tambah ongkos, kami tidak paham.

Saya dan Hendra tidak terpancing atau ikut-ikutan. Sebab, hal-hal kecil bisa memicu masalah di sini. Biar mereka sendiri yang menyelesaikan. Akhirnya Sumo telepon orang yang memberi order di Nepal. Setelah tersambung telepon diberikan kepada agen sopir India tadi. Masalah beres.

Keluar Sunauli sekitar pukul 13.30 waktu setempat jalanan dilalui rata dengan hamparan sawah cukup luas di kiri kanannya. Setelah itu sopir menawari AC mobil dinyalakan. Tapi, syaratnya harus tambah ongkos sekitar Rp 1 juta. “Bukankah menyewa mobil satu paket termasuk AC,” tanya saya. “Tidak. Tidak,” jawab Abbas,38 tahun, sopir tadi.

Kami pikir ini hanya akal-akalan sopir cari tambahan uang. Apalagi, sebelum masuk India kami diminta hati-hati karena banyak modus penipuan di India. Anehnya, mereka merasa bangga kalau berhasil menipu orang.

Setelah berunding dengan Hendra Eka, akhirnya kami putuskan tidak pakai AC. Kami tidak mau diperas. Toh yang kepanasan bukan kami berdua saja, tapi sopir ikut merasakan. Reaksi sopir agaknya sedikit kecewa. Mungkin tidak menyangka kami menolak bayar uang tambahan untuk AC.

Jadi, perjalanan sepanjang 875 kilometer tanpa AC. Ya.. panas-panas sedikit tidak masalah. Tapi, kaca kami buka sedikit agar angin bisa masuk.

Jalanan selalu macet saat memasuki persimpangan jalan desa atau pasar. Semua tumpah ruah di situ. Apalagi, tidak ada yang mengalah dan main serobot. Antara mobil, riksa (sejenis becak), motor, bus, dan truk. Mereka tidak mau saling mengalah. Akhirnya, semua jadi semerawut.

Kondisi itu terjadi setiap kendaraan kami melintas di pasar atau persimpangan jalan yang dilewati mobil kami. Begitu juga saat memasuki kota besar seperti Gorakphur, yang memiliki peninggalan candi itu. Macet di jalanan makin tak terkendali. Hampir setiap sudut pasar atau kota macet. Di sini sopir mengajak rekannya untuk jadi sopir kedua. Karena jarak yang akan ditempuh cukup jauh. Namanya, Sanpranjh , 23 tahun.

Belum lagi adanya binatang sapi yang kadang keluyuran, duduk, bahkan tiduran secara bergerombol di tengah jalan. Namun, warga tidak ada yang berani mengusir, apalagi menganggu. Karena sapi dianggap warga Hindu India sebagai binatang keramat dan suci.

Baru setelah lepas Kota Gorakphur jalanan lumayan bagus. Jalan terdiri dua jalur. Masing-masing jalur berisi dua lajur itu sangat mulus. Hingga kendaraan bisa dipacu kecepatan 100 kilometer per jam.

Jalan itu cukup panjang mirip high way atau jalan tol, tapi tidak dipungut bayaran. Jalan itu membentang dari satu kota ke kota lainya. Mulai Gorakphur, Khartilapat, Mujahana, Ayodhya, Faizabad, sampai Lucknow.

Di tengah perjalanan pengendara sedikit terganggu dengan adanya beberapa jembatan belum jadi atau rusak. Hingga mobil harus keluar jalur, lalu masuk lagi.

Meski mirip high way, tak jarang ada mobil atau kendaraan lain maupun sepeda yang melawan arus. Bahkan, mereka umumnya mengambil kanan jalan. Sangat berbahaya. ‘’Makanya, kalau tidak hati-hati bisa tabrakan,’’ kata Abbas.
Setelah penulis perhatikan, sepanjang jalan itu tidak ada putaran layaknya U-turn di Indonesia.

Hanya ada perempatan. Karena itu supaya tidak terlalu jauh mencari perempatan tadi, pengendara yang akan menyeberang atau berpindah jalur biasanya mencari jalan pintas dengan melawan arus. Apakah itu motor, sepeda, traktor, atau bus. Ini sangat membahayakan pengendara yang melintas di depannya. Tapi, hal seperti ini sepertinya di India sudah terbiasa.

Saat memasuki high way mobil bisa dipacu antara sampai 120 kilometer per jam. Selain jalannya mulus, juga lurus. Hanya ya itu tadi, pengendara harus ekstra waspada menjelang memasuki kota. Sampai di Kota Lucknow sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Seperti saat memasuki kota lainnya, kondisinya macet dimana-mana. Suasana kota sangat ramai. Pedagang, pembeli, dan warga tumpah ruah dimana-mana. Jalan kendaraan merambat.

Selepas Lucknow jalanan mulus. Ada tulisan toll gate. Tapi, belum selesai. Pembangunan pintu gerbang juga masih dalam penyelesaian. Hingga kendaraan tak dipungut biaya. Kendaran pun bisa melaju cepat hingga 110 kilometer per jam. Tapi, panjang jalan hanya sekitar 50 kilometer lagi.

Karena sejak sore belum makan, kami mencari makan di warung atau restoran. Tapi, tidak banyak pilihan karena warung atau restoran umumnya bermenu vegetarian. Akhirya sopir Abbas membelokkan ke restoran vegetarian. Meski kurang berselera, kami terpaksa makan sekadar mengganjal perut yang mulai keroncongan.

Setelah itu kondisi jalan biasa saja. Ada yang bagus, tapi kadang ada yang rusak. Hingga laju kendaraan tidak stabil. Bahkan, sering terjadi antrean panjang saat melintas di rel kereta api maupun jalan yang rusak.

Tapi, sopir kami cukup cerdik terus melaju di depan. Hingga begitu rel dibuka langsung masuk ke depan antrean. Kalau tidak, perjalanan tambah lama. Mereka nyopir secara bergantian. Dua-duanya cukup bagus. Sanpranj, meski orangnya kecil, cukup kencang menjalankan kendaraan.

Sekitar pukul 03.00, mungkin karena mengantuk, Abbas memarkirkan mobilnya di sebuah warung. Dia lalu tertidur di depan kemudinya. Begitu juga sopir cadangannya. Polisi yang berjaga di depan warung terus mondar-mandir sambil menenteng senjata laras panjang.Dia mengamati mobil yang saya tumpangi. Sesekali mengarahkan senter ke mobil.

Sekitar 40 menit kemudian saya kencing. Begitu juga Hendra, dia keluar dari mobil untuk mencari angin. Polisi tadi dengan seorang warga mendekati kami. Tanya ini itu. Karena tidak paham bahasa setempat kami katakan dari Indonesia.

Mereka juga tak bisa bahasa Inggris. Akhirnya, sopir dibangunkan dan ditanya ini itu. Sopir hanya menjawab sambil lalu. Tapi, polisi muda tadi terus tanya ini itu. Sopir lalu memutuskan jalan daripada melayani pertanyaan yang tidak jelas dari petugas tadi.

Baru 15 menit perjalanan menjelang masuk kota New Delhi, mendadak ban kempes. Brak….begitu keras bunyinya. Sopir lalu meminggirkan mobil. Lampu sein dinyalakan. Ban belakang kanan ternyata gembos.

Sopir membuka bagasi untuk mengambil ban serep. Alamak! Ban cadangan juga gembos. “Kenapa ban cadangan tidak dicek,” tanya saya. “Maaf, kami lalai,” aku Abbas.

Padahal, suasana jalan saat itu gelap. Dan jauh dari permukiman. Akhirnya, Abbas memutuskan mencari keterangan dengan jalan kaki. Cukup lama kami tunggu akhirnya penulis menyusulnya, tapi tidak ketemu. Akhirnya Abbas muncul.

“Satu kilometer dari sini ada tambal ban,” kata Abbas. Ban yang bocor dibuka. Ternyata peleg agak bengkong mungkin kena batu. Akhirnya, saya sarankan bawa ban serep saja ke tukang tambal ban. Abbas setuju.

Kami cegat bus, truk, dan setiap kendaraan yang lewat. Tapi tidak ada yang berhenti. Akhirnya, saya sarankan jalan kaki sambil membawa ban. Penulis ikut menemani Abbas.

Saat jalan sambil menggelundungkan ban, penulis terus mencoba mencegat truk. Ternyata ada truk yang berhenti. Setelah dijelaskan akan mencari tambal ban, sopir truk tadi menyilakan kami menumpang. Ternyata tambal ban tak berjarak satu kilometer seperti keterangan Abbas sebelumnya. Tapi, lebih jauh. Sekitar 3 kilometer dari mobil yang penulis tumpangi.

Karena masih dini hari, tukang tambal masih tertidur. Ngorok. Saat mau saya bangunkan, dilarang Abbas. Lalu diam-diam Abbas memutar pembuka kran kompresor dan mengisikan angin ke ban cadangan yang kami bawa.

Sambil mengisi udra pada ban, mata Abbas terus menatap pemilik tambal ban yang tertidur pulas itu. Dalam hati penulis membatin, kelakukan Abbas ini mirip di film-film India yang marak di televisi itu. Saya jadi geli. Saat hendak balik kebetulan ada bajaj melintas. Setelah kami jelaskan bahwa ban mobil kami bocor, dia bersedia mengantar. Meski saat itu tidak satu jurusan.

Mobil terus meluncur. Menjelang 60 kilometer memasuki Kota New Delhi jalanan begitu mulus hingga bisa dipacu cukup kencang. Untuk mengusir kantuk, sopir kami membelokkan mobil di warung kopi. Pengunjung warung 100 persen laki-laki. Minum cai, teh dicampur susu kerbau dan roti canai. Meski kondisi warung sedikit kemproh, penulis nikmati saja. Karena penulis dan Hendra orang asing, mata pengunjung tertuju pada kami berdua.

Menjelang 25 kilometrer masuk New Delhi, Abbas menghentikan mobilnya lalu menyetop taksi. “Kalau masuk kota harus ada izinnya. Mobil ini tidak ada,” kata Abbas.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Kota New Delhi dengan taksi tadi. Jalanan di Delhi pagi itu, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, sepi. Karena hari itu merupakan libur nasional India yang bertepatan hari besar keagamaan negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Ini merupakan kali kedua saya masuk India. Sebelumnya, saya berusaha masuk India lewat Myanmar .

Setelah naik bus empat hari, empat malam dari Yangon, ibu kota Myanmar, ke Tamu, kota perbatasan Myanmar-India. Sesampainya di sana saya bermaksud menginap karena hari telah malam. Tapi, empat hotel yang ada di kota itu semua menolak. Alasannya, saya tidak membawa izin dari imigrasi Myanmar.

Malam itu penulis datangi Kantor Imigrasi Tamu. Tapi, malah diusir karena Tamu daerah tertutup untuk orang asing. Malam itu penulis dipaksa keluar Tamu dengan ojek sejauh 81 miles, atau empat jam perjalanan ke Kota Kalay.

Setelah menunggu 3 hari, surat izin imigrasi Myanmar belum juga keluar akhirnya penulis putuskan balik ke Yangon. Lalu terbang ke New Delhi.

Rencananya, setelah di India saya akan ke Manipur, kota India perbatasan dekat Tamu di Myanmar, yang pernah saya datangi. Tujuan penulis untuk menyambungkan perjalanan di perbatasan India-Myanmar.

Tapi karena terbang itulah penulis diminta redaksi Jawa Pos Surabaya mengulang rute haji jalan darat. Saya pun terbang ke Bangkok. Lalu haji lewat jalur darat di putar ke timur lewat Laos, Vietnam, Tiongkok, Tibet lalu masuk Nepal dan kini masuk ke India.

Saat memasuki hotel di kawasan Arakhasan Road, New Delhi, kami berdua dikira bapak anak. Penulis saat itu berusia 46 tahun, sedangkan Hendra Eka tergolong muda, 24 tahun. Mungkin karena selisih umur tadi kami berdua dikira bapak anak. “Tidak. Itu rekan saya satu kantor,” kata Hendra.

Tak hanya di India kami dikira bapak anak. Di Vietnam dan Tiongkok juga sama. Saat mengobrol dengan orang dalam satu perjalanan bus atau kereta api, kami sering ditanya apakah kami berdua sebagai bapak anak.

“Itu bapak Anda?” tanya seorang tukang sol di Hanoi pada Hendra saat menjahitkan sepatunya yang mengap. ‘’Tidak, itu bos saya,’’ canda Hendra. Kami pun bertiga tertawa lepas. (yog/bersambung)