MAGELANG – Wali Kota Sigit Widyonindito punya banyak cerita selama tujuh tahun memimpin Kota Magelang. Ia mengaku di awal pemerintahannya langsung diuji dengan terbakarnya Pasar Rejowinangun.

Pasar yang memiliki luas 2,5 hektare itu cukup berlarut penanganannya, dan baru diselesaikan tahun 2013. “Selama itu, sejak anak saya kuliah di Jogja hingga lulus, saya tidak berani masuk mal, apalagi makan di sana,” cerita Sigit.
Mal, menurutnya, memiliki nilai gengsi yang tinggi sehingga kawasan itu sempat menjadi tempat yang paling dijauhi. Ia tidak ingin memunculkan kesan di saat kedukaan itu muncul tanggapan miring dari masyarakat, apalagi dari media.

“Apa kata Radar Jogja, apa kata rakyat saya seandainya ada anggapan pasar belum dibangun kok wali kotanya ada di mal,” kata Sigit, seraya mengatakan selama itu dirinya merasa tersandera.

Namun, pelan tapi pasti semua rintangan itu diurai dan dicarikan jalan keluar, hingga bisa kembali seperti semula. Hal itu terus merembet ke beberapa pengembangan dan pembangunan yang dilakukan di beberapa lini. “Saya ingin menjadikan Magelang sebagai Singapura-nya Jawa Tengah,” kata Sigit.

Menjadikan semua ada di Magelang terus dilakukannya. Beberapa dukungan juga sudah mengarah ke hal itu. Di antaranya, rencana pembangunan jalan tol Bawen-Jogja maupun pengembangan kawasan ekonomi Borobudur. “Kami akan bersaing dengan Jogja, barangkali Magelang akan menjadi kota satelit,” tambahnya.

Harapan Sigit beralasan, karena secara khusus ia telah mempersiapkan instrumen pendukungnya dengan baik. Mulai dari jalan yang diperlebar hingga 20 meter, sampai penataan pedagang kaki lima yang tidak bergejolak.

Dia mengaku PKL-nya berani diadu dengan Kota Jogja. Layanan kepada konsumen pun disentuh langsung olehnya. Dirinya tidak ingin tamu yang datang ke Magelang akan dibuat kapok. “Saya langsung tangani PKL dan ajak mereka berlaku baik dengan siapa pun. Kalaupun nyusuki uang parkir itu ya tidak perlu berlama-lama dan sebagainya,” papar Sigit.

Cerita mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Magelang ini disampaikan saat menerima jajaran Jawa Pos Radar Jogja dalam undangan jamuan makan malam dan ramah tamah di rumah dinasnya, Pendopo Pengabdian, Kota Magelang, Sabtu malam (14/5). Para awak Radar Jogja berada di Kota Sejuta Bunga itu untuk mengadakan rapat kerja semester dua di Hotel Puri Asri.

Acara malam itu begitu terasa istimewa. Suasana terasa akrab dan semanak, hingga nyaris tidak berjarak. Tidak sendirian, wali kota mengajak beberapa pejabat teras Pemkot Magelang. Radar Jogja sendiri dipimpin General Manager Berchman Heroe dan diikuti pemimpin redaksi dan para manajer seluruh divisi, mulai redaksi, pemasaran, iklan, hingga keuangan. Juga tim online.

Wali Kota Sigit mengucapkan terima kasihnya atas turut sertanya Radar Jogja membantu jajarannya dalam upaya mencerdaskan masyarakat Kota Magelang dengan sajian pemberitaan.

Semuanya memberikan pencerahan dan motivasi menjadikan Kota Magelang lebih baik lagi. “Saya mengenal Pak GM (Berchman Heroe, Red) sudah lama, ya sekitar 20 tahun yang lalu,” kata Sigit.

Berchman Heroe mengatakan, Magelang menjadi perjalanan karirnya. Pihaknya juga ingin ke depan Radar Jogja bisa turut serta mewarnai perjalanan pembangunan Kota Magelang dengan porsi yang dimiliki.

Di akhir sambutan, Heroe menyerahkan kenang-kenangan berupa gambar karikatur sosok Sigit Widyonindito karya ilustrator Radar Jogja Herpri. Seluruh rangkaian kegiatan malam itu pun ditutup dengan berjoget diiringi lagu Gemu Famire. (udi/laz/mg1)