SLEMAN – Pengguna sabu-sabu mayoritas berasal dari kalangan pekerja kasar atau buruh. Salah satu alasannya, sabu diklaim meningkatkan stamina dan semangat kerja.

Kasubdit II Ditresnarkoba Polda DIJ AKBP Mardiyono mengatakan harga mahal tidak menjadi kendala. Para buruh kerap melakukan iuran untuk membeli sabu paket kecil.

“Klaimnya bisa membuat tidak lelah saat bekerja. Ini bukti bahwa sabu tidak hanya dikonsumsi kalangan atas. Saat kami mengajukan asesmen ke Badan Narkotika Nasional (BNN) ternyata juga didominasi buruh,” kata Mardiyono di Polda DIJ Senin (16/7)

Tim yang dipimpin Mardiyono menangkap enam tersangka pengguna sabu. Keenamnya ditangkap pada 5 Juli saat mengonsumsi sabu. Diawali penangkapan tersangka Ajie Murteja, 33, di Potorono, Bantul.

Usai menangkap Ajie, tim menangkap pengguna lain. Tersangka lain yang ditangkap, Nugroho Adi Wibowo, 32; Toni, 34; Dharma Yudha, 35; dan Sulistiono, 26.

Para pelaku mengaku mendapatkan sabu dari Klaten. Pembeli sabu seberat 0,5 gram adalah Ajie, Nugroho dan Sulistiono. Ketiganya mengonsumsi sabu di Klaten. Sisanya dikonsumsi di Jogjakarta.

Ketiganya mengajak ketiga temannya. Ditresnarkoba Polda DIJ menyita barang bukti plastik pembungkus sabu, sedotan, dan pipet kaca. Disita pula tiga korek api, lima gawai dan sebuah botol plastik.

Otak pesta sabu adalah Ajie. Guna mendapatkan 0,5 gram sabu, ketiganya menebus dengan harga Rp 600 ribu. Jajarannya tengah melacak jaringan pemasok asal Klaten.

Berdasarkan penuturan pelaku, barang didapatkan dengan pembelian langsung. Pelaku bertemu langsung dengan bandar.

“Belinya langsung face to face, bukan taruh alamat. Belinya di Kawasan Mindi, Klaten. Masih kami lacak pemasoknya. Dikenai Pasal 132 jo Pasal 112 subsider 127 ayat (1) UU 35/2009 dengan ancaman maksimal 15 tahun,” katanya. (dwi/iwa/mg1)