Usia Maryani menginjak 30 tahun. Anak pertama dari tiga bersaudara tersebut sejatinya gadis periang. Ketika masih duduk di bangku sekolah pun nilainya selalu bagus. Maryani juga kerap meraih prestasi. Kehidupan Maryani mulai berubah sejak ibu kandungnya meninggal dunia dan sang ayah menikah lagi.

Kondisi kejiwaan Maryani terganggu sejak dia tinggal bersama ibu tirinya. Menginjak kelas II SMK, Maryani pilih berhenti sekolah dan bekerja di Jakarta.
Perubahan demi perubahan tampak pada diri Maryani sejak pulang kampung 15 tahun lalu. Dia tak pernah lagi beraktivitas bersama teman sebaya. Tapi lebih sering mengurung diri dalam kamar. Makin lama, kehidupan Maryani kian jauh dari hiruk pikuk dunia.

Mulutnya seolah terkunci. Tidak ada lagi kalimat panjang terucap dari bibirnya. Tidak bertegur sapa dengan siapa pun. Jika butuh atau ingin sesuatu pun Maryani hanya memberi isyarat kepada anggota keluarga lainnya. Misalnya saat minta makan atau minum.

Gadis berkulit putih itu makan di dalam kamar. Sesekali keluar hanya untuk ke kamar mandi. Setelah itu, dunianya kembali ke ruang sempit seluas sembilan meter persegi yang gelap itu. Ya, tanpa lampu penerangan, pengap. Sejak bangun tidur, makan, lalu ke kamar mandi, balik ke kamar tidur. Begitu seterusnya, setiap hari.

Radar Jogja Senin (16/7) berkesempatan menemui Maryani. Ditemani sang ayah, Tukiyo, korden kamar dibuka lebar. Tampak pakaian bergelantungan tak rapi. Gadis berambut panjang acak-acakan terlihat menunduk lesu. Diam tanpa kata. “Dia (Maryani) emosi kalau melihat saya,” kata Tukiyo lantas menutup korden.

Selain melamun, Maryani ternyata punya kesibukan lain selama berada di dalam kamar. Yakni menjahit kain dengan tangan. Dia mengubah bentuk baju layaknya desainer. Memori kursus menjahit ketika masih sehat rupanya masih terpatri dalam pikiran Maryani.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan Tukiyo demi kesembuhan anak sulungnya. Tidak terhitung lagi upaya pengobatan baik secara medis maupun alternatif. Apalagi dia tak punya jaminan kesehatan keluarga. “Kalau bisa saya ungkapkan, harta benda sudah habis namun belum sembuh,” ucap Sukiyo yang sehari-hari berjualan lotis (semacam rujak).

Belakangan Tukiyo menerima kabar dari tenaga kesejahteraan sosial Kecamatan Nglipar. Tentang pengobatan gratis bagi Maryani. Itu terwujud kemarin.

Mobil pelat merah Dinas Sosial Gunungkidul terparkir di halaman rumah Tukiyo untuk membawa Maryani ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia di Pakem, Sleman. “Semoga upaya penyembuhan kali ini membuahkan hasil. Maryani bisa pulih seperti sediakala,” harapnya.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memang tak mau tinggal diam begitu mengetahui kehidupan warganya yang memilukan itu. Membawa ke rumah sakit jiwa merupakan langkah konkret pemerintah setempat membantu beban keluarga Tukiyo, sekaligus demi kesembuhan Maryani.

“Si anak juga tidak menolak. Tadi pamit mandi dan bersedia ikut kami,” ujar Kasi Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Gunungkidul Winarto.

Adapun pelayanan yang dilakukan merupakan bagian program rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Winarto mengaku senang karena upaya membawa Maryani ke Grhasia berlangsung tanpa rintangan.

Maryani akan dikembalikan kepada keluarga setelah kondisinya membaik. Diharapkan, setelah itu Maryani bisa beraktivitas normal.

Diakui, saat ini masih ada sedikitnya 15 warga Gunungkidul mengalami gangguan jiwa yang dipasung oleh keluarga masing-masing. Ini menjadi “PR” dinas sosial selanjutnya untuk menyukseskan program ODGJ di Gunungkidul. (yog/mg1)