SLEMAN – Sejumlah petani di Kecamatan Ngaglik mengalami kesulitan air untuk irigasi. Mereka pun membuat sumur bor secara swadaya untuk mengairi sawahnya.

Salah seorang petani Dusun Kadangan, Purwoharjo, Sukoharjo, Ngaglik, Ngalimin mengatakan air dari saluran irigasi menyusut. Tidak mencukupi untuk menyirami cabai dan kacang tanah yang dia tanam.

“Di sini sebenarnya ada saluran irigasi dari DAM Kali Kuning. Namun kini menyusut. Kami memilih memanfaatkan sumur bor,’’ kata Ngalimin.

Menyusutnya air dari saluran irigasi menyebabkan petani di dusunnya hanya mendapat jatah air tiga minggu sekali. Air dari saluran irigasi digilir untuk ribuan petani di berbagai blok di seluruh desa.

‘’Di dusun Kandangan sudah ada dua sumur bor bantuan pemerintah. Namun jumlah tersebut jauh dari cukup,’’ kata Ngalimin.

Petani pun membuat sumur bor secara swadaya. Ngalimin menanami cabai dan kacang tanah di lahan pertaniannya seluas 3.000 meter persegi.

Ngalimin berharap panen mendatang hasilnya memuaskan. Sehingga bisa menutup biaya pembuatan sumur yang mahal.

Salah seorang penyedia jasa gali sumur Yanto asal Gambiran, Umbulharjo, Kota Jogja mematok tarif Rp 300 ribu untuk membuat sumur bor sedalam 20 meter. Dia banyak mendapat orderan pembuatan sumur bor di lahan pertanian.

“Sudah beberapa waktu terakhir ini saya tidak berhenti membuat sumur. Selalu saja ada order. Sampai ngantre. Untuk lama pengerjaan tergantung lokasi. Ada yang sehari jadi, ada pula yang sampai lima hari karena tanah banyak batunya,’’ kata Yanto. (sky/iwa/mg1)