SLEMAN – Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada Muhammad Najib Azca mendorong kepolisian menguatkan peran intelijen. Adanya rentetan kejadian penangkapan dan penembakan terduga teroris menunjukkan Jogjakarta seolah menjadi lahan subur sel tidur terorisme.
Menurut dosen sosiologi ini, Jogjakarta bukanlah tempat baru bagi aktivis-aktivis pergerakan. Tak terkecuali gerakan yang mengatasnamakan jihad. “Ada sejak lama, meski sifatnya non aktif. Mereka semacam sel-sel tidur yang siap bangun kapan saja,” ungkap Najib, Minggu (15/7).

Adapun model pergerakan mereka rata-rata hampir sama. Bercorak kekerasan. Terutama untuk melawan pihak lain yang bertentangan dengan idealisme mereka, sehingga dianggap musuh.
Najib mengingatkan, sel tidur terorisme memiliki ancaman yang tinggi terhadap keamanan negara. Kelompok ini tidak segan menyerang, bahkan melukai kelompok yang berseberangan dengan idealisme mereka. Bahkan doktrin yang mereka tanamkan bagi anggota berupa menghalalkan kekerasan dan teror demi perjuangan. Meskipun konteks perjuangan yang mereka pahami sangat sempit. Analoginya berupa kondisi peperangan layaknya di kawasan Timur Tengah. Mereka lantas menyerang beberapa lokasi di Indonesia sebagai wujud balas dendam peperangan di Timur Tengah. Kontekstual peperangan bagi kelompok ini tidak terbatas teritorial, tapi perang global. “Dari sini saja sudah tidak tepat,” tegasnya.

Najib menekankan, peran intelijen seharusnya bisa menjadi langkah preventif dan preemtif potensi terorisme. Konsepnya pendeteksian dini benih-benih terorisme dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Langkah terkecil dengan mengenali lingkungan. Termasuk tetangga kanan dan kiri.
Langkah ini juga berfungsi mereduksi paham kekerasan. Tentunya dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Intensitas komunikasi perlu dijalankan dengan baik. Terutama kepada kelompok terduga teroris. Tugas intel mencari tahu seberapa jauh dan luas gerakan teroris di suatu wilayah. Termasuk Jogjakarta. “Intelijen itu cara yang paling ampuh dan efisien, terlebih sel tidur tidak bisa terdeteksi jika belum bergerak,” katanya.

Disahkannya Undang-Undang Terorisme menjadi palu gada bagi Polri dan TNI. Setidaknya bisa untuk meredam pergerakan yang lebih masif. Dengan begitu, pendeteksian jaringan terorisme bisa dilakukan tanpa harus menunggu timbulnya aksi terlebih dahulu.
Sejauh ini Najib belum bisa menyimpulkan afiliasi kelompok pelaku teror di Jogjakarta. Perlu ada sinkronisasi data dari kelompok teror di luar Jogjakarta. Termasuk kemungkinan adanya kelompok yang terindikasi ISIS atau jaringan teroris lainnya. “Terus terang data saya belum kuat karena masih di permukaan. Perlu kajian, riset, dan identifikasi kepada kelompok-kelompok pergerakan,” ujarnya.

Untuk mengungkap jaringan teroris, harus dilakukan pelacakan pola pergerakan. Baik itu berdasarkan data intelijen maupun hasil pengembangan pemeriksaan terhadap terduga teroris yang ditangkap.
Sementara itu, menyusul tewasnya tiga terduga teroris di Sardonoharjo, Ngaglik, masing-masing Sutrisno, Abdul Safei, dan Ghaniy Ridianto, anggota Densus 88 Antiteror Mabes Polri diperkirakan masih menginap di Jogjakarta tadi malam untuk pengembangan penyelidikan. Terlebih, ketiga orang tersebut diduga masih satu jaringan dengan terduga teroris yang diringkus di Mlati, Sleman serta Pleret dan Mrisi, Bantul pada Rabu (11/7).
“Mengenai apakah mereka akan melakukan aksi teror di Jogjakarta, kami belum tahu,” ujar Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yuliyanto.
Mantan Kapolres Sleman ini memastikan, seluruh penyidikan ditangani Densus 88. Polda DIJ hanya memberikan dukungan teknis dan non teknis. Termasuk saat penangkapan terduga teroris Sabtu (14/7).

Itu sebagaimana instruksi Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian. Setiap polda wajib membentuk Satgas Anti Kejahatan Jalanan. Peran unit ini sejatinya untuk pengamanan perhelatan Asian Games di Jakarta dan Palembang. Kendati demikian, keberadaan satgas tersebut tidak menutup kemungkinan untuk menangani kasus terorisme. Seperti penangkapan tiga teroris di Ngaglik. Densus 88 bergabung dengan Satgas Anti Kejahatan Jalanan.
Menurut Yuliyanto, peran satgas itu cukup krusial. Terlebih api Asian Games dari India akan mendarat pertama kali di Jogjakarta pada Selasa (17/7). Lalu keesokan harinya ada serangkaian seremonial di kawasan Candi Prambanan dan pawai di kawasan Tugu Jogja pada Kamis (19/7).
Atas pertimbangan inilah keamanan di Jogjakarta lebih ditingkatkan. Selain terorisme, anggota satgas bertugas memberantas kejahatan begal dan memastikan penyelenggaraan Asian Games di Indonesia kondusif. (dwi/yog/mg1)