JOGJA – Pemprov DIJ enggan menanggapi surat yang dilayangkan Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta GKR Koesmoertiyah Wandansari kepada Gubernur DIJ Hamengku Buwono X terkait penyelenggaraan Gelar Budaya Catur Sagatra 2018. “Itu kelihatannya problem internal kasunanan,” ungkap Sekprov DIJ Gatot Saptadi Minggu (14/7).

Gatot mengatakan, secara formal pemprov telah menyurati kasunanan. Pihaknya juga telah mendapatkan jawaban dari kasunanan. Soal isi jawabannya, Sekprov tidak bersedia merinci lebih jauh.

Tentang surat Gusti Moeng, sapaan akrab Koesmoertiyah, Gatot mengungkapkan, lebih menyoal pada kelembagaan di Keraton Surakarta. Lembaga yang mengikuti Catur Sagatra bukan yang dipimpin Gusti Moeng.

“Nyuwun sewu oleh Gusti Moeng (lembaga itu, Red) dianggap tidak kredibel. Lembaga yang sah adalah lembaga adat yang dipimpin Gusti Moeng. Kami memandang itu merupakan masalah internal,” ujarnya menanggapi materi surat dari putri Sinuhun Paku Buwono XII itu.

Dalam suratnya, Gusti Moeng mengingatkan kelembagaan adat terakhir dibentuk pada 2004 dan sampai sekarang masih sah dan menjalankan tugas-tugasnya. Dalam penyelenggaraan Gelar Budaya Catur Sagatra 2018, Dinas Kebudayaan DIJ sebagai penyelenggara tidak berkoordinasi dengan lembaga adat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun justru berkoordinasi dengan pihak-pihak di luar lembaga adat.

“Kami mohon Bapak Gubernur kiranya dapat memfasilitasi kami dari Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta dengan pihak penyelenggara untuk membahas lebih lanjut,” tulis Gusti Moeng dalam surat tertanggal 5 Juli 2018.

Di sisi lain, Gelar budaya Catur Sagatra 2018 akan dimulai nanti malam pukul 19.00. Acara tetap akan diadakan di halaman Bangsal Pagelaran Keraton Jogja. Catur Sagatra menampilkan tarian dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta serta Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman. Acara berlangsung dua hari hingga Senin (16/7).

Hari pertama acara diawali dengan penampilan Keraton Ngayogyakarta yang menyajikan bedhaya Arjuna Wiwaha dan beksan Gatutkaca Setija. Dilanjutkan Keraton Surakarta dengan bedhaya Daradasih serta beksan Handaka Bugis.
Giliran hari kedua Mangkunegaran menampilkan bedhaya Bedah Madiun dan beksan Wrekudara Bagadenta. Penutupnya bedhaya Kusuma Wilayajana dan beksan Tandya Taya dari Pakualaman.

Menyinggung sikap Pelaksana Tugas Bupati Mandrapura Kadipaten Mangkunegaran Supriyanto Waluyo yang menginginkan lokasi acara diadakan di bangsal atau pendapa semacam Bangsal Kepatihan, Gatot memahami dengan masukan tersebut. “Itu menjadi bahan pertimbangan,” kilahnya.

Namun demikian, Sekprov ingin menghargai semua pihak. Caranya dengan menjaga kultur dan aturan adat masing-masing. Lantaran acara diadakan di Jogja, dia tetap menghormati aturan di Keraton Jogja. Dengan demikian, tahun ini penyelenggaraan acara tetap dipusatkan di Pagelaran Keraton Jogja.

Tahun-tahun sebelumnya, panitia dari Dinas Kebudayaan DIJ membangun panggung di halaman Bangsal Pagelaran. Para penari dari Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, dan Pakualaman unjuk kebolehan di atas panggung itu.

Keberadaan panggung untuk menari bedhaya itulah yang disoal Supriyanto. Dia menyampaikan curhat saat bertemu pimpinan dan anggota Komisi D DPRD DIJ yang mengunjungi perpustakaan Mangkunegaran belum lama ini. (riz/kus/laz/mg1)