SUASANA Jalan Delima di Kampung Leles sore itu tampak berbeda. Ketika itu jam dinding menunjukkan pukul 16.00. Sepenggal jalan yang setiap pagi hingga siang hanya menjadi akses mobilitas warga setempat itu pun berubah fungsi menjelang senja. Ramai. Dipenuhi anak-anak. Jalan itu ditutup dua jam hingga pukul 18.00. Saat itulah anak-anak warga setempat berhamburan keluar rumah dan bermain di sepanjang jalan kampung itu. Tak satu pun anak pegang handphone. Apalagi bermain game di ponsel cerdas. Selama dua jam itu seluruh anak Kampung Leles dilarang bermain handphone. Sebagai gantinya, mereka diberi ruang bermain yang aman dan menyenangkan. Ya, setiap sore Jalan Delima berubah layaknya playground. Anak-anak bebas bermain di ruang terbuka di tengah kampung. Sebagian berlari-larian, ada pula yang bermain permainan tradisional. “Nggak masalah tak bisa main gawai lama-lama. Main bola di tanah lapang bareng teman-teman juga menyenangkan,” ucap Naufal, salah seorang anak Kampung Leles kepada Radar Jogja.

Ya, warga setempat menjadikan ajang sore setiap hari tak sekadar tradisi. Tapi diperkuat dengan regulasi. Nah, guna menjaga tradisi itu berjalan sebagaimana peruntukannya, warga setempat sepakat membentuk satuan tegas (satgas) perlindungan perempuan dan anak (PPA). Ada beberapa aturan yang harus dikawal tim satgas. Bukan hanya pembatasan penggunaan gawai di jam-jam tertentu. Anak berusia belum genap 18 tahun atau yang belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) dilarang mengendarai sepeda motor. “Pukul 19.00 – 21.00 itu jam wajib belajar anak. Saat itu anak belajar wajib didampingi orang tua, sehingga penggunaan ponsel dibatasi,” ujar Suyanto, ketua Satgas PPA RW 18 Kampung Leles.

Aturan tersebut dibuat bukan tanpa alasan. Semata-mata sebagai bentuk kepedulian warga terhadap anak-anak. Sebab, saat ini anak-anak bisa mengakses apa saja. Tak terkecuali internet atau pergaulan. “Kami berupaya mencegah kejahatan anak dengan tetap memenuhi hak mereka untuk bermain dan belajar. Supaya mereka tak berkeliaran, nglithih, atau ikut-ikutan geng,” tutur pria 62 tahun kelahiran Sukoharjo itu.

Total ada 39 anggota satgas. Mereka adalah orang-orang yang peduli. Gagasan warga Leles membentuk Satgas PPA mendapat sambutan positif pemerintah setempat. Para satgas bahkan diberi pelatihan dan arahan dari Pemkab Sleman maupun Pemdes Condongcatur. Mereka juga mendapatkan bantuan stimulan sebagai sarana sosialisasi di kalangan remaja, orang tua, maupun jamaah masjid.

Setiap Selasa dan Kamis rutin diadakan pengajian di kompleks setempat. Saat itulah Satgas PPA rutin mengingatkan warga tentang imunisasi anak-anak. Juga soal pembatasan penggunaan handphone pada anak. “Kalau ada anak naik sepeda motor sebelum waktunya dinasihati. Tanpa ada kekerasan,” ucapnya.

Keberadaan satgas ini ternyata bukan hal baru di Condongcatur. Bahkan sudah ada sejak 2015 lalu. Bermula ketika warga diminta mengisi kegiatan simulasi penghapusan kekerasan dalam rumah tangga di balai desa setempat. Simulasi itu berupa pertunjukan drama kolosal. Drama itu sebagai bentuk sosialisasi kepada warga ihwal tindakan yang boleh dan dilarang di dalam keluarga.

Tak disangka, pementasan itu mendapat aplaus Pemkab Sleman. Lebih dari itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak pun memberikan apresiasi. Pemdes Condongcatur kemudian menindaklanjuti dengan melegalisasi keberadaan Satgas PPA lewat surat keputusan.

“Adanya satgas itu persentase penggunaan handphone pada anak menurun,” klaim Ketua RW 18 Desa Condongcatur Paijan Trisno Harjono.

“Kalau pagi sampai siang anak sekolah, lalu tidur, bangun jam tiga sore diteruskan bermain. Di rumah pukul 18.00-21.00 anak belajar, dimonitor orang tua. Sehingga bisa menekan pemakaian handphone. Juga kenakalan remaja, kejahatan seksual, serta hal negative lainnya,” paparnya.

Seorang warga, Sukilah, mengamini pernyataan Paijan. Menurutnya, kepedulian warga kepada anak terbangun bukan hanya untuk anak mereka sendiri. Melainkan juga semua anak di kampung tersebut. “Istilahnya semua anak adalah anak kita,” ujar Sukilah.

Semisal ada warga yang mengingatkan anak orang lain, lanjut Sukilah, tidak ada yang marah atau tersinggung. “Saling mengingatkan yang baik untuk kebaikan,” ungkapnya. (yog/mg1)