BANTUL – Tak ingin menyumbang sampah lebih banyak, Bambang Vebrianto, 32, memilih untuk memanfaatkan serat alami untuk membuat kerajinan anyaman yang menarik.

Kerajinan yang dia produksi beragam, mulai dari tas wanita kekinian, karpet, alami, hiasan lampu, kotak pensil, pot, dan masih banyak lagi. “Ambil bahannya di sekitar saja. Tidak usah jauh-jauh. Manfaatkan apa yang ada,” jelasnya.

Namun, dia memilih hanya lima serat yang digunakan untuk membuat kerajinan, yakni gajih, eceng gondok, pelepah pisang, sigras, dan mendong. Serat-serat ini melalui proses yang cukup panjang, hingga akhirnya bisa dijadikan satu bahan yang kuat dan tahan lama. Ada lima orang karyawan yang dia rekrut untuk mengerjakan desain yang telah dirancang. Masing-masing menggeluti setiap bahan yang ada.

Dari seluruh kerajinan yang ada, anyaman serat berbentuk kubus merupakan yang paling sulit. Karena itu dibutuhkan ketekunan dan ketelitian untuk mengerjakannya. Jadi tidak heran jika harganya yang relatif mahal. Karena selain pengerjaannya lama, tenaga yang dibutuhkan juga minim.”Sehingga harganya bisa mencapai dua kali harga dari anyaman berbentuk lingkaran,’’ jelasnya.

Harga per item paling murah dibanderol dengan harga Rp 90 ribu hingga paling mahal sebesar Rp 685 ribu untuk karpet ukuran besar. Di antara semua serat yang ada, serat gajih merupakan yang paling mahal. Bukan tanpa alasan, karena serat tersebut tidak dianyam tapi ditenun. “Seratnya juga halus, jadi tingkat kesulitannya lumayan tingg. Kerap robek, atau patah,” katanya.

Peminat kerajinan ini datang dari seluruh kalangan, kalau di Indonesia sudah mengirim paling banyak ke Bali dan Jakarta. Kalau di mancanegara sudah mengirim ke Malaysia, Brunei, Korea Selatan, Belanda, Inggris, dan Perancis.
Kendati begitu, toko ini baru dibuka secara online dua bulan ini. Semula, dia berjualan online selama setahun, dengan nama Kerajinan Anyaman Yogya. Bambang mengatakan, toko offline dibuka karena banyaknya permintaan dari pelanggan untuk melihat langsung barang yang ada. “Terutama pelanggan dari mancanegara, mereka nggak mau barang online. Mereka mau melihat lebih dekat,” tegas Bambang. (ega/din/mg1)