Hanya sekitar 40 koleksi yang dipamerkan dari 300 lebih jumlah koleksi topeng yang dimilikinya. “Koleksi topeng saya dari yang tradisional sampai yang termodern itu dari Amerika,” ujarnya.

Tak hanya topeng untuk menari, Didik juga mengoleksi topeng berbagai superhero seperti Spiderman, Ironman, Batman, dan lain-lain. “Ndak cuma anak saya. Saya kan juga suka, keunikannya berbeda, yang penting topeng,” tambahnya.

Ke depan, Didik akan membuat House of Collection untuk mewadahi koleksi-koleksinya, serta memberi ruang interaksi untuk orang lain. Di rumahnya sudah ada orang yang datang melihat-lihat koleksinya. Tetapi karena rumahnya sempit, justru malah seperti gudang. “Jadi perlu dibuat ruang khusus. Bentuknya seperti apa belum ngerti,” tuturnya.

Dia punya misi khusus untuk proyeknya ini, yakni untuk memberikan pembelajaran pada siswa tarinya atau masyarakat luas yang tertarik. Alasannya, karena topeng menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia. “Bicara satu topeng saja sudah banyak yang dibahas, apalagi membandingkan topeng tiap daerah yang ciri khasnya berbeda. Topeng Jogja dengan Solo saja sudah beda,” jelasnya.

Apalagi, kata Didik, di Pulau Jawa sendiri sebagian besar tarian daerah memiliki topeng. Mulai dari Jogja, Banyuwangi, Cirebon, Ponorogo, dan lain-lain.

Sedangkan, di India dan Jepang misalnya, hanya memiliki satu jenis tarian yang menggunakan topeng.

Pameran ini juga dimeriahkan dengan penampilan 15 siswa Didik yang mengikuti program Belajar Bersama Maestro (BBM) dari Kemendikbud RI. Mereka membawakan tarian kreativitas mereka sendiri yang berjudul Sajiwa. Hasil dari selama dua minggu tinggal dan belajar di sanggar Didik. “Ada yang dari nol tidak bisa menari juga ikut. Ya saya membekmengmereka kesenian secara umum, supaya mengerti bermacam kesenian,” jelasnya.

mengatakan, dengan proses belajar seperti nyantri ini, membuat siswa lebih menyerap ilmu dari guru. Selain anak-anak BBM, ada juga penampilan dari Natya Lakshita, Kartini, dan kolaborasi Mila rosinta dan Tata ‘Pragina Gong’.
Dalam pameran ini tersebut sekaligus meluncurkan Yayasan Natya Lakshita Didik Nini Thowok. Yang membuat program kampung wisata budaya dan pasar Organik di daerah Bendung Kayangan, Kulonprogo. “Nah saya ingin ada belajar menari di situ (Kulonprogo) juga,” ungkapnya.

Sedangkan pasar organik Bendung Kayangan, hanya digelar setiap hari Minggu Legi. Didik mengaku mendapat ide dari sebuah kampung di Thailand, yang dibangun serupa miniatur Thailand. Di dalamnya terdapat rumah-rumah khas Thailand yang masing-masing menawarkan beragam kegiatan seni budaya. Didik menyebutkan, mulai dari embuat payung, menenun kain, belajar menari, hingga kuliner. (tif/din/mg1)