INTIP: Salah seorang mengunjung mencoba barang lawasan yang menarik untuk mereka beli. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)
(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

MERINDUKAN Jogja Tempoe Doeloe? Pas jika Anda berkunjung ke Pasar Kangen yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Acara ini menyajikan romansa nostalgia masa lalu. Mulai dari barang-barang lawasan, makanan tradisional hingga kesenian rakyat.

Setiap hari pengunjung memadati Pasar Kangen. Paling pas menikmati Pasar Kangen menjelang sore hingga malam hari. Diawali dengan jalan-jalan berburu kuliner lawasan di pelataran TBY. Berlanjut berburu barang lawasan di lantai bawah Gedung Concert Hall TBY.

“Kali ini ada 100 stan kuliner dan 80 stan barang lawasan. Pasar Kangen dibuka 7 Juli 2018. Berakhir besok Senin (16/7). Semuanya serba lawasan, silakan bernostalgia,” kata Kepala TBY Yuliana Eni Lestari Rahayu.

Berbagai kuliner tradisi tersaji. Rata-rata sulit ditemukan dalam keseharian. Sebut saja Songgo Buwono, merupakan makanan priyayi Keraton Jogjakarta. Pencetus makanan tersebut adalah Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Makanan tradisional lain ada sate kere, lupis, jenang gempol, apem, dan garang asem. Minuman tradisional beragam, jamu dan temulawak mudah ditemui di Pasar Kangen.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

“Bisa disambi melihat kesenian tradisional tiap sore sampai malam. Ada wayang bocah, ketoprak, dagelan mataram, emprak, wayang potehi, bangilon, hingga angguk,” kata Yuliana.

Bergeser ke stan barang lawasan, banyak barang yang menggoda. Beragam barang lawasan mulai majalah, kaset, sepatu, radio, kamera hingga sepeda kuno bisa dibeli. Adapula beragam keris dan tombak di stan sisi timur.

Meski berembel-embel lawas, beberapa di antaranya tetap bisa berfungsi. Sebut saja radio, pemutar vinyl (piringan hitam) hingga kamera lawas. Adapula yang sifatnya sebagai barang kolektor karena sudah tidak berfungsi.

Radar Jogja ada tips agar berburu barang lawasan lebih nyaman. Usahakan berburu sejak siang hingga sore. Alasannya, penerangan masih jelas sehingga memudahkan mengecek barang. Namun jika berburu bukan karena fungsi tidak ada salahnya berburu hingga malam hari.

Penggagas Pasar Kangen dan seniman Jogjakarta Ong Hari Wahyu menilai Jogjakarta merindukan masa-masa tempo doeloe. Terbukti even ini mampu mengundang pengunjung berbagai daerah. Bahkan kolektor barang lawas berdatangan dari berbagai wilayah.

“Biasanya berburu kaset pita hingga piringan hitam. Atau pernik-pernik lawas seperti setrika arang. Jangan salah, meski lawas harga barang-barang ini justru bisa lebih mahal dari barang baru. Karena nilai sejarah, kondisi dan umur barang memengaruhi harga,” kata Ong. (dwi/iwa/fn)