Perkembangan tren sepatu sneakers di Jogja terus meningkat seiring banyaknya komunitas-komunitas anak muda yang menekuninya. Pelaku usaha di dunia sepatu di Jogja Tirta Mandira Hudhi ingin mewadahinya melalui event-event sneakers.

Sole Vacation, adalah salah satu event sneakers yang dibuatnya. Kali ini acaranya digelar di Ambarrukmo Plaza dengan menggandeng para penjual sneakers dari merk lokal dan internasional. “Jarang yang ada yang mau memadukan brand luar dan lokal. Di sini 50 persen brand lokal semua,” jelasnya, Sabtu (14/7).

Menurut pemilik jasa perawatan sepatu Shoes and Care ini, bisnis kreatif di dunia sepatu akan banyak melibatkan banyak elemen. Mulai dari pembuat sepatu, desainer sepatu, fotografer, marketing dan lain-lain. Semuanya didominasi anak muda, meski masih banyak investornya di kalangan senior atau orang tua. “Bahkan BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) mendukung industri ini membentuk Indonesian Association Footwear Forum,” jelasnya.
Sebagai pemerhati dunia sepatu, dia melihat prospek sneakers dengan brand lokal akan bagus di masa depan. Mengingat harga sepatu brand luar akan semakin naik. “Beban Dolar yang meningkat, biaya kirim dan pajaknya yang tinggi, mau gak mau orang akan memilih brand lokal,” tutur pengusaha yang juga dokter ini.

Dia sangat optimistis brand lokal akan naik nantinya. Meski saat ini secara kualitas masih belum mengalahkan sneakers brand luar. Selain itu, keterbatasan modal untuk produksi. “Bisnis sepatu itu bisnis mahal, mesin sepatu saja harganya seperempat miliar,” ujarnya.

Namun, permintaan pasarnya cukup tinggi. Tirta berharap dengan adanya pemasaran melalui event seperti ini, daya beli masyarakat meningkat dan lebih menghargai originalitas dari sebuah brand. “Yang penting pemasaran online-nya jalan terus dan rajin mengedukasi konsumen,” tandasnya.

Beberapa brand sneakers lokal memang belum banyak, apalagi di Jogja. Namun kalau sepatu kulit sudah tak asing lagi. Bahkan sudah ada sentranya di Manding, Bantul. Sedangkan sneakers masih didominasi Bandung seperti NAH Project, salah satu partisipan Sole Vacation.

Brand sneakers lokal yang didirikan Rizky Arief itu baru berusia 10 bulan. Namun dalam satu bulan bisa 2.000 pasang yang diproduksi, dengan harga yang cukup terjangkau yakni Rp 300.000 sampai Rp 400.000. Pengalamannya menjadi staff marketing di sebuah perusahaan sepatu, membuatnya percaya diri untuk memiliki usaha sepatu sendiri. “Saya tertarik bikin karena melihat beberapa tahun terkahir sneakers jadi tren yang digeluti anak muda banget, tapi dengan hype brand luar,” ungkapnya.

Namun dia mengakui merintis bisnis sepatu tidaklah mudah. Butuh keahlian khusus, jaringan yang cukup kuat, dan proses risetnya lumayan mahal.

Rizky mengajak warga Jogja untuk berani membuat brand sneakers lokal dan siap bersaing dengan brand luar. Dia menekankan, mendekati influencer sosial media juga penting untuk menjaring pasar. “Perbanyak wawasan, jangan takut bikin yang unik, jangan takut kolaborasi sama brand lain,” pesannya. (tif/din/mg1)