PELAKU klithih di Jogjakarta umumnya remaja laki-laki berusia 12-21 tahun. Mereka menyasar korban laki-laki pula. Namun, tak sedikit perempuan direkrut menjadi anggota geng dengan seleksi ketat. Mereka dikumpulkan, lalu disuruh duel satu lawan satu. Sang pemenang berhak masuk dan menempati posisi bergengsi. Sedangkan yang kalah hanya jadi penggembira. “Ada seorang perempuan berkarakter tomboi yang lolos perekrutan anggota geng,” ungkap peneliti Lembaga Penelitian Khusus Anak (LPKA) UGM Arum Febriani Kamis (12/7). Setidaknya itulah hasil riset LPKA terhadap anggota geng sekolah di Jogjakarta. Fokus penelitian menyasar siswa SMA dan SMK yang tingkat aktivitas gengnya dinilai tinggi.

Adapun aspek penelitian LPKA meliputi kecerdasan, kematangan emosi, intensi agresi, konsep diri, hubungan dalam keluarga, hubungan dengan teman dan kelompok, serta riwayat tindak kekerasan.

Dari hasil penelitianditemukan pola yang sama. Yakni, disfungsi keluarga, konsep diri, dan emosi yang belum matang, serta pengalaman kekerasan fisik. Seseorang cenderung kebal dengan kekerasan di luar jika dia mendapatkan hal serupa secara fisik di dalam keluarga. Terlebih jika kontrol orang tuanya lemah.
“Saya tidak mengatakan semua keluarga broken home begitu. Namun untuk kasus mereka, ayah dan ibu tidak berperan selayaknya orang tua,” jelas Arum.

Ketertarikan anak-anak tersebut bergabung ke dalam geng karena melihat adanya nasib yang sama, konformitas, komitmen kelompok, dan untuk aktualisasi diri. Sebagian besar dari mereka tidak tahu mau jadi apa ketika ditanya cita-cita. “Emosi dan agresi mereka sangat tinggi. Saat diminta menggambar, semuanya pasti menggambar senjata tajam, misalnya pedang atau gir,” ungkap Arum.

Solidaritas kelompok yang tinggi membuat mereka berani mati untuk kelompoknya. “Masuk penjara bagi mereka nggak apa-apa. Karena keluar penjara bisa jadi pimpinan,” lanjutnya.

Kendati demikian, ungkap Arum, anak-anak yang dipenjara mengaku merindukan sosok ayah. Rindu mendengar suara ayahnya dan merasa bahagia saat dijenguk dan dipeluk ibunya. “Kami melihat ada luka batin. Sebenarnya mereka juga korban kasih sayang di rumah,” katanya.

Arum menegaskan, fenomena klithih harus diputus supaya tak menimbulkan transmisi intergenerasi. Karena ada kecenderungan peaku klithih kelak mendidik anak-anaknya seperti yang mereka alami saat ini. Anak mereka pun bisa jadi meniru perilaku orang tuanya.

Perwakilan Balai Dikmen Kota Jogja, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Sudarmadi mengatakan, lembaganya membatasi kegiatan kompetisi antarsekolah nonpemerintah. Alasannya, banyak event tersebut justru memancing perkelahian antargeng sekolah usai pertandingan. Misalnya, kompetisi futsal PAF yang kini sudah dibekukan. “Sudah dilarang membuat event lomba kalau tidak benar-benar untuk mendongkrak prestasi siswa,” katanya.

Sejak 2012, lanjut Sudarmaji, Disdikpora bekerjasama dengan psikolog, kepolisian, dan Badan Narkotika Nasional untuk pembinaan informal di sekolah-sekolah. “Keberadaan klithih di kota pun berkurang. Tapi mereka lalu lari ke Jalan Imogiri, Pakem, Gamping, dan lain-lain,” ungkapnya.

Pernyataan Sudarmaji disayangkan Ady Laksono. Peserta diskusi yang mengaku bekas anggota geng SMKN 1 Jetis itu menilai, ajang kompetisi olahraga atau musik antarsekolah justru bisa menjadi agenda positif. Asal dengan aturan dan ketentuan tegas.

“Bisa mencontoh dangdutan. Kalau gelut didenda Rp 50 juta,” ungkap Ady yang ketika sekolah sepakat tidak nglithih ke tim sekolah lain karena takut didiskualifikasi.

Ady mengakui, di dalam geng ada solidaritas yang tinggi. “Ketok wangun. Yang saya rasakan teman-teman itu butuh eksistensi,” ujarnya kepada Radar Jogja.

Memasuki akhir tahun sekolah, Ady memutuskan keluar geng karena menemukan ruang kegiatan positif dalam kegiatan lomba dan beragam event. Dia menyebutkan, kegiatan pokok geng itu klithih dan aksi vandalisme. Menurutnya, vandalisme bisa dibawa ke arah positif jika ada pihak yang memfasilitasi. Misalnya, ajang mural. Ketua OSIS SMAN 2 Sleman Muhammad Nur Yahya turut menyuarakan pendapatnya. Menurutnya, anak-anak yang terlibat geng harus diberi kepercayaan sekolah untuk melakukan suatu kegiatan.

“Teman saya yang anak geng bilang ingin jadi seperti saya, yang bisa diklat dan kunjungan ke mana-mana,” ungkapnya.

Sementara itu, Dirbinmas Polda DIJ Kombes Pol Rudi Heru Susanto mengaku pernah menjadi pelaku klithih sewaktu SMA. Dia menyinggung volume waktu anak bertatap muka di sekolah yang lebih banyak daripada dengan orangtua. “Kalau saling tunjuk-tunjukan siapa yang salah tidak selesai. Solusi harus dari keluarga, sekolah, polisi, bahkan tempat bermain,” tuturnya. (tif/yog/fn)