Zaenap tampak centil saat melenggak-lenggok di atas lantai. Pernak-pernik busana yang dikenakan tak memuatnya ribet saat bergoyang. Itulah salah satu penampil ajang Kontes Robot Indonesia di UMY  Rabu (12/7).
MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

BULU mata dan make-up wajah membuat Zaenap tampak makin memesona. Pun demikian berbagai aksesori yang menempel di pakaiannya. Seperti sayap yang mengepak-ngepak layaknya burung. Demikian pula si Juna, yang tampak gagah mendampingi Zaenap. Keduanya sukses merangsang aplaus para penonton saat tampil menari remo, tarian tradisional kas Jawa Timur.

Itulah dua penari hasil kreasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Zaenap dan Juna adalah robot berbentuk semacam wayang golek yang diusung tim Alfan, delegasi UGM, dalam kontes robot Indonesia di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kamis (12/7).

Gerakan Zaenap dan Juna tentu saja tak segemulai penari manusia. Gerakan mereka patah-patah. Namun tetap tak menghilangkan unsur dan ragam gerak tarian remo. Keduanya disokong baterai yang mampu bertahan selama setengah jam. Makanya, gerakan tari remo yang berdurasi dua menit lebih 40 detik pun tak jadi persoalan. “Digerakkan dengan program software dan sensor,” jelas Deffa Rahadiyan,19, anggota tim Alfan.

Butuh waktu setengah tahun bagi tim Alfan untuk membuat Zaenap dan Juna hingga bisa menjadi penari ulung. Semua dikerjakan detail dan teliti. Mulai desain kerangka, hingga tampilan luarnya. “Butuh berpuluh-puluh ribu garis program untuk robot itu untuk menyelesaikan tarian,” timpal Yusron Maulana, 21, anggota tim Alfan lainnya.

Untuk menyelesaikan sebuah robot dibutuhkan beberapa disiplin ilmu. Seperti elektronika instrumentasi, teknik informatika, teknik elektro, mesin, dan pemograman.

Kontes robot kali ini bukanlah yang pertama bagi tim Alfan. April lalu mereka bahkan sukses memenangi kontes robot di Amerika Serikat. Di ajang kontes RoboCup tersebut mereka meraih juara pertama dan kedua. (yog/fn)