AKBP YULIANTO Kabid Humas Polda DIJ

SLEMAN – Tak lebih 12 jam polisi memulangkan dua istri dan ketiga anak Saefulloh, terduga teroris yang mengontrak di salah satu rumah warga Dusun Bedingin Wetan, Sumberadi, Mlati, Sleman. “Rabu (11/7) malam sekitar pukul 22.00 mereka dipulangkan ke kontrakan,” ungkap Ketua RT 05/RW 35 Bedingin Wetan Sumarjono Kamis (12/7).

Sumarjono mengetahui hal itu dari pesan singkat handphone-nya. Ketika itu dia sedang menggelar rapat RT. Sumarjono lantas mendatangi rumah kontrakan Saefulloh malam itu juga. Beberapa polisi mengantarkan keluarga Saefulloh. Sedangkan Saefulloh masih harus menjalani pemeriksaan densus. “Yang menjemput dan memulangkan mereka kurang lebih sama personelnya,” kata Sumarjono.

Kemarin siang Sumarjono menyambangi rumah kontrakan Saefulloh. Saat itu pintu rumah terkunci dari dalam. Beberapa kali Sumarjono mengucapkan salam. Tak berapa lama salam dibalas oleh AFR,19, anak kedua Saefulloh, seraya membukakan pintu.

Keduanya lantas mengobrol di depan pintu. Sumarjono menanyakan kondisi keluarga Saefulloh usai diperiksa polisi. AFR menjawab jika seluruhnya sehat. Sumarjono juga menanyakan data kartu keluarga (KK) dan anggota keluarga yang dibawa polisi. Dari situ Sumarjono mendapat informasi bahwa selain Saefulloh, polisi menjemput dua istri terduga teroris itu, berikut tiga anaknya.

Termasuk AFR dan anak bungsu yang masih bayi. Seorang anak laki-laki Saefulloh tak ikut dijemput polisi karena berada di pondok pesantren. Mengenai data KK, menurut Sumarjono, hanya anak bayi Saefulloh yang belum masuk daftar. Dia pun meminta AFR untuk memperbaharui KK di tempat asal pembuatannya.

“Mungkin mereka hanya masih syok. Makanya belum bersedia ditemui (media, Red) dahulu. Tadi saya juga mendengar anak bayinya (Saefulloh, Red) menangis,” ungkapnya.

Lebih lanjut Sumarjono mengatakan, penangkapan Saefulloh cukup membuat warganya resah. Kendati demikian, dia memastikan situasi lingkungan aman dan kondusif. Terlebih tak ada temuan bahan peledak atau kimia di rumah kontrakan Saefulloh, sebagaimana umumnya rumah hunian terduga teroris lainnya. “Memang ada beberapa warga yang menolak (keluarga Saefulloh, Red) secara halus dan berharap mereka pindah. Tapi nanti dululah,” ujar Sumarjono. Dia malah mengingatkan pemilik kontrakan agar melibatkan penghuni kontrakannya dalam setiap kegiatan warga. Supaya para pendatang juga berinteraksi dengan tetangga.

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yuliyanto memastikan bukan hanya Saefulloh yang ditangkap Densus 88 pada Rabu (11/7). Total ada empat terduga teroris. Kendati demikian, Yuliyanto enggan berkomentar terkait penangkapan terduga teroris di wilayah Jogjakarta.

Pantauan Radar Jogja menunjukkan ada rentetan penangkapan terduga teroris. Selain di Bedingin Wetan, Densus 88 juga menggerebek rumah dan menangkap dua terduga teroris di wilayah Bantul. masing-masing di Dusun Mrisi, Tirtonirmolo dan Dusun Kerto, Pleret. “Benar ada empat terduga teroris. Semuanya ditangani Densus 88 Mabes Polri,” katanya. (dwi/yog/fn)

Penggerebekan Densus 88 di dua lokasi Rabu (11/7) cukup mengagetkan. Terutama, bagi tetangga dua terduga teroris yang kini diterbangkan ke Jakarta. Gutomo, 31, misalnya. Terduga teroris yang sejak tiga tahun terakhir menghuni rumah kontrakan di RT 09 Dusun Kerto, Pleret di mata tetangganya dikenal sebagai sosok tertutup.

”Jarang bergaul. Juga jarang menyapa tetangga,” tutur Ketua RT 09 Dusun Kerto, Pleret Sigit Susanto Rabu (12/7).

Menurutnya, Gutomo tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Sehari-hari, pria ber-KTP RT 05 Dusun Menukan, Bangunharjo, Sewon tersebut berprofesi sebagai pembuat panah. Dijual melalui situs jual beli online.

”Setelah saya telusuri (di berbagai situs jual beli, Red) tidak ada,” ucap Sigit mengungkapkan bahwa mata panah yang dijual Gutomo tajam.

Beberapa waktu lalu, Sigit menceritakan, beberapa personel polisi sempat meminta seluruh pengontrak di RT 09. Saat itu mereka meminta dirinya meningkatkan kewaspadaan.

”Saat itu tidak curiga. Lha kok sekarang digerebek,” katanya.

Tetangga Maryanto, terduga teroris yang diamankan di rumahnya yang terletak di RT 08 Dusu Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan juga tak kalah kaget.

”Orangnya ramah dan pekerja keras,” tutur Suryanti, seorang tetangga Maryanto.

Sehari-hari, kata dia, Maryanto berprofesi sebagai juragan bakso tusuk. Dia juga memiliki beberapa karyawan.

”Dia juga pekerja keras,” katanya. (ega/cr6/zam/fn)