JOGJA – Lima pasar tradisional di Kota Jogja tahun ini menerapkan penarikan retribusi melalui Quick Response Code (QR Code). Pencatatan secara digital tersebut sebagai upaya transparansi penarikan retribusi pasar.

“Eranya sekarang tidak lagi slintutan (sembunyi-sembunyi), tuntutannya transparansi,” ujar Wakil Wali (Wawali) Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) saat meresmikan Pemungutan Retribusi Pelayanan Pasar Berbasis QR Code di Pasar Gedongkuning Rabu (11/7).

Menurut dia pemanfaatan QR Code tidak memungkinkan pemalsuan data. Sehingga seluruh retribusi pasar yang dibayarkan pedagang masuk ke kas daerah.

HP menambahkan pemanfaatan teknologi merupakan keniscayaan. Termasuk oleh para pedagang pasar tradisional di Kota Jogja. Meski beberapa pedagang merupakan orang tua, HP meminta supaya mereka juga melek teknologi. Termasuk bagi anak dan cucunya yang bertugas mengajari. “Kalau ada grup media sosial, minimal ada anak atau cucu yang ikut sehingga bisa memberi tahu,” pinta HP.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja Maryustion Tonang menambahkan tujuan penerapan QR Code adalah bagian dari revitalisasi pasar tradisional Kota Jogja. Revitalisasi tidak hanya fisiknya tapi juga manajemen.

“Kami ingin memberikan pelayanan cepat, selain juga karena keterbatasan SDM petugas pemungut,” kata Tion, sapaan Maryustion.

Dia mengatakan sistem pencatatan pembayaran dengan QR code tersebut melengkapi pembayaran retribusi secara elektronik atau e-retribusi. Dengan sistem tersebut petugas tinggal membawa smartphone untuk memindai QR code di Buku Ketetapan Pembayaran Retribusi (BKPR) tiap pedagang.

“Begitu di-scan data sudah terbaca di kantor Disperindag di Pasar Beringharjo,” ujar Tion.

Saat ini penerapan pencatatan retribusi dengan QR Code baru diaplikasikan di Pasar Gedongkuning. Pasar ini terdapat sebanyak 189 pedagang.

Juga diterapkan di Pasar Ngasem yang memiliki 355 pedagang, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy) dengan 408 pedagang, Pasar Talok dengan 135 pedagang dan Pasar Karangwaru yang memiliki 122 pedagang.

Pada kelima pasar tradisional tersebut juga dipasang monitor yang menampilkan data pedagang. “Ini juga untuk memotivasi pedagang agar tertib membayar retribusi,” kata Tion. (pra/iwa/fn)