GUNUNGKIDUL – Bupati Gunungkidul Badingah terus menyoroti perkembangan dampak kekeringan di wilayahnya. Termasuk penyaluran bantuan droping air agar tepat sasaran. Terutama bantuan dari pihak ketiga.
“Bantuan teman-teman swasta bisa dari perusahaan, yayasan, atau sekolah yang mau memberi bantuan hendaknya dikoordinasikan terlebih dahulu,” pinta Badingah saat dihubungi Rabu (11/7).

Biasanya, kata dia, bantuan pihak ketiga selama musim kemarau banyak yang berdatangan. Tak jarang terjadi tumpang tindih dalam penyaluran bantuan. Oleh sebab itu, sebaiknya penyaluran bantuan disesuaikan dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Saling koordinasi begitu,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, droping air dari pihak swasta diperbolehkan, selama telah berkoordinasi. Adapun tujuan koordinasi tersebut adalah untuk menghindari adanya penumpukan droping air di wilayah tertentu.

“Dikhawatirkan nanti satu tempat sudah didroping terus dapat droping lagi. Sementara tempat lain yang juga membutuhkan malah belum,” katanya.
Edy menyebut hingga sekarang ada 11 kecamatan yang mengalami kekurangan air. Meliputi, Nglipar, Girisubo, Paliyan, Panggang, Purwosari, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, Ngawen, Ponjong dan Gedangsari.

“Sementara warga terdampak mencapai 31607 Kepala Keluarga (KK) dan 96.523 jiwa,” ungkapnya.

Fenomena menghilangnya air dari permukaan disebabkan sejumlah faktor. Pertama, akibat musim kemarau yang terjadi sejak awal bulan Mei 2018. Beberapa wilayah terkendala letak geografis menyebabkan dari pihak PDAM distribusi sulit sampai di titik warga.

“Upaya kami sejauh ini, TRC (tim rekasi cepat) BPBD Gunungkidul melakukan distribusi air bersih sejak Juni sampai dengan selesai. Menyediakan sebanyak 24 tangki air bersih 5000 liter hari, dengan target 3.360 tangki air bersih,” ujarnya. (gun/zam/fn)