Penulis mencapai puncak Pengunungan Himalaya saat melakukan perjalanan haji jalur darat dari Tingri ke Zhangmu di perbatasan Tiongkok-Nepal. Hujan salju mengiringi laju mobil yang penulis tumpangi saat jalan menanjak.

Bongkahan salju ada di kiri dan kanan jalan. Tak sabar penulis pun turun dari mobil, ingin merasakan hujan dan bongkahan salju yang bertebaran. Begitu indah, lembut, dan dingin.

Malam itu Tingri begitu dinginnya. Dua selimut tebal pun tak mampu mengusir hawa dingin yang menyergap tubuh penulis. Padahal, kaus sudah dirangkap jaket. Suhu udara ketika itu 3 derajat Celsius.

Namun pukul 06.00 waktu setempat saya dan Eca, sapaan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, harus sudah bangun untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Pukul 06.00 di Tiongkok hampir sama dengan Subuh di Indonesia karena langit masih gelap. Pukul 07.00 rencananya kami harus bersiap ke Zhangmu, kota perbatasan Tiongkok, dekat Nepal.

Pukul.07.00 Kalsang, pemandu penulis, dan Liu, sopir kami, belum muncul. Penulis teriaki dekat kamar mereka agar cepat bangun. Pukul 07.30, Kalsang baru muncul, dan mobil sejenis minivan sudah dipanasi.

Tapi, saat keluar hotel penjaga dan pemiliknya masih tertidur karena hari memang masih gelap. Setelah kami cari, ketemu pelayan hotel yang masih tertidur. Pintu gerbang dibuka. Tapi, Liu ingin sarapan di restoran dekat hotel kami menginap. Sebab, dalam perjalanan nyaris tidak ada warung karena memang melewati Pegunungan Himalaya yang sepi. Tidak ada permukiman.

Sepagi itu restoran di Tingri yang umumnya dimiliki orang-orang dari Chengdu, ibu kota Sichuan, sudah buka. Menu pagi itu hanya berupa mi, tapi porsinya mangkuk besar. Karena tidak biasa sarapan pagi, saya hanya pesan telur goreng dan teh hangat.

Suku-suku Tiongkok pendatang di luar Tibet konon yang kini menguasai ekonomi di kawasan itu. Khususnya suku Han. Mereka semula berdagang, lalu menetap di Lhasa. Sejak dibukanya jalur kereta api ke Tibet banyak warga Tiongkok non Tibet masuk sampai ke pelosok, termasuk di kota kecil Tingri.
Saat hendak meninggalkan warung, saya dan Hendra Eka yang mbayari. Tapi, Kalsang menolak halus. Alasannya, sebagai guide sudah disediakan anggaran untuk makan sendiri. Tapi, kami orang Indonesia tak biasa bayar sendiri-sendiri. Apalagi sudah melakukan perjalanan berhari-hari bersama. Hendra pun memaksa mbayari. Akhirnya Kalsang tak bisa menolak.

Tapi, oleh pemilik warung, Kalsang digratiskan. Alasannya, itu sebagai fee karena Kalsang telah membawa tamu atau turis asing ke warungnya. “Kalau bawa turis dan kebetulan lewat Tingri, jangan lupa mampir ke warung kami lagi,’’ ujar pemilik warung sangat sopan. Kalsang pun mengiyakan.

Senin (3/10/2011) sekitar pukul 08.00 kami meninggalkan Tingri. Terlihat beberapa rombongan turis, bahkan para turis pengendara sepeda pancal juga bersiap menuju Zhangmu.

Satu kilometer dari Tingri ada pos tentara pemeriksa izin masuk kota Zhangmu. Baik turis lokal maupun asing antre yang dilayani dua petugas. Kalsang sempat adu mulut dengan orang yang sama-sama antre. Dikira kami menyerobot.
Padahal, Liu lebih dulu antre. Sebaliknya, pengantre yang membawa rombongan tadi membuka barisan baru. Tak ayal terjadi uyel-uyelan di depan loket. Itu memicu adu mulut tadi. Tapi, tak sampai baku pukul. Pemeriksaan berakhir setelah setengah jam karena pengantre cukup banyak. Khusus turis asing, selain harus ada izin masuk wajib didampingi guide atau pemandu setempat.

Selepas Tingri jalanan begitu mulus, menanjak dan berliku-liku melewati gunung batu dan sabana. Sesekali melewati permukiman warga Tibet yang umumnya sederhana. Terbuat dari tatakan sejenis batu bata dari tanah.

Umumnya berbentuk kotak mirip benteng dan pendek. Tidak ada ventilasi. Semua jendela rumah tertutup, tapi ada cerobong pembuangan asap agar tidak sesak saat memasak atau menghangatkan tubuh. Saat musim dingin atau malam mereka bikin perapian di dalam rumah.

Melewati permukiman warga pengendara harus bersabar. Sebab, sesekali warga setempat melintas dengan serombongan ternak mereka hingga memenuhi jalan. Meski dibel berkali-kali, tetap saja tidak mau minggir.

Jalanan terus menanjak, bahkan turun hujan salju mulai seperti kapas beterbangan sampai deras dengan gumpalan salju cukup besar. Tampak dua rombongan turis bersepeda pancal dengan susah payah melewati jalan menanjak itu. Lima di depan, sedangkan tiga pengendara yang berjaket dan bertopi menyusul di belakang. Para pesepeda mengayuh pedal di bawah guyuran hujan salju. Saya tidak membayangkan betapa berat dan dinginnya mereka mengayuh sepeda. Selain harus melawan udara, jalan menanjak, juga tipisnya udara. Tapi, bagi peng-gowes sejati justru itu tantangan yang harus ditaklukkan. Khususnya menaklukkan diri sendiri menghadapi kendala berat saat bersepeda.

Penulis yang duduk manis di mobil saja merasa kedinginan akibat temperatur hampir nol derajat Celsius. Bahkan beberapa kali mengalami kram di kaki. Cuaca cukup dingin. Maklum, jalan yang kami lintasi berada di ketinggian 5.200 meter di atas permukaan laut. Puncak Pass Himalaya. Mungkin ini jalan beraspal tertinggi di dunia.

Bahkan beberapa bukit yang dipenuhi bongkahan salju berada di bawah jalan yang kami lalui. Benar-benar indah. Sulit melukiskan dengan kata-kata. Saking indahnya.

Penulis dan Hendra berhenti sejenak di puncak jalan yang kami lalui. Salju terhampar luas di perbukitan dengan latar belakang salju abadi di beberapa puncak Gunung Himalaya. Banyak pengendara yang melintas di wilayah ini juga berhenti sekadar foto dengan salju abadi Himalaya.

Ini juga kali pertama penulis melihat hamparan salju begitu luas dan bisa melihat, memegang, serta merasakannya langsung begitu dinginnya salju.
Sebelumnya, saat di Afghanistan 2001 silam, penulis hanya bisa merasakan salju saat mencair atau gletser. Sedangkan saat di Muray, daerah dekat Punjab, wilayah Pakistan, yang berbatasan dengan India, saat itu salju belum turun, meski cuaca sangat dingin.

Setelah berada di titik puncak jalanan terus menurun dan melewati bukit curam. Jalanan menempel di ereng-ereng gunung batu. Di mana jurang menganga ratusan hingga ribuan meter dibawahnya. Cukup ngeri kalau mobil sampai slip. Bisa ajur sak walang-walang.

Puluhan kilometer menjelang masuk Kota Zhangmu ada check poin kedua. Kini jalanan berganti mendaki dengan melewati gunung batu. Saking tingginya jalan, beberapa puncak gunung batu tadi berada di bawah jalan yang kami lewati. Rasanya seperti berjalan di negeri awang-awang . Sebab, beberapa puncak gunung ada di bawah jalan yang kami lewati. Benar-benar eksotis. Itu hanya kami temui di Pegunungan Himalaya yang masuk teritorial Tiongkok.

Terlihat juga batu-batu sebesar rumah banyak yang longsor dari gunung. Sebagian longsoran batu menutupi jalan. Hingga kendaraan harus zig-zag menghindari batu gunung tadi.

Selepas itu jalanan menurun terus. Inilah kawasan reservasi sumber air di wilayah Zhangmu yang terdiri hutan tropis pegunungan. Tak terhitung berapa banyak air terjun di sepanjang jalan yang kami lewati. Tebingnya sangat curam. Kontras dengan keindahan air terjun yang begitu bening.

Itu juga yang membuat banyak jalanan mulus di pegunungan itu longsor. Padahal, Pemerintah Tiongkok sudah membuat talud dan jaring besi untuk menahan longsoran batu agar tidak mengenai pengendara yang melintas saat longsor.

Namun, banyak talud beton jebol. Jaring kawat dan besi ambrol tidak mampu menahan longsoran batu-batu besar. Beruntung mobil tetap bisa melintas di sela-sela longsoran karena sudah dibersihkan ala kadarnya. Sebab, jalur ini sangat vital. Merupakan satu-satunya jalur terdekat dari Tiongkok menuju Nepal atau sebaliknya.

Jalan terus menanjak, lalu menurun terus. Kali ini jalannya sangat mulus dan dipagari besi di pinggirannya karena jalan berada di ereng-ereng gunung.
Tampak jurang menganga ribuan meter dibawahnya. Di sebarang jurang tampak gunung, tebing curam dengan hutan lebat. Sudah tak terhitung berapa banyak air terjun mengalir dari celah-celah gunung tadi. Layaknya sebuah lukisan alami. Ya benar-benar alami. Tak hanya itu, di kiri jalan yang kami lalui berupa gunung mengalir juga air terjun. Hanya, airnya mengalir di atas mobil yang melintas. Tapi, tetap saja mobil terkena guyuran air terjun tadi. Benar-benar pemandangan luar biasa. Apalagi, dibawahnya mengalir sungai dengan aliran cukup deras. Mungkin pas buat arus jeram sebagaimana di Sungai Pekalen di Probolinggo. Arus sungai di sini sangat deras. Mungkin cocok bagi petualang arung jeram profesional. Hanya, lokasinya sulit dijangkau kendaraan umum. (yog/bersambung)