Kemarin pagi (11/7) sejumlah seniman Jogjakarta mendatangi Mapolda DIJ di Ringroad Utara. Kedatangan para pelaku seni ini bukan untuk melaporkan sebuah kejadian. Mereka datang untuk menyumbangkan beberapa karya seni berupa lukisan dan puisi.

Aksi itu bukanlah tanpa alasan kuat. Para sesepuh seniman Jogjakarta berinisiatif memberikan kado ulang tahun kepada Polda DIJ. Berupa lukisan mantan-mantan Kapolda DIJ dengan bingkai raksasa berukuran 1,5 meter x 3meter.

“Ini adalah hadiah kami bagi rekan-rekan polisi di Jogjakarta. Ada 18 mantan Kapolda yang saya torehkan ke dalam kanvas. Prosesnya sangat singkat, sekitar dua minggu penggarapan,” jelas sang pelukis Kibar, 62, yang ditemui usai memberikan hadiah di Mapolda DIJ.

Bagi sang pelukis sepuh, portrait bukanlah hal baru. Namun ada kesan tersendiri selama merampungkan lukisan itu. Satu per satu dia melukis wajah mantan Kapolda DIJ secara telaten. Mulai Kapolda pertama Kombes Mulyono Sulaeman hingga mantan Kapolda terakhir Brigjen Prasta Wahyu Hidayat.

Untuk merampungkan lukisan diakui olehnya tergantung mood. Bahkan pernah dalam satu hari dia tidak bisa merampungkan satu lukisan. Tentu konsekuensinya dibayar di lain hari, Kibar harus merampungkan minimal dua lukisan dalam satu hari.

“Pakai cat minyak biasa, diawali dengan sketsa lalu ditorehkan dengan cat minyak. Memang tergantung mood, sehari bisa rampung satu lukisan atau lebih,” ujarnya.

Sebagai seorang pelukis Kibar pernah bersinggungan dengan polisi. Baginya polisi adalah pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Sehingga dia mendorong agar Polda DIJ terus melakukan pelayanan prima kepada masyarakat Jogjakarta.

“Selain pelukis, saya tetap warga biasa. Bagi saya polisi itu wajib melindungi warganya. Tidak hanya itu, juga perlu menjalin komunikasi agar hubungan dengan masyarakat tetap harmonis,” katanya.

Sosok lain yang turut hadir adalah Yani Sapto Hudoyo. Dalam kesempatan ini, istri almarhum pelukis Sapto Hudoyo menaruh harapan banyak. Salah satunya menjalin kedekatan secara kebudayaan dengan para perupa Jogjakarta.

Yani menuturkan, bertugas di Jogjakarta adalah suatu keistimewaan. Bukan hanya mengayomi masyarakat, namun mengayomi kebudayaan di Jogjakarta. Sehingga tidak ada salahnya polisi turut aktif dalam melestarikan budaya di wilayah ini.

“Bhayangkara pengayom kultur budaya di Jogjakarta. Jadi tugasnya ada ekstranya, tapi menyenangkan karena bersinggungan dengan dunia seni dan budaya di Jogjakarta,” katanya.

Semangat seni, lanjutnya, harus mengakar di setiap insan personel kepolisian. Yani menilai dari beberapa polda di Indonesia, Polda DIJ tergolong syahdu. Terbukti saat diundang kegiatan seni, merespons dengan baik. Bahkan dalam beberapa kesempatan Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri hadir langsung.

“Saya sangat bangga dengan Polda DIJ dan Kapoldanya, sangat mencintai budaya Jogjakarta. Saya pernah lihat video-video dari Polda DIJ, itu sangat citarasa Jogjakarta sekali. Mungkin bisa dibilang satu-satunya Polda di Indonesia yang merespons baik seni dan budaya,” ujarnya.

Kapolda Brigjen Pol Ahmad Dofiri tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Berkali-kali dia melihat deretan lukisan portrait mantan Kapolda. Bahkan dia sempat bercanda saat menunjuk beberapa kolom kosong di pigura itu.

Baginya, seni dan budaya di Jogjakarta bukan hal asing baginya. Sejak menjabat Kapolresta Jogja hingga menjadi Wakapolda DIJ dan kini menduduki puncuk pimpinan tertinggi, Jogjakarta tetap istimewa. Inilah yang dia terapkan kepada jajaran polda hingga tingkat polsek.

“Jogjakarta itu sangat istimewa karena seni dan budayanya. Benar-benar surprise diberi kado seperti ini oleh para seniman. Tadi juga ada puisi yang benar-benar bagus,” katanya.

Dalam puisi yang dibacakan seniman Lik Suyanto, tidak hanya menyanjung keindahan polisi, ada pula kata-kata tajam berupa kritikan atas kinerja selama ini. Salah satunya menyoroti ulah oknum-oknum yang masih berbuat nakal di tubuh kepolisian.

Bagi Dofiri, kritik itu sangat penting untuk membangun. Terlebih kritik disampaikan dengan cara yang indah dan santun. Tentunya kritik melalui puisi ini akan menjadi catatan tersendiri bagi institusi kepolisian di bawah kepemimpinannya.

“Belum lama ini para Polwan juga belajar membuat puisi di Watulumbung. Diajari oleh para seniman hingga akhirnya dibuatkan sebuah buku antalogi puisi. Kalau puisi tadi tentu jadi cambukan bagi kami, agar polisi terus meningkatkan kualitasnya,” ujarnya. (laz/fn)