SEMENTARA itu, Kepala Dinas Pertanian DIJ Sasongko mengimbau para petani menentukan jenis tanaman sesuai dengan musim. Mengingat, tidak semua lahan pertanian di DIJ terjangkau saluran irigasi.

”Tetap padi bagi lahan yang airnya masih ada,” jelas Sasongko Rabu (11/7).
Sebaliknya, lanjut Sasongko, para petani di wilayah yang minim air sebaiknya menanam palawija. Contohnya, kedelai, jagung, dan kacang. Alternatif tanaman lainnya adalah cabai, bawang merah, semangka, atau melon yang notabene bernilai ekonomi tinggi. Seperti yang dilakukan sebagian petani di Kulonprogo.

”Satu hektare dengan modal 50 juta bisa panen Rp 150-200 juta. Kami juga belum ada laporan puso,” ucapnya.

Terkait dampak musim kemarau, Sasongko mengklaim, para petani belum begitu merasakannya. Lagi pula, ada banyak pilihan tanaman yang dapat dipilih petani. Kendati begitu, ada sebagian petani yang memilih membiarkan lahannya tanpa tanaman. Itu lantaran hanya mengandalkan air hujan. Seperti sebagian lahan pertanian di Gunungkidul. Informasinya, sebagian petani di Bumi Handayani saat ini sedang memanen ubi kayu.

”Sambil menunggu musim hujan datang,” bebernya.

Kendati begitu, Sasongko memastikan ketersediaan beras di DIJ hingga akhir tahun aman. Sebab, sebagian petani masih menanam padi. Seperti petani di Kabupaten Bantul. Apalagi, pemprov menargetkan produksi beras mencapai 900 ribu ton.”Produksi banyak saat musim penghujan. Awal kemarau biasanya panen,” tambahnya. (riz/zam/fn)