BANTUL – Tak hanya di wilayah Sleman, penangkapan terduga teroris juga dilakukan di Dusun Kerto RT 09, Pleret, Bantul. Terduga berinisial GW, 31, warga asal Menukan, RT 05, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Radar Jogja mencoba menelusuri kediaman terduga teroris GW. Menurut Ketua RT 09 Sigit Susanto enam bulan lalu beberapa petugas polisi sempat datang ke kediamannya. Mereka meminta berkas setiap pengontrak yang datang di lingkungannya.

“Saya sempat diingatkan, hati-hati, begitu. Tapi Sudah lama tidak ada tindak lanjutnya. Eh ternyata setelah Lebaran baru ada penggerebekan pada Rabu (11/7),” tutur pria 29 tahun ini, Kamis (12/7).

Menurut Sigit, GW sudah mengontrak di Dusun Kerto RT 09 sejak tiga tahun lalu. Dia pindah bersama istri dan dua anaknya. Sejak kepindahannya, GW hanya pernah memperkenalkan diri ke masyarakat dan ikut gotong royong sekali. Setelahnya, dia jarang bergaul dengan masyarakat.

Keseharian GW sebagai seorang pembuat panah. Istrinya sebagai tukang jahit. “Pernah saya tanya, jualnya ke mana. Terus dia jawab, jual online,” ucapnya.

Dia menyaksikan sendiri penggerebekan yang dilakukan di rumah kontrakan GW oleh Densus 88. Itu terjadi pada sore hari, bakda Ashar.
“Istrinya sempat tanya, siapa kalian, gitu. Tapi kan kalau aparat gitu, nggak peduli ya. Pasti langsung dibawa,” jelasnya.

Kini, istri dan anak-anak GW sudah kembali ke rumah kontrakannya. “Kasihan. Sejak pulang, dia tidak mau bertemu siapa-siapa. Sedang hamil juga,” jelasnya.

Sementara itu, penangkapan terduga teroris juga terjadi di Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Menurut ibu RT 8 Suryanti, 55, sosok Myt, terduga teroris, dikenal baik. Rajin ibadah di musala.

Kediaman rumah terduga teroris Myt di Mrisan RT 8, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul cukup sepi. Tak ada aktivitas jualan bakso tusuk seperti biasa. Namun suasana sekitar terduga terlihat normal.

“Profesinya pedagang bakso tusuk yang tergolong sukses karena memiliki beberapa karyawan. Tidak ada hal yang mencurigakan,” ungkapnya.

Namun, sekitar dua bulan ini, Myt memang jarang terlihat di musala. “Tetapi setahu saya orangnya sibuk. Pesanan bakso tusuk ramai. Semakin hari karyawannya bertambah.” ungkapnya

Ditemui Radar Jogja, istri Myt mengungkapkan, suaminya masih dalam penyelidikan polisi. Namun baginya, sosok suaminya adalah orang yang baik dan pekerja keras.

“Setiap pagi-pagi sekali ke pasar, pulang mengolah bakso, menyetor, menjual. Berdagang juga sampai malam. Bahkan sedikit waktu tidur. Berharap suami saya segera dibebaskan,” ungkap sang istrinya yang enggan disebutkan namanya.

Menanggapi penangkapan di wilayahnya, Bupati Bantul Suharsono mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Dandim maupun Kapolres Bantul pada Rabu malam (11/7).

“Kebijakan selanjutnya, biarlah menjadi wewenang Dandim dan Polres Bantul,” tegasnya.
Suharsono belum mengambil kebijakan apapun terkait hal ini, juga tidak ada imbauan kepada masyarakat. “Saya sudah minta, perkembangan sekecil apapun tolong segera dilaporkan ke saya,” ungkapnya.

Terpisah, Kapolres Bantul Sahat M. Hasibuan memilih irit bicara. Dia hanya membenarkan penangkapan di dua lokasi yang berbeda itu dilakukan oleh Densus 88. (ega/cr6/ila)