Pada bagian lain, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Parangtritis awal Juli ini serempak mulai menanam bawang merah. Mereka bakal memberikan hukuman bagi petani yang mendahului menanam. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Parangtritis Kadiso menceritakan, kesepakatan ini dibuat tujuh tahun lalu. Hingga sekarang baru ada satu petani yang berani melanggar. Persisnya pada 2015.

”Sehingga saat itu anggota gapoktan mencabuti tanamannya,” kenang Kadiso Rabu (11/7).

Menurutnya, kesepakatan ini bertujuan untuk kebaikan para petani. Hasil tanaman bawang merah yang ditanam serentak jauh lebih menjanjikan. Setidaknya aman dari serangan hama. Mereka juga bersepakat bahwa pola tanam yang diterapkan adalah padi-palawija-palawija. Ini bertujuan untuk memutus siklus hama sekaligus menjaga kesuburan tanah. Kendati ada kesepakatan mencabut, Kadiso memastikan bahwa gapoktan tidak akan merusak tanaman dan tatanan lahan.

”Hanya boleh mencabut,” ucapnya.

Ariyanto, seorang petani di Desa Parangtritis mengungkapkan hal senada. Dia mengaku belum lama ini mencabut seluruh tanaman cabainya. Meski, baru lima kali panen. Berganti tanaman bawang merah. Sebab, hal tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama.

”Harusnya bisa panen hingga delapan kali,” tuturnya.

Juanto, seorang anggota gapoktan menyebut kesepakatan ini memiliki plus-minus. Di antara kekurangannya adalah petani bakal kesulitan mencari tenaga buruh. Tak jarang petani harus mendatangkan tenaga buruh dari Gunungkidul dan Kulonprogo.

”Karena warga lokal banyak yang berkecimpung di dunia pariwisata,” ungkap Juanto menyebut bahwa suplai air juga menjadi kesulitan tersendiri. (cr6/fn)