SLEMAN – Ponpes Al Qodir terbuka pada perkembangan zaman. “Banyak pesantren yang tidak membolehkan santri membawa HP. Tapi saya ingin membedah tirani karena banyak pesantren yang tidak menerima teknologi informasi,” kata pengasuh Ponpes Al Qodir Cangkringan KH Masrur Ahmad MZ Rabu (11/7).

Perkembangan zaman tidak bisa dibendung. Jika santri tidak dibekali keahlian IT maka setelah lulus santri akan kebingungan. “Kami memutuskan membuka diri dan mengajarkan teknologi informasi kepada santri,” kata Masrur.

Dia menilai, di balik perkembangan teknologi terselip mata pisau yang siap menusuk. Di satu sisi memudahkan, namun jika tidak digunakan dengan benar dapat membunuh. Santri diharapkan menggunakan teknologi sebijak mungkin.
Dia berharap agar santri-santri di Jogja semakin melek teknologi. Alasannya, ekonomi saat ini bergerak menuju era digitalisasi. “Sehingga santri tidak ketinggalan teknologi,” kata Masrur.

Ketua Umum Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI) Alex Budiyanto mengatakan kebutuhan programer semakin meningkat. SDM bidang IT masih kurang. Pihaknya meluncurkan program Pesantren Programer.

“Pesantren Programer ini kali pertama di Indonesia. Ponpes Al Qodir mendapat kesempatan pertama sebagai pilot project,” kata Alex.

Program Pesantren Programer, santri diajarkan menjadi seorang programer yang dibutuhkan dunia industri. Selama enam bulan santri dididik menjadi programer.

Tujuannya agar tidak mengganggu pelajaran agama di pesantren. “Nantinya setelah enam bulan para santri dapat menularkan ilmunya ke pesantren lain,” kata Alex.

Program tersebut ingin menunjukkan siapa saja bisa menjadi programer. ‘’Karena sebenarnya semua tinggal berpulang pada niat,’’ kata Alex. (har/iwa/fn)