Guna mengembangkan pertanian berkelanjutan, Prodi Agroteknologi, Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) memberi kesempatan kepada mahasiswanya untuk mengembangkan pertanian organik berbasis teknologi. Dalam praktiknya, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga kontak langsung dengan dunia pertanian secara nyata.

“Mahasiswa diajarkan dari pra-tanam, proses perawatan, hingga pasca panen,” ungkap Founder Komunitas Organik Agroteknologi UMBY Rahmat Ariza Putra kepada Radar Kampus. Langkah ini diambil agar dalam diri mahasiswa terbentuk agro-culture. Dari sinilah ia berharap semakin banyak mahasiswa pertanian yang jadi petani.

Menurut mahasiswa semester akhir di prodi Agroteknologi UMBY ini, sebagai sarjana pertanian, setelah lulus mahasiswa harus punya mental yang utuh sebagai petani. Melakukan pengembangan teknologi pertanian secara utuh dengan wawasan lebih maju. “Petani modern adalah mereka yang mengembangkan pertanian organik. Karena bisa memaksimalkan segala potensi yang ada untuk menjadi lebih bermanfaat,” jelasnya.

Lelaki asal Kulonprogo ini menjelaskan, teknologi pertanian yang dikembangkan mahasiswa di kawasan kampus ini merupakan urban farming organik dengan skala kecil. Memanfaatkan lahan terbatas dan sumber daya di sekitar, sehingga mahasiswa bisa mulai skala rumah tangga untuk nanti dikembangkan di kampung halaman masing-masing.

Untuk skala lebih besar, dikembangkan lewat hamparan yang lebih luas dengan ukuran 1.000 meter persegi. Tak jauh dari kampus 1 UMBY, upaya ini dilakukan agar pengelolaan lebih masif. “Saya optimistis, setelah lulus nanti mahasiswa punya tempat di masyarakat,” tegasnya.

Hasil dari pengembangan pertanian ini kemudian dijual ke masyarakat tanpa perantara. Rahmat menengarai kelemahan sistem pertanian di Indonesia dengan menggunakan mata rantai pertanian perantara seperti tengkulak. Agroteknologi UMBY ingin memulai sebagai petani yang langsung terjun menjadi produsen dan menjual sendiri hasil produksi kepada konsumen.

Dia bersama komunitasnya tidak mematok harga ke konsumen. Dengan membangun kedekatan antara masyarakat dengan petani, khususnya mahasiswa. Bisa menyadarkan masyarakat bahwa fluktuatif harga itu yang untung tengkulak dan pedagang, bukan petani.

Kampus mendukung penuh kinerja komunitas yang baru berjalan satu tahun ini. Sekretaris Prodi Agroteknologi UMBY Riyanto mengatakan, menjalankan pertanian terpadu dengan teknologi pertanian organik lebih efisien dari segi biaya. “Kreativitas seperti ini yang harus selalu dikembangkan,” jelasnya.

Sesuai visi prodi, mahasiswa juga diarahkan untuk berwawasan kewirausahaan. Tidak hanya belajar menanam dan budidaya, tapi juga harus bisa memikirkan hingga ke agribisnisnya. “Output dari kegiatan ini nantinya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, langkah yang diambil mahasiswa untuk memproteksi petani sudah baik. Pasca panen, produk dijual ke mahasiswa dan dosen. Jadi mahasiswa tidak hanya jadi petani, tapi juga bisa mengembangkan bisnis.

Setelah lulus nantinya mahasiswa bisa mengembangkan ketahanan pangan. Memulai dari hal-hal kecil untuk membuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, meluas juga masyarakat. Dari tahun ke tahun, mahasiswa Agroteknologi UMBY sendiri mengalami peningkatan. (ega/laz/fn)