Menjadi abdi negara tidak harus terfokus di satu bidang. Inilah yang dilakoni Bripka Toni Purwanto, 37. Di balik sosok tegas seorang polisi, ia ternyata juga berjualan cilok. Tidak hanya sekadar menyambung hidup, namun juga mengenalkan nilai-nilai kepolisian.

DWI AGUS, Sleman

Sosok polisi tengah sibuk bekerja ketika Radar Jogja memasuki ruang Bidang Humas Polda DIJ, kemarin siang (10/7). Personel polisi bernama Bripka Toni Purwanto ini tampak fokus di depan komputernya. Sesekali dia menoleh ke arah kertas di sisi kirinya. Satu persatu data dia masukkan ke dalam computer itu.

Tak selang berapa lama, pria kelahiran Jakarta, 2 Februari 1981, ini mendatangi koran ini. Senyum ramah mengembang saat Radar Jogja menyatakan maksud tujuan kedatangannya. Dia segera mengiyakan setelah sebelumnya izin dulu kepada sang atasan.

Monggo Mas. Kalau jualan biasanya sore sepulang dari Mapolda. Berjualannya di depan Kantor BRI Maguwoharjo,” kata Toni  memulai percakapan.

Awal mula persinggungan Toni dengan dunia cilok pada Maret 2017. Kala itu, bapak dua anak ini memutuskan untuk terjun ke dunia kuliner. Cilok dipilih karena dia sangat menggemari kuliner berbahan baku tepung tapioka atau kanji ini.

Sebelum benar-benar terjun, Toni terlebih dahulu berburu cilok. Sepulang bertugas, dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi mencari para penjual cilok di pinggiran jalan. Dia menjajal satu per satu cilok yang dia temui.

Dari perburuan ini ada berbagai temuan yang mendasar. Terkadang cilok pas, namun bumbu kurang mantab. Begitu juga sebaliknya. Saat menemukan ramuan yang pas, Toni berlangganan. Berawal dari tanya-tanya, akhirnya dia bertanya resep pembuatan cilok.

“Kuncinya di bumbu dan bahan bakunya, baik cilok atau kuah bumbunya. Bahan bakunya sebenarnya sederhana, seperti tepung kanji, tepung terigu, dan bumbu dapur lainnya. Tapi cara pengolahan dan adonannya harus pas agar nikmat,” ujarnya.

Dalam meracik Toni mengandalkan kejujuran. Seluruh bahan baku segar dan berkualitas. Terutama untuk bumbu sebagai campuran cilok dan kuahnya. Contohnya sambal, menggunakan racikan cabai asli, bukan perasa.

“Pedasnya itu jegrak, benar-benar asli dan terasa. Kalau pemanisnya kan pakai kecap. Kalau pedas itu pasti enak dan laris. Di dalam cilok juga saya kasih tetelan daging sapi. Sehari dengan bahan baku kanji 8 kilogram dan tepung satu kilogram, bisa membuat 2.000 butir cilok,” ungkapnya.

Awal mula kecintaannya pada cilok saat bertugas di Polda Metro Jaya. Penjual cilok ibarat jamur di musim penghujan karena saking banyaknya. Hingga akhirnya dia mendapat tugas pengawalan mobil bank. Saat mampir di anjungan tunai mandiri (ATM), dia menyempatkan diri untuk membeli sebungkus cilok.

Kala itu Toni belum bisa mempraktikkan minat berjualan cilok. Terlebih dia telah menggeluti jual beli ayam potong. Maklum saja untuk terus menyambung hidup, Toni memilih mencari sampingan. Dia berburu ayam potong untuk membantu orangtuanya yang berprofesi sebagai pedagang.

Hingga akhirnya Toni dipindahtugaskan ke Polda DIJ Januari 2017. Dari sinilah ide untuk mendalami dunia percilokan timbul kembali. Satu lagi yang membuat Toni keukeuh berjualan adalah untuk mencukupi biaya pengobatan anak sulungnya.

“Kebetulan anak pertama saya, Lugna, 7, anak berkebutuhan khusus. Harus berobat rutin dengan terapi. Kalau hanya mengandalkan dari gaji kepolisian belum tentu cukup, jadi harus berjuang,” katanya.

Bukan tidak mudah Toni berjualan cilok. Di awal memulai bisnis, suami Ade Nasibah ini harus berjibaku. Pagi hingga siang harus bertugas sebagai sosok polisi. Sore hingga malam hari berjualan cilok. Sementara untuk meracik bumbu dan cilok dini hari hingga pagi hari.

Pernah suatu saat Toni mendapat teguran dari sang atasan. Penyebabnya telat mengikuti apel pagi. Tidak ingin berbohong, Toni menceritakan kisahnya apa adanya. Untungnya kala itu sang bintara polisi ini hanya mendapat teguran lisan saja.

“Cilok itu kecil tapi buatnya capek, karena harus telaten saat nguleni bumbu. Ditambah ukurannya harus konsisten dan sama besar. Pada awalnya saya sendiri yang mengerjakan, sekarang akhirnya memperkejakan orang untuk membuat ciloknya,” ujarnya.

Setiap hari Toni berjualan cilok di depan kantor BRI Maguwoharjo. Letak lapaknya tidak begitu jauh dari kediamannya, Sambisari, Purwomartani, Kalasan. Uniknya, dia tidak hanya berjualan cilok, namun turut mengenalkan nilai-nilai kepolisian.

Pada awalnya tidak banyak yang mengetahui profesi asli sang penjual cilok. Hingga ada pembeli yang penasaran dengan penamaan Cilok 86. Identitasnya terbongkar justru membuat semangatnya surut. Dia semakin getol berjualan makanan olahan tepung ini.

“Sekalian edukasi kepada pembeli, misal ada yang tidak pakai helm atau perlengkapan kendaraan tidak lengkap, saya kasih tahu. Kadang ada yang tanya tentang jadwal SIM keliling, syarat masuk polisi hingga tugas-tugas kepolisian,” jelasnya.

Malu? Tidak ada dalam kamus kehidupan Toni. Bahkan secara jenjang pendidikan sangatlah membanggakan. Sebelum mendaftar kepolisian, Toni adalah lulusan S1 Hubungan Internasional UMY. Berlanjut jenjang pendidikan Pasca Sarjana di Magister Manajemen (MM) Mercu Buana Jakarta.

“Motivasi bekerja untuk mencari rejeki. Terkadang kalau sudah capek, lihat anak-anak jadi semangat lagi. Semua harus dilakoni dengan ikhlas, tapi juga harus tetap berjuang,” ujarnya. (laz)