JOGJA – Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) menggandeng Jurusan Arsitektur dari National University of Singapore (NUS) dan Univerisiti Malaya Malaysia (UM) dalam Kauman UM-NUS-UII Architectural Conservation Field School. Ini adalah program kuliah lapangan yang melibatkan perwakilan mahasiswa dari tiga negara tersebut untuk membuat desain kawasan Kauman untuk dilestarikan.

Di sini, mereka menggali pengetahuan tentang lokasi. Bahwa Kauman bukan hanya tempat pusat pedagang batik, pasar tiban, tetapi ada kaitannya dengan sejarah. “Bahkan kos-kosan mahasiswa pertama di sini,” jelas Johannes Widodo, professor arsitektur dari NUS yang turut memimpin program.

Ndalem Pengulon yang masih dalam kawasan Masjid Gedhe Kauman dipilih sebagai pusat pembelajaran karena merupakan lokasi berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) yang menjadi cikal bakal Universitas Islam Indonesia (UII) sekarang. “Bung Hatta pidato di sini, fakta sejarah itu banyak yang tidak tahu,” ujarnya Selasa (10/7).

Selama tiga minggu ke depan, para mahasiswa ini melakukan observasi, pendataan, dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Dalam interaksi dengan warga akan muncul kisah-kisah yang belum diketahui banyak orang. Yang sudah tahu pun diharapkan dapat melihat masalah apa yang dihadapi kampung Kauman. Misalnya perubahan fungsi bangunan, perubahan status tanah, atau adanya bangunan tidak terpelihara.

Hasil data lapangan berupa kajian dan masukan untuk pelestarian Kauman secara fisik maupun komunitas. Hasilnya akan dipamerkan pada 1 Agustus dan selanjutnya dibukukan. “Harus menghasilkan sesuatu yang bisa dikembalikan kepada masyarakat, kepada kota Jogja, untuk input kebijakan bagi pemerintah,” tutur Widodo.

Berbeda dengan pendekatan turisme, kata dia, tujuan pelestarian ini tidak untuk ‘menjual’ heritage. “Masalah yang dihadapi kota-kota di Indonesia sekarang, motivasinya turisme. Investor masuk, kota diobok-obok. Banyak kampung di Jogja dibangun hotel segala macam. Kampung ini milik siapa? milik turis atau warga?” bebernya.

Kauman dinilai termasuk kawasan yang tidak masuk komersialisasi besar dan bisa mempertahankan identitasnya. Walaupun hatus diakui banyak sekali tantangan. Mengingat lokasinya yang berada di pusat kota dan destinasi wisata. “Beberapa kampung sudah jadi kampung turis, hotel semua, wilayah backpacker semua, di sini tidak,” tambahnya.

Oleh karena itu, menurutnya pariwisata harus dikendalikan agar tidak berkembang menjadi pariwisata negatif atas dasar keserakahan. Pariwisata positif dapat dikembangan dengan dasar pendidikan. “Orang bisa homestay dan membayar, tapi harus tetap mengikuti budaya, tata cara, dan sopan santun setempat. Sehingga mereka bisa belajar bagaimana kehidupan masyarakat Jawa, menunduk, masuk rumah copot sandal, tidak blusukan masuk senthong,” bebernya.

Dijelaskan, hal yang selama ini dianggap sepele namun sebenarnya penting, misalnya keberadaan anak tangga di depan rumah atau yang akrab disebut undak-undakan. Bukan hanya sekadar undak-undakan, fungsinya menjadi tempat duduk atau nongkrong warga untuk ngobrol dan berinteraksi.

Ketua Panitia Arif Budi Sholihah menyebutkan pula adanya kendi berisi air yang banyak diletakkan di depan rumah-rumah. Kendi berisi air minun tersebut, kata Arif, merupakan bentuk sodaqoh warga untuk orang yang melintas. “Sekarang semua pakai botol air mineral dan jadi masalah sampah,” tambah Widodo.

Dia menambahkan, harus ada rasa kebanggaan atas budaya sendiri untuk mempertahankan lingkungan kampung. Sehingga mau ada tamu ataupun tidak, tetap ada semangat untuk melestarikan kampung sebagai warisan generasi mendatang.

Arif berharap dari kegiatan ini, kualitas lingkungan Kauman meningkat dengan adanya perbaikan dan pelestarian oleh warganya sendiri. Sehingga menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi baik bagi turis maupun bukan. Kauman sebagai kawasan yang menarik untuk dikembangkan, tanpa harus menghilangkan identitas.”Barangkali kemudian mereka (warga) meletakkan kembali kendi di depan rumah mereka. Jadi sewaktu-waktu ada orang lewat, duduk, minum air,” tambah arif. (tif/din/fn)