SLEMAN – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Kemenpar menilai ekonomi kreatif di Jogja belum optimal. Padahal potensi SDM dan kreativitasnya sangat tinggi.
Namun belum seluruh pelaku ekonomi kreatif memanfaatkan penjualan online atau digital marketing. Dari 172 ribu pelaku ekonomi kreatif, baru 594 yang terdaftar di Bekraf Information System in Mobile Application (BISMA). Aplikasi ini untuk mendukung pemasaran.

“Persoalan ini tidak hanya terjadi di Jogjakarta, juga daerah lain. Penyebabnya, belum fasih dengan teknologi,” kata Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf Wawan Rusiawan Selasa (10/7).

Upaya sosialisasi terus dilakukan. Namun perlu kajian terhadap efektivitas dampaknya. Apalagi jika harus melakukan pendampingan tatap muka, menghabiskan biaya banyak.

Demikian dikatakan Wawan saat pendampingan pelaku ekonomi kreatif di Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel kemarin. Ada 8,2 juta pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.

Deputi IV Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simajuntak mengatakan perlu strategi menguatkan pemasaran. Selain digitalisasi juga memahami pangsa pasar.

Bergabungnya pelaku ekonomi kreatif dalam BISMA memudahkan pendataan. Fasilitas pendukung dapat dimanfaatkan pelaku ekonomi kreatif.

“Selanjutnya diimbangi kesadaran mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ini penting karena sebagai brand yang kuat. Contohnya Indonesia itu produsen kopi nomor empat terbesar tapi kalah dengan Amerika Serikat yang tidak punya potensi tanaman kopi,” kata Joshua.

Bekraf terus memfasilitasi penguatan HKI. Strategi ini mampu menguatkan brand lokal untuk bertarung di kancah internasional. (dwi/iwa/fn)