GUNUNGKIDUL – Gaji komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten ternyata menggiurkan. Mencapai Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per bulan. Kendati begitu, hingga kemarin jumlah pendaftar calon anggota lembaga penyelenggara pemilu tersebut masih minim.

”Pendaftaran mulai 4 Juli hingga 12 Juli,” kata Anggota Tim Seleksi (Timsel) Rekrutmen Komisioner KPU Gunungkidul Mutiulah saat Sosialisasi Selasa (10/7).

Mutiulah tak menampik gaji komisioner tinggi. Namun, besarnya nominal tersebut berbanding lurus dengan tanggung jawab yang diemban. Komisioner KPU harus bekerja full time. Terutama saat gelaran pemilu. Dari itu, komisioner KPU terpilih harus meninggalkan pekerjaan lamanya.

”Nggak boleh di-sambi,” ucapnya.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui bagi pendaftar. Mulai seleksi administrasi, tertulis, psikologi, kesehatan, hingga tes wawancara. Kendati begitu, Mutiulah menekankan, timsel juga bakal memantau rekam jejak calon komisioner. Tak terkecuali rekam jejak digital. Seperti aktivitas pendaftar di media sosial (medsos). Itu bertujuan agar komisioner terpilih tak pernah bersinggungan dengan penyebaran ujaran kebencian maupun berita bohong.
”Karakter seseorang bisa dilihat melalui update status di medsos,” ujarnya.

Terkait mepetnya waktu pendaftaran, dia membenarkannya. Itu akibat keterlambatan sosialisasi dan molornya pembentukan timsel. Kendati begitu, Mutiulah optimistis kuota pendaftar bakal terpenuhi. Tak terkecuali kuota perempuan sebesar 30 persen. Toh, waktu pendaftaran bisa diperpanjang dua hingga tiga hari.

”Biasanya, pendaftaran ramai saat hari penutupan,” katanya.

Ketua KPU Gunungkidul Zaenuri Ihsan berharap peran aktif masyarakat. Caranya dengan aktif memberikan berbagai masukan kepada timsel. Agar komisioner terpilih sesuai dengan criteria yang dibutuhkan.

”Yaitu, komisioner berintegritas tinggi serta profesional,” tegasnya. (gun/zam/fn)