DALAM perjalanan dar Lhasa, Tibet, menuju Nepal pada Minggu (2/10/2011) pagi mobil yang penulis tumpangi melewati Desa Pena, tak jauh dari Kota Shikatse. Di desa itu masyarakat setempat memiliki kebiasaan unik. Seorang istri harus rela dikawini semua saudara laki-laku suaminya.

Jadi, kalau si suami punya empat saudara laki laki, sang istri otomatis menjadi istri kelima pria itu. Atau lebih dikenal dengan sebutan polyandri. Hebatnya, secara umum tidak ada masalah. Mereka bisa menjalani hari-hari rumah tangga dengan baik. Karena umumnya mereka petani, maka pekerjaan di bagi-bagi di antara para suami. Ada yang bertugas di sawah, memelihara ternak, membantu istri menyiapkan keperluan sehari-hari, merawat anak, sampai menjual hasil pertanian mereka.

Jarang terdengar kecemburuan di antara para suami. Apalagi, sampai berujung perceraian. Mereka hidup rukun-rukun saja. ‘’Uniknya, justru istri yang berkuasa soal mengatur bagaimana rumah tangganya. Terlebih soal ‘’begituan’’ sang istri yang menentukan giliran, akan melayani siapa di antara lima suaminya tadi,’’ tutur Jack Kalsang, warga Lhasa yang juga pemandu penulis.

Adat unik itu masih bertahan hingga saat ini di tengah modernisasi China.
Tampak beberapa traktor warga setempat hilir mudik di jalanan yang penulis lewati. Di kota kecil sekalipun, puluhan bahkan ratusan traktor tampak diparkir di pasar atau jalan kota yang umumnya wilayah lembah pertanian subur.

Setelah tujuh jam berkendaraan akhirnya kami sampai di Kota Shikatse pukul 15.30. Tapi, hari masih siang. Kalau di Indonesia mungkin pukul 13.00. Rencananya kami akan menginap di situ. Tapi, penulis memaksa Kalsang mengurus izin masuk ke wilayah perbatasan Zhangmu, dekat Nepal, hari itu juga. Agar secepatnya bisa berangkat ke perbatasan.

Akhirnya, Liu, sopir yang mengurus izin masuk ke Zhangmu di kantor polisi terdekat. Sebab, surat izin mengemudi (SIM) lebih penting dan diperlukan sebagai jaminan dibanding kartu tanda penduduk (KTP) atau sejenisnya.

Penulis dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, menunggu di salah satu warung kota itu sambil menikmati teh hijau khas Tiongkok. Kebetulan yang berjualan warga Tibet. Orangnya sangat ramah.

Hanya, lingkunganya sedikit jorok meski terletak di perkotaan. Untuk buang air kecil saja tidak ada toilet umum. Bahkan, pemilik warung juga mengaku tidak punya toilet di rumahnya. Entah bagaimana kalau buang hajat atau keperluan lainnya. Mandi dan cuci, misalnya. Anak pemilik warung tadi juga terlihat lusuh. Anak-anak suku Tibet terlihat ‘’tak terurus’’. Bahkan ada yang tidak mengenakan celana alias telanjang. Padahal, cuaca agak dingin dan kering dicampur banyak debu beterbangan. Anak-anak juga terbiasa buang hajat sembarangan.

Karena tidak ada toilet umum penulis terpaksa mencari tempat sunyi hanya untuk buang air kecil.

Kota Shikatse siang itu sangat terik meski suhu udara cukup dingin karena ketinggian kota itu di atas seribu meter dari permukaan laut. Kondisi kotanya, khususnya jalan, tampak acak-acakan. Di sana-sini banyak yang rusak dan sedang diperbaiki. Banyak pegunungan tandus dan kering mengitari Kota Shikatse ini.

Saat menunggu Liu, Kalsang, bertemu pemuda Shikatse yang juga seorang pemandu wisata. Kata pemuda tadi, dia baru saja jadi guide serombongan pemuda Indonesia keturunan Tiongkok yang ingin napak tilas, melacak tempat atau kampung halaman asal-usul orang tua mereka. Cara mereka memant tak biasa. Mereka melakukan touring dengan motor dari Indonesia. ‘’Tak lama, mungkin baru satu minggu mereka balik ke Indonesia lewat Kunming, Yunnan, terus masuk Vietnam,’’ jelas pemuda tadi.

Kembali ke soal urusan izin masuk perbatasan, Liu akhirnya muncul setelah dua jam berada di kantor polisi. Izin masuk ke kota perbatasan Zhangmu yang berbatasan dengan Nepal pun beres. Sebelum meninggalkan Shikatse, ada teman perempuan Kalsang ikut bergabung rombongan kami. Perawakannya tinggi, berkulit kuning langsat. Berumur sekitar 30 tahun. Apakah pacar Kalsang, teman akrab atau apalah, kami tidak enak bertanya. Yang jelas bukan istri Kalsang.

Kami sekarang berlima pun langsung meluncur ke kota berikutnya, Lao Zhe. Begitu keluar Shikatse jalannya sangat mulus. Terdiri dua lajur.

Di kiri dan kanan jalan terhampar pemandangan gunung kering dan lembah sabana. Tidak seperti daerah sabana lainnya, di situ tidak terlihat binatang peliharaan yang digembalakan. Menjelang masuk Kota Lao Zhe binatang gembalaan baru terlihat.

Kali ini Liu melajukan kendaraan lumayan kencang . Sebenarnya bisa dikebut di atas 100 kilometer per jam. Tapi, kendaraan di sini kalau melewati batas kecepatan itu akan mengeluarkan suara peringatan. Dan sopir biasanya patuh, kemudian memelankan laju kendaraannya.

Sampai di Lao Zhe pukul 19.30 waktu setempat. Tapi, hari masih sore karena sinar matahari masih terlihat terang. Akhirnya, kami putuskan terus melanjutkan perjalanan sampai ke Kota Tingri sekitar dua jam perjalanan. Agar esoknya tidak terlalu jauh ke Zhangmu, kota perbatasan dekat Nepal.

Saat melintasi check point di Lao Zhe, polisi yang bertugas di wilayah itu memerintahkan kendaraan terus melaju karena dia saat itu sedang sibuk menelepon sambil mengawasi dari jauh.

Selepas Lao Zhe jalannya sedikit menyempit meski tetap mulus. Kendaraan melaju pelan karena jalanan terus menanjak. Di Kiri dan kanan jalan diapit gunung batu terjal dengan sungai mengalir deras di bawahnya. Benar-benar pemandangan yang indah.

Sesekali melintas truk-truk buatan Tiongkok yang tampak cukup tangguh. Namanya Dong Feng. Truk inilah yang banyak beroperasi di wilayah Pegunungan Himalaya maupun Tibet dengan mengangkut aneka muatan. Mulai sembako, sayuran, buah-buahan, hingga material bangunan.

Jalanan terus menanjak. Sepintas terbaca tulisan menuju base camp Mount Evererst. Jalanan yang kami lintasi cukup tinggi. Sekitar 4.150 meter di atas permukaan laut. Rangkaian Pegunungan Himalaya yang ditutupi salju tampak dari kejauhan.

Tampak juga suku nomaden warga Tibet menggembalakan kambing dan yak di daerah pegunungan yang jauh dari permukiman. Meski hari menjelang malam, mereka tampak jalan dengan binatang peliharaan di lembah dekat jalan raya.
Mereka hanya mendirikan tenda ala kadarnya dekat kambing tempat mencari makan. Bisa dibayangkan betapa tangguhnya suku nomaden menghadapi ekstremnya cuaca. Apalagi saat malam suhu udara di wilayah itu bisa mencapai 3 derajat Celsius.

Kata Kalsang, ada kebiasaan aneh yang dilakukan para suku nomaden. Saat menyembelih yak, darahnya pun diminum. Selain untuk menghangatkan badan menghadapi cuaca dingin, minum darah yak bagi suku nomaden bisa menambah stamina atau kekuatan tubuh. ‘’Sampai sekarang ritual ini masih dilakukan,’’ ucapnya. Sedangkan bulu yak yang mereka sembelih dijadikan pakaian, jaket untuk melindungi diri dari cuaca dingin Pegunungan Himalaya.
Tak terasa kami sampai di Tingri, kota transit para turis sebelum melanjutkan ke Zhangmu, selanjutnya masuk Nepal.

Kota Tingri sangat kecil. Hanya memanjang tak lebih 500 meter. Beberapa bangunan berdiri di kiri dan kanan jalan. Berupa deretan hotel kecil dan restoran. Nyaris tidak ada rumah warga asli.

Malam itu semua hotel yang ada di kota itu penuh oleh turis yang akan melanjutkan perjalanan ke perbatasan. Termasuk para turis pengendara sepeda pancal . Setelah berkeliling kami akhirnya dapat hotel yang tersisa.

Tapi, tidak ada kamar mandi di dalam. Kalau pun ada kamar mandi biasanya kami kurang suka. Rata-rata baunya sangat pesing. Kami hanya minta disediakan air panas dalam termos untuk sikat gigi dan wudu. Suhu udara malam itu di Tingri mencapai 3 derajat Celsius. Sangat dingin. (yog/bersambung)