BANTUL – Meroketnya harga sejumlah barang komoditas belakangan ini tak luput dari perhatian Komisi B DPRD Bantul. Komisi yang membidangi pengawasan niaga ini bakal menggelar inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pasar rakyat dan rantai distribusi. Itu untuk memastikan penyebab kenaikan harga yang cukup signiifkan belakangan ini. Apakah akibat minimnya pasokan dari petani maupun peternak atau ditimbun tengkulak.

”Karena ada sejumlah faktor yang bisa memengaruhi harga,” jelas Ketua Komisi B DPRD Bantul Widodo saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/7).

Kenaikan harga telur, misalnya. Dia berpendapat akibat minimnya pasokan. Sebab, suplai telur di Kabupaten Bantul selama ini mengandalkan pasokan dari luar DIJ. Begitu pula dengan kabupaten/kota di DIJ. Di sisi lain, permintaan pasar meningkat.

”Di Bantul tidak ada peternak atau produsen telur,” ucapnya.

Berbeda dengan cabai, politikus Partai Golkar ini mengungkapkan, Kabupaten Bantul termasuk produsen bumbu dapur berasa pedas tersebut. Namun, pasokannya belakangan ini memang minim. Itu lantaran datangnya musim kemarau. Tidak sedikit tanaman cabai yang mati. Sementara, permintaan pasar jalan terus. Kendati begitu, Widodo berjanji bakal melakukan pengawasan langsung. Sebab, tak tertutup kemungkinan ada oknum yang bermain di balik kenaikan harga ini.

”Kalau ada oknum yang mengambil keuntungan, ya, harus ditindaklanjuti,” tegasnya.

Seminarti, seorang pedagang di Pasar Bantul menengarai minimnya pasokan telur karena sejumlah faktor. Yang paling mencolok adalah penyaluran bantuan pangan nontunai (BPNT). Banyaknya warga yang menggelar hajatan juga turut sebagai pemicu. Tidak sedikit warga yang punya hajatan berbelanja telur hingga tiga peti.

”Sehingga pasar hanya dapat sisanya,” tuturnya.

Berdasar pengalamannya, harga telur Rp 28 ribu per kilogram (kg) termasuk tertinggi. Sebab, kenaikan saat Lebaran hanya mencapai Rp 24 ribu per kg. Karena itu, warga Sendangsari, Pajangan ini berharap penyaluran program BPNT tanpa menggunakan telur.

”Bisa diganti dengan yang lain. Seperti minyak goreng,” tambahnya. (ega/zam/fn)