Empat di antaranya adalah mahasiswi Jurusan Pendidikan Luar Biasa. Mereka adalah Istiqomah, Irmawanti, Iffah Priyatni, dan Nur Azizaturrohim. Lalu seorang lagi Swastika Sekar Febrianti dari Jurusan Seni Kerajinan.

Santri yang mereka dampingi bukanlah santri biasa, melainkan para penyandang disabilitas. Terdapat 10 santri penyandang disabilitas fisik seperti polio, cerebral palsy, dan hambatan pendengaran. Dengan rentang usia 18 sampai 40 tahun.

PKM-M yang dibiayai Dikti ini sudah berjalan sejak Mei lalu. Dari pendampingan yang mereka lakukan diketahui banyak santri tidak bekerja. Itu adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Disabilitas membuat mereka hanya sanggup bertahan bekerja beberapa bulan dan tidak memiliki keterampilan lain. Kemudian pelatihan batik tulis kombinasi ecoprint dipilih untuk meningkatkan keterampilan mereka. “Kami dengan pengurus pesantren mencari kebutuhan mereka seperti apa, ternyata ada yang bisa membatik dan menjahit tapi sudah berhenti,” jelas Istiqomah.

Pelatihan dilakukan dari nol. Mulai pengenalan alat, desain, hingga proses pembuatannya. Karena memang harus menyesuaikan kemampuan penyandang disabilitas. Agar mereka memiliki keterampilan vokasional yang nantinya bisa menjadi rintisan usaha. “Untuk memandirikan diri mereka sendiri dan tidak bergantung lagi pada orang lain,” tambahnya.

Produk jadinya berupa bahan kain, tas, jilbab, baju, dan dompet. Karena keterbatasan produksi, produk tersebut saat ini belum diperjualbelikan. Hanya sesekali dipamerkan. Isti melihat motif yang dibuat para santri ini memiliki karakter sendiri-sendiri karena keterbatasan kemampuan fisik yang berbeda-beda. “Kami ingin orang tertarik melihat hasilnya karena memang berkualitas dan layak untuk dipasarkan. Bukan dari mengasihani karena yang membuat disabilitas,” ungkapnya.

Potensi batik tulis kombinasi ecoprint ini juga menjadi pertimbangan untuk mendukung lokasi Kotagede sebagai salah satu destinasi wisata di Jogjakarta. Harapannya, program ini tidak berhenti sekadar pelatihan, tetapi juga pendampingan lebih lanjut.

Isti menambahkan, sudah dibentuk struktur organisasi dari para santri yang dapat berlanjut menjadi kelompok usaha. Beberapa dari mereka, kata dia, juga ada yang ingin membawa pulang dan merintis usahanya di kampung halaman. Karena santri tersebut tidak hanya warga Jogja, namun ada juga yang dari Cilacap, Kebumen, dan Brebes. (din/fn)