NUANSA Kota Lhasa, Tibet memang memesona. Meski hanya sehari di kota berjuluk atap dunia itu, penulis sangat rerkesan. Terutama pada eksotisme pemandangan alamnya, ritual, dan budaya masyarakat setempat yang begitu luar biasa. Land mark-nya Istana Potala, Kuil Jokhang, dan tempat suci lainnya begitu menawan dan mistis. Tapi, penulis harus meninggalkan Lhasa menuju Nepal, India, secepatnya melalui Pakistan karena khawatir visanya kedaluwarsa (10/10/2011). Juga mengejar deadline masuk Jeddah, Makkah.

Rasa kantuk belum hilang, selepas Subuh Minggu (2/10/2011) penulis harus siap-siap meninggalkan Kota Lhasa. Setelah sarapan nasi goreng mobil yang kami tumpangi bersiap meninggalkan Lhasa menuju Nepal.

Lhasa berada di ketinggian empat ribu meter di atas permukaan laut. Temperatur suhu udara pagi itu nyaris beku. Hanya 3 derajat Celsius. Jangan ditanya dinginnya. Tapi, itu tak membuat ratusan warga Tibet pemeluk agama Buddha yang biasa disapa Tibetan berjalan mengelilingi Kuil Jokhang searah jarum jam sambil melakukan ritual ”kowtow” atau posetision. Yakni, berjalan lalu berhenti di setiap tiga langkah kaki, kemudian mengatupkan kedua tangan ke atas kepala, selanjutnya menurunkan tangan di depan mulut dan di depan dada. Itu sebagai simbolisasi penyembahan kepada Sang Maha Kuasa, membersihkan pikiran, ucapan, dan hati. Setelah itu mereka merebahkan diri ke tanah layaknya sujud.

Begitu seterusnya. Ritual ‘’kowtow’’ diulang-ulang. Ribuan, bahkan mungkin jutaan kali bagi Tibeten yang rumahnya jauh di pelosok Tibet. Ratusan kilometer jauhnya dari Kuil Jokhang.

Semua aktivitas itu sekali lagi sempat diabadikan penulis sebelum meninggalkan Lhasa menuju Nepal. Sehari sebelumnya, penulis sempat mengikuti ritual ‘’kowtow’’, berjalan beriringan dengan Tibetan mengelilingi Kuil Jokhang di Jalan Barkhor, Lhasa, persis di depan hotel tempat menginap penulis.

Saya dan Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, meninggalkan Lhasa menuju Kathmandu, ibu kota Nepal. Jalan keluar Lhasa sangat mulus. Begitu juga jalan tol, jembatan kereta api, maupun jembatan kendaraan bermotor. Bahkan sampai jalan tol menuju luar kota pun jalannya sangat mulus. Tak heran banyak turis penggemar sepeda pancal melakukan tur sampai luar Lhasa.

Hingga ke puncak Tibet dan Himalaya jalannya begitu mulus. Meski jalannya naik turun melewati pegunungan justru jadi tantangan penggemar berat sepeda pancal.

‘’’Sepulang merantau dari India, dan Nepal , saya kaget melihat jalan-jalan di Kota Lhasa. Semua kini begitu bagus dan mulus. Dulu tidak seperti ini,’’ kata Jack Kalsang, warga Lhasa sekaligus pemandu penulis.

Setelah melewati high way selama 30 menit baru ada check point di luar Kota Lhasa. Karena setiap orang asing yang masuk Lhasa dan Tibet harus mendapat semacam izin masuk dari kepolisian setempat atau petugas border. Saya hitung sedikitnya ada empat check point. Sopir harus menunjukkan surat izin masuk Tibet bagi turis yang dikawalnya.

Selepas Sungai Burma, karena hilirnya sampai ke Myanmar sekarang, jalannya terus menanjak dan berliku-liku melewati Pegunungan Himalaya. Allahu Akbar, Maha Besar Allah pencipta alam sementa. Subhanallah, maha suci Allah, puji saya.

Pegunungan itu begitu besar. Sedangkan kendaraan yang melintas di kawasan itu nun jauh di bawah sana terlihat begitu kecilnya. Manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan alam apalagi pencipta-NYA. Jalan yang melintas di pegunungan itu sambung- menyambung hingga 365 kilometer jauhnya.

Puncak tempat di pegunungan itu namanya Kampala. Tingginya sekitar 4.500 meter di atas permukaan laut. Terlihat beberapa pengendara foto bersama. Pemandangan di bawah sana begitu eksotis.

Jalan di pegunungan itu begitu bagus. Betapa Pemerintah Tiongkok dengan susah payah telah membangun dan memperbaiki jalan di pegunungan itu meski ada beberapa lubang kecil.

Beberapa pekerja tampak terus memperbaiki jalan di ketinggian dengan suhu udara sekitar 10 derajat Celsius itu. Lokasi sekitarnya hanya gunung dan gunung. Tidak ada permukiman di dekatnya dalam radius 30 kilometer. ‘’Sudah empat tahun jalan ini dibangun,’’ kata Kalsang.

Kabarnya, para pekerja tadi adalah orang hukuman atau terpidana. Sebelum benar-benar bebas, dilepas ke masyarakat, mereka diwajibkan beradaptasi. Salah satu caranya ya bekerja tadi. Tapi, mereka juga dibayar. Jadi, begitu keluar penjara mereka sudah punya modal uang meski tak seberapa besar.

Jalan di pegunungan itu berliku dan mulai menurun. Terlihat dari kejauhan Danau Yadov Yang Tsu, satu dari tiga danau yang disucikan umat Buddha Tibet. Karena disucikan ya tidak ada yang boleh mandi atau mengotori danau yang berada di ketinggian 4.442 meter di atas permuakaan laut itu.

Panjang danau yang mencapai 136 kilometer itu warna airnya tampak hijau kebiruan. Saat didekati dan disentuh, mak nyus dinginnya. Banyak pengendara yang melintas di wilayah itu menyempatkan berhenti untuk berfoto. Termasuk di patok nama danau yang menunjukkan ketinggian 4.442 meter yang dijaga warga Tibet. Sekali foto bayar 5 yuan atau remimbi (RMB). Sekitar Rp 7.500.

Begitu indahnya danau itu. Hingga warga Tibet percaya danau tersebut diciptakan saat Tuhan menangis. Kenapa? Karena daerah sekitar danau dulunya miskin dan kering. Setelah ada danau wilayah itu begitu subur. Kesejahteraan masyarakat pun terangkat.

Kini jalan mengikuti kontur danau. Di sepanjang lembah dekat danau banyak dijumpai kambing dan yak, sejenis sapi mirip banteng, tapi lebih kecil. Bulunya sangat tebal. Bulu binatang itu sampai sekarang masih jadi bahan pakaian orang Tibet, khususnya mereka yang hidup nomaden atau berpindah-pindah tempat.
Dari kejauhan tampak pegunungan yang puncaknya dipenuhi salju. Beberapa diantaranya mulai mencair seperti di Carulla, nama salah satu puncak di situ. Suhunya bisa mencapai 7 derajat Celsius.

Selepas itu ada danau lagi. Namanya Pamu Majala. Meski tidak sebesar dan sepanjang Danau Yadov Yang Tsu, Pamu Majala tidak kalah indahnya. Airnya juga tampak biru kehijauan. Di ujung danau Pemerintah Tiongkok membangun bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air.

Di wilayah itu Pemerintah Tiongkok juga membangun beberapa blok rumah untuk suku nomaden. Hanya beberapa yang ditempati, selebihnya kosong. “Kalau tinggal biasanya sementara. Paling satu, atau dua bulan. Setelah itu mengelana lagi mengikuti binatang peliharaannya, yak, mencari rumput yang lebih bagus,’’ ujar Kalsang.

Pemandangan di wilayah itu indahnya tak ada habisnya. Danau, sungai, jalan berliku, rumah khas Tibet terus mewarnai sepanjang jalan. Saat berada di jalan datar dan sopirnya terlalu pelan menjalankankendaraan, saya sarankan agar lebih kencang. Sebab, perjalanan masih jauh. (yog/bersambung)