PERTANDINGAN Prancis kontra Belgia di Saint Peterburg malam ini adalah laga pembukitan hebatnya generasi emas masing-masing negara.

Tidak diragukan lagi, hampir sebagian besar para pemain di kedua negara tersebut, malang melintang di liga-liga ternama seperti Liga Inggris, La Liga dan Serie A Italy.

Generasi emas Prancis, masih dihuni sejumlah nama yang sebelumnya berlaga di EURO 2016. Sebut saja, Paul Pogba, Grizmann, Giroud, Matuidi, Umtiti, Kante dan kapten H Lloris. Kekuatan Prancis semakin mengerikan dengan hadirnya pemain muda powerfull Kylian Mbappe. Di usianya yang terbilang muda,19, Mbappe sudah menjadi pemain tumpuan bagi klubya PSG dan timnas.

Sama halnya dengan Belgia. Skuad asuhan Roberto Martinez ini pun sebagian besar didominasi pemain yang berlaga di Euro 2016.

Nama Thibaut Courtois, Vermaelen, Fellaini, Witsel, Chadli, Eden Hazard, Axel Witsel dan Romelu Lukaku tetap dipertahankan diskuad utama Setan Merah -julukan Belgia. Kekuatan Belgia pun semakin trengginas dengan kehadiran gelandang asal Manchester City,  Kevin De Bruyne.

Maka, laga Piala Eropa 2016 yang menyisakan duka bagi kedua negara menjadi ajang mengasah mental para pemain muda.

Matangnya permainan dan mental para pemain kedua negara tampak terlihat dari laga-laga fase grup dan knock out. Lihatnya saja, bagaimana Belgia dengan gagah menghempaskan skuad bertabur bintang Brazil, yang digawangi pemain termahal dunia, Neymar. Begitu pula dengan Prancis, secara perkasa memulangkan kontestan dari Amerika Selatan, Argentina dan Uruguay difase gugur.

Gaya permainan cepat berkombinasi serangan udara menjadi kekuatan dari kedua tim. Eden Hazard dan Mbappe adalah memiliki kecepatan dengan skill menggiring bola cukup mumpuni.

Untuk urusan mencetak gol, Nama striker Man United, Romelu Lukaku menjadi senjata pamungkas di Belgia dengan raihan dengan 4 gol. Sementara di timnas Prancis, Mbappe dan Antonio Grizmann memimpin daftar pencetak gol terbanyak bagi les blues.

Untuk bisa menapakkan kaki di final. Kedua pelatih harus bisa memanfaatkan celah dari masing-masing tim.

Deschamps dapat mengekploitasi sisi kiri pertahanan Belgia, seperti dilalukukan

dilakukan gelandang serang Jepang, Genki Haraguchi. Dimana ketika itu, Haraguchi berhasil melewati bek kiri Jan Vertonghen yang kerap melakukan overlapping. Prancis pun bisa memanfaatkan kelemahan Vicent Kompany, yang pergerakannya cukup lambat telah menapaki usia senja untuk ukuran pemain bola.

Sementara komposisi Prancis sendiri tebilang cukup komplit. Dilini tengah, Kante kerap beroperasi dengan baik dalam memperbutkan bola dari kaki lawan. Kehebatan Kante dalam memutus serangan di lini pertahanan Prancis, sama persis yang dia perankan di tim asalnya Chelsea. Untuk bisa menjebol gawang Lloris, Belgia harus bisa memanfaatkan De Bruyne, dalam melakukan shoot dari luar kotak penalty, seperti yang diperagakan Argentina dalam membongkar barisan pertahanan yang dikawal ketat Varane. (bhn/ila)