Kabupaten Gunungkidul bukan satu-satunya kabupaten di DIJ yang rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau. Kabupaten Bantul, Sleman, hingga Kulonprogo juga kerap menjadi langganan dampak musim kemarau. Namun, luas wilayah kekeringan di tiga kabupaten tetangga Bumi Handayani ini berangsur menurun setiap tahunnya. Itu lantaran ketiga kabupaten ini menggulirkan sejumlah program penanggulangan. Kabupaten Bantul, misalnya, memiliki seabrek terobosan. Di antaranya, Pam-Maskarta (Paguyuban Air Minum Masyarakat Jogyakarta).

Kepala Seksi Air Minum dan Sanitasi Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul Erwin Prasmanta menyebut terobosan ini memiliki dua program andalan. Yakni, Pamsimas (Penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat) dan Spamdes (sistem penyediaan air minum desa). Pamsimas, contohnya. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, pemkab menginisiasi pembangunan 45 pamsimas di berbagai desa.

”Rinciannya, pada 2014, 2015, dan 2017 masing-masing 10 desa. Kemudian, pada 2018 sebanyak 15 desa,” jelas Erwin di kantornya pekan lalu.

Teknis program ini, Erwin menguraikan, pemkab membangun bak penampungan air. Kemudian, menyalurkannya ke setiap rumah melalui pipa sambungan. Kendati begitu, program ini mensyaratkan adanya sumber mata air yang memadai di wilayah tersebut.

”Satu bak bisa mencukupi kebutuhan 100 KK (kepala keluarga),” sebutnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto membenarkan bahwa program pamsimas andil dalam mengurangi dampak musim kemarau. Sebagai buktinya, hingga sekarang baru ada empat dusun yang mengajukan droping air. Tiga dusun di antaranya berada di Desa Muntuk. Satunya berada di Desa Wukirsari.

”Belum ada pembangunan sumur tahun ini di dusun tersebut,” ujarnya.

Pemkab Sleman juga memiliki program hampir serupa. Contohnya, penanganan fenomena kekeringan selama sepuluh tahun terakhir di Dusun Umbulsari A dan Umbulsari B, Sumberharjo, Prambanan. Tak ada lagi keluhan kekurangan suplai air bersih di dua dusun ini. Itu setelah pemkab membangun sumur bor. Kendati begitu, pengoperasian sumur bor ini menuai kendala. Tidak sedikit warga yang mengeluh lantaran air sumur mereka kering. Menyusul beroperasinya sumur bor.

”Setelah beroperasi satu bulan kami hentikan dulu. Khawatirnya menimbulkan polemik,” jelas Kepala Dusun Umbulsari A Soleh di rumahnya Minggu (8/7).

Karena itu, menurut Soleh, perangkat desa kemudian sepakat memanfaatkan suplai air dari organisasi pemakai air (OPA) Sambirejo. Bergabung dengan beberapa dusun lain. Merujuk data pedukuhan, ada 310 KK di Umbulsari A yang mengandalkan pasokan air bersih dari OPA.

”Sehingga diberlakukan sistem jadwal,” ucapnya.

Kendati ada suplai air baru, Soleh tetap berharap pemerintah merumuskan solusi bagi warga Umbulsari A dan Umbulsari B. Di antaranya dengan membangun sumur bor baru. Syaratnya, lokasinya harus jauh dari permukiman. Itu untuk mengantisipasi polemik.

”Harapannya bulan depan ada sumur baru. Karena instalasi lain seperti pipa sambungan sudah ada,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Ariadi tak menampik ada tiga kecamatan yang mengalami kekeringan tahun ini. Yakni, Nanggulan, Kalibawang, dan Sentolo. Namun, kekeringan di tiga wilayah ini bukan karena musim kemarau an sich. Melainkan akibat perbaikan intake Kalibawang.
”Agustus sudah selesai perbaikannya,” katanya. (ega/har/tom/fn)