Sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul rutin mengalami kekeringan setiap tahun. Hal itu disebabkan kondisi permukaan berupa bebatuan gamping. Menurut Ahli Geologi Universitas Gajah Mada Gayatri Indah Marliyani, permukaan bebatuan gamping yang notabene berbentuk terumbu memicu air hujan larut jauh di bawah permukaan. Tidak tertampung di atas permukaan. Sebab, air hujan mengandung asam.

”Sementara komposisi gamping mudah larut bila terkena air hujan. Larutnya sedikit demi sedikit,” jelas Gayatri di ruang kerjanya pekan lalu.

Kondisi ini berbeda dengan Wonosari. Dia mengakui permukaan wilayah ibu kota Gunungkidul ini juga berupa batu gamping. Bedanya, bentuknya berlapis. Nah, lapisan yang di antaranya lempung ini dapat menyimpan air hujan. Menjadi kantung air tanah. Dengan begitu, tidak begitu sulit mencari sumber air tanah di wilayah ini.

”Kedalamannya beda-beda. Di utara Wonosari ada yang cukup empat meter sudah keluar air,” ucapnya.

Lalu, bagaimana dengan wilayah yang memiliki telaga? Menurutnya, terbentuknya telaga juga lantaran permukaan tanah berupa bebatuan gamping berlapis. Sebut saja telaga di Bedoyo, Semanu, dan Rongkop.
”Ada lempungnya, sehingga dapat menahan air,” ujarnya.

Atas dasar itu, Gayatri menyayangkan upaya pemerintah maupun warga yang merenovasi telaga. Sebab, pengerukan sedimen dengan alat berat dapat menghilangkan lempung. Sementara mereka tanpa berkonsultasi terlebih dulu.
”Programnya memang untuk keindahan telaga. Tapi ini mengganggu mekanisme penyimpanan air,” kritiknya.

Terkait penuntasan kekeringan di Bumi Handayani, Gayatri melihat, pemeliharaan telaga dan pembuatan tampungan air hujan menjadi solusi murah. Baik bak penampungan di perkampungan maupun di setiap rumah. Bahkan pemerintah bila perlu juga harus membangun pipa sambungan ke rumah.

”Disambungkan dengan bak penampungan,” katanya.

Terlepas dari itu, Gayatri mengapresiasi adaptasi warga Bumi Handayani. Dengan segala keterbatasan, mereka dapat menemukan berbagai solusi untuk bertahan hidup. (tif/zam/fn)