SELAIN menjadi tempat suci bagi pemeluk agama Buddha di Tibet, Istana Potala dan Kuil Jokhang merupakan ikon wisata terkenal. Istana Potala tak hanya menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, dan politik. Tapi, juga rumah bagi Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet. Juga menjadi rumah bagi ribuan Lama, sebutan para guru, biksu dan tokoh agama Buddha Tibet. Sayangnya, Istana Potala kini hanya difungsikan sebagai museum untuk menyenangkan para turis.

Sebelum bertolak ke Nepal Minggu (2/10/2011) penulis berniat mengujungi Istana Potala yang melegenda itu. Sesampainya di Istana Potala di Jalan Beijing Karim, Lhasa, sekitar 2 kilometer dari Kuil Jokhang, ternyata Istana Potala tutup alias tidak menerima turis. Waduh… Padahal penulis sudah ngiler ingin tahu isi Istana Potala. Dari luar saja istana itu tampak begitu begitu megah, gagah, dan mistis. Ya.. mistis karena di dalam istana yang oleh UNESCO ditahbiskan sebagai warisan alam dan kebudayaan dunia pada 1994 itu terdapat ribuan kamar yang menjadi tempat tinggal para Lama.

Tapi, bagaimana lagi, semua tempat bersejarah di Tiongkok hari itu tutup semua. Ketika itu seluruh rakyat Tiongkok sedang merayakan Hari Kemerdekaan 1 Oktober.

Meski kecewa berat, penulis tidak bisa apa-apa. Begitu pula ribuan umat Buddha dan para peziarah dari penjuru dunia yang terlanjur datang ke Istana Potala. Akhirnya, para turis hanya bisa foto di depan Istana Potala, termasuk penulis.

Sementara ratusan peziarah Tibetan yang sudah terlanjur datang hanya bisa melakukan sembayang dan ritual ‘’kowtow’’ di sekitar Istana Potala.

Tak ada informasi kapan Istana Potala dibuka lagi bagi turis. Padahal, untuk datang landmark Tibet itu perlu perjuangan ekstra keras. Menempuh ribuan kilometer dan medan berat. Sedangkan penulis harus secepatnya menyeberang ke Nepal yang jaraknya ribuan kilometer dari Tibet. Disambung masuk India ribuan kilometer lagi. Lalu segera masuk Pakistan lewat perbatasan Punjab yang berjarak 500 kilometer dari New Delhi. Sebab, visa Pakistan mengharuskan penulis masuk negara ini secepatnya. Paling lambat dua minggu. Kalau tidak akan hangus. Padahal, mengurusnya saja njlimet.

Istana Potala yang merupakan karya agung bangsa Tibet terletak di Bukit Merah, tepat di pusat Kota Lhasa. Sekitar dua kilometer sebelah utara Sungai Lhasa, lima kilometer selatan Sera Monastery, tiga kilometer timur dari Norbulingka, dan dua kilometer sebelah barat Kuil Jokhang. Istana megah ini dibangunmengikuti kontur topografi bukit, sehingga dijuluki Mutiara di Atap Dunia. Bangunan istana berukuran 400 meter dari timur ke barat dan 350 meter dari utara ke selatan. Bangunannya berupa tembok batu granit dan kayu.

Ketebalan temboknya tiga meter hingga lima meter pada bagian dasarnya, dicampur tembaga untuk mencegah gempa bumi. Sedangkan di bagian atas terpasang hiasan dari emas, yang juga berfungsi sebagai penangkal petir.
Dari lembah bangunan menjulang 117 meter dengan titik tertinggi mencapai 3.750 meter di atas permukaan laut .

Istana Potala terdiri atas 13 tingkat. Memiliki seribu lebih kamar, 10 ribu tempat pemujaan, dan 200 ribu patung. Istana ini merupakan karya arsitektur monumental etnis setempat di masa keemasan Tibet. Dan menjadi bangunan zaman kuno paling terkenal di seantero Tiongkok.

Istana ini digunakan sebagai pusat aktivitas politik dan keagamaan pada masa berkuasanya Songtsan Gambo, Dinasti Tibet abad ke-7 Masehi.

Pada abad kesembilan Dinasti Tibet tercerai berai dan rakyatnya pun terjerumus dalam kekacauan perang berkepanjangan. Akibatnya, Istana Potala terbengkalai. Pada 1645 Dalai Lama ke-5 membangun kembali Istana Potala. Proyek utama pembangunan istana memakan waktu hingga 50 tahun. Pembangunan dilanjutkan lagi selama 300 tahun.

Selama ratusan tahun Istana Potala mengalami berkali-kali sambaran petir dan gempa bumi. Tapi, bangunan itu tetap kokoh. Tegak berdiri.

Ada tiga warna mendomiansi Istana Potala. Merah melambangkan keagungan dan kekuatan, putih menunjukkan damai dan kebaikan, serta kuning warna tradisi Gelug dalam Buddhisme, yang menunjukkan berkat tak terbatas. Di bagian dalam sisi timur terdapat Istana Putih yang menjadi tempat tinggal Dalai Lama.

Di bawah fondasi Istana Potala terdapat ratusan terowongan bawah tanah yang berfungsi sebagai saluran sirkulasi udara dalam gedung. Tembok bangunan istana yang tebal membuat bangunan terasa sejuk di musim panas, namun hangat di musim dingin. Di dalam Istana Potala terdapat 698 mural, hampir 10.000 gulungan lukisan, ribuan patung, karpet, kanopi, tirai, porselen, batu giok, benda-benda terbuat dari emas-perak, koleksi sutra, dan dokumen sejarah penting menyangkut Tibet. Di alas pagoda diletakkan berbagai alat upacara sembahyang.

Rancangan unik lainnya ada pada sistem perlindungan cahayanya. Pada titik tertinggi bangunan terdapat atap dan pilar sutra dari emas dan kuningan sebagai konduktor listrik. Di bawah atap ada pipa tembaga yang punya dua fungsi, yakni mengalirkan air hujan dari atap ke bawah dan mengalirkan listrik ke tanah.

Di bagian tengah ada Istana Merah yang merupakan balairung pemujaan Buddha dan pagoda persemayaman arwah Dalai Lama. Sedangkan rumah para biksu berwarna putih terletak di bagian barat.

Di depan Istana Merah terdapat sebuah tembok putih tinggi yang menjadi tempat menggantungkan permadani besar bergambar Buddha saat hari raya agama. Walaupun Istana Potala dibangun pada masa berbeda-beda, seluruh bangunannya yang megah tetap selaras dan mengikuti topografi bukit. Mencapai taraf sangat tinggi dalam estetika seni bangunan.

Di antara bangunan paling indah adalah pagoda arwah Dalai Lama V Losan Jiacuo yang tingginya 15 meter. Lantai dasarnya berbentuk persegi, sedangkan atapnya bundar. Jenazah Dalai Lama V disimpan dalam pagoda setelah diawetkan dengan bahan pewangi. Pagoda itu dilapisi emas seberat 3.724 kilogram dan bertatahkan lebih dari 15 ribu intan, zamrud, mutiara, giok, dan batu akik mahal.

Ketika Istana Norbulingka dibangun pada 1755, bangunan itu menjadi kediaman musim panas Dalai Lama. Sedangkan Istana Putih kemudian dikenal sebagai istana musim dingin untuk Dalai Lama.

Istana Norbulingka terletak di tepi Sungai Kyichu. Istana Norbulingka menawarkan pemandangan terbaik wilayah ini. Tersebar di area seluas 360.000 meter persegi dengan 374 kamar. Dipercantik taman terbesar, terindah, dan terpelihara dengan baik di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

Norbulingka (Luobulinka dalam bahasa Tiongkok) berarti Treasure or Jeweled Park di Tibet. Terdaftar oleh UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia pada 2001. Norbulingka mencerminkan aspek agama dan etnis suku Tibet, Han Tiongkok, dan suku lainnya dengan arsitekturnya yang mengesankan. Norbulingka memiliki lebih dari 30.000 relik budaya dan merupakan daya tarik wisata nasional wilayah Tibet.

Festival Shoton tahunan pada minggu pertama bulan Juli diadakan di Norbulingka. Orang-orang menikmati makanan dan minuman, dan menonton opera Tibet bersamaan dengan tarian tradisional.

Selain Istana Potala dan Norbulingka, Kuil Jokhang, disebut juga Qokang, Jokang, Jokhang, Vihara Jokhang, atau Tsuklakang (Gtsug lag khang) adalah kuil agama Buddha pertama di Tibet. Lokasinya di Dataran Barkhor, pusat Kota Lhasa.

Tempat ini dibangun pada pemerintahan Raja Songsten Gampo antara 605-650 SM guna memperingati pernikahannya dengan Putri Wencheng dari Dinasti Tang Tiongkok, pemeluk agama Buddha yang taat.

Kuil Jokhang berlantai empat menempati di area seluas sekitar 25.000 meter persegi begitu indah dengan atap berwarna emas. Bangunannya berupa perpaduan esoteris dari unsur-unsur Tibet lokal dengan orang Nepal, Tiongkok, dan sentuhan India.

Vihara ini juga disebut panggilan Tsulag Khang atau ‘Rumah Kebijaksanaan’ tetapi sekarang ini lebih dikenal sebutan Jokhang yang berarti ‘Rumah Sang Buddha’.

Bagi sebagian besar rakyat Tibet, tempat ini sangat dihormati dan merupakan sebuah vihara penting di Tibet. Yang mana dianut sebagian umat Buddha Tibet. Sekarang ini Kuil Jokhang diatur aliran Buddha Tibet bermazhab Gelug.

Kuil Jokhang juga menjadi salah satu kuil terpenting dalam pemujaan umat Budha Tibet. Pemerintah setempat mematok tiket seharga 70 yuan untuk turis yang ingin masuk. Bagi para backpacker mbeling punya taktik menghindari tiket. Waktu terbaik untuk menyelinap ke Jokhang adalah saat Subuh, bergabung dalam aliran ratusan peziarah Tibet. (yog/bersambung)