JOGJA – Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, Pemprov DIJ terus berupaya menekan luasnya kekeringan di Kabupaten Gunungkidul. Meski, hal tersebut tidak mudah. Sebab, upaya menarik air tanah bukan perkara gampang. Tidak semua wilayah memiliki sumber mata air.

“Kami mencoba lewat Bribin, tapi kan tetap ada yang belum bisa dilakukan,” katanya.

Dari itu, untuk jangka pendek masih tetap dilakukan droping air. Pemkab Gunungkidul dapat mengajukan anggaran ke pemprov bila kehabisan anggaran.

“DIJ juga ada (anggaranya, Red) tetapi kan permintaan dari bupati. Nanti nek kurang kan minta bantuan,” ucapnya.

Kepala Dinas Sosial DIJ Untung Sukaryadi mengatakan, hingga sekarang instansinya telah memenuhi kebutuhan air, sesuai dengan permintaan dari kabupaten. Hal itu agar penyaluran dapat merata dan tepat sasaran.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana menjelaskan, dari hasil rapat koordinasi diketahui potensi kekurangan air di Gunungkidul tersebar di 11 kecamatan dan 54 desa. “Sudah dialokasikan anggaran Rp 628 juta. PLN PLN juga siap bantu 150 tanki. Sedangkan untuk Bantul disiapkan anggaran Rp 50 juta atau setara kurang lebih 250 tanki,” katanya.

Dibanding sebelumnya, dia berharap bencana kekeringan tahun ini bisa lebih ringan. Sebab, merujuk informasi dari BMKG musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung normal. “Tidak seperti tahun 2017 yang ada anomali cuaca akibat El Nino,” tuturnya. (riz/zam/fn)