JOGJA – Juru parkir (jukir) nakal lagi-lagi berbuat ulang. Sebagian wisatawan kembali dibuat kecewa dengan tarif parkir nuthuk. Ironisnya, hal itu menimpa peserta Pasar Kangen, event yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Jogja itu. Sejak dibuka Sabtu (7/7) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), para jukir nakal mulai beraksi dengan menarik tarif parkir di luar batas kewajaran. Yakni Rp 30 ribu untuk mobil.

“Kalau parkir saja Rp30 ribu ya jadi nggak kangen. Besoknya (wisatawan, Red) bisa-bisa malah tidak mau datang lagi,” keluh salah seorang peserta Pasar Kangen yang enggan dikorankan namanya Minggu (8/7).

Parahnya, jukir mencetak karcis parkir sendiri. Sedangkan tarif yang tertera di karcis parkir abal-abal itu Rp 10 ribu untuk mobil. “Si jukir berdalih karena saya parkir hingga malam. Kenyataannya saat saya pulang pukul 23.00 sudah tak ada tukang parkir yang jaga. Lantas ini tanggung jawab siapa kalau ada kendaraan hilang,” bebernya.

Pria paro baya itu mengaku datang di TBY sekitar pukul 1630. Lantaran tak kebagian tempat parkir dekat lokasi acara, dia memarkir kendaraannya di seberang TBY. Tepatnya di tanah lapang selatan Toko Remujung. Sumber tersebut memang belum sempat menunjukkan tanda pengenal sebagai peserta Pasar Kangen. Karena begitu memarkir mobilnya si jukir nakal langsung menembak ongkos parkir Rp 30 ribu.

“Katanya (jukir nakal, Red) kalau tidak mau ya cari tempat parkir lain saja,” ungkapnya menirukan ucapan jukir. Dia khawatir kondisi serupa terjadi tiap hari. Jika begitu, alih-alih untung malah bisa buntung. Menurutnya, jika tiap hari harus merogoh Rp 30 ribu untuk parkir sama saja dia kehilangan keuntungan dari membuka stan di Pasar Kangen. “Jual pecel bathine (untungnya, Red) Rp 300 ribu, bisa-bisa habis cuma untuk ongkos parkir,” keluhnya.

Dia lebih khawatir jika praktik nakal jukir mengakibatkan wisatawan emoh mampir ke Pasar Kangen lantaran tarif parkir yang mahal. Bisa dipastikan keuntungannya makin menyusut. Itu juga yang bakal dialami peserta Pasar Kangen lainnya. Apalagi jika yang menjadi korban adalah wisatawan luar daerah, yang dengan mudahnya mem-viral-kan masalah itu lewat media sosial. Seperti yang kerap terjadi ketika musim liburan. Karena itu dia mendesak pihak terkait segera melakukan penindakan

Terpisah, Kepala Bidang Perparkiran, Dinas Perhubungan Kota Jogja Imanuddin Azis menyatakan, area di selatan Toko Remujung tersebut merupakan kawasan parkir liar. Sedangkan lahan parkir di Jalan Sriwedani, atau di depan TBY dikelola swasta. “Jika memang ada pelanggaran parkir akan segera kami razia,” ancamnya.

Sementara itu, anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja Baharuddin Kamba menilai parkir liar sebagai penyakit kronis yang seolah sulit disembuhkan. “Padahal seharusnya masalah itu bisa diberantas kalau aparat sungguh-sungguh bertindak tegas,” ujarnya.

Kamba melihat, berulangnya kasus jukir memalak wisatawan lantaran penegakan hukum perparkiran di Kota Jogja lemah. “Ibarat macan kertas. Mandul,” sindirnya.

Persoalan lain adalah masih ringannya vonis hakim terhadap setiap jukir liar dan nakal yang terbukti bersalah di pengadilan. Vonis belum bisa menjadi efek jera.

Sebagaimana diketahui, ancaman hukuman bagi pelanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 18 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perparkiran berupa kurungan penjara tiga bulan atau denda Rp 50 juta. Tapi kenyataannya, para jukir nakal yang terjaring hanya divonis denda ratusan ribu rupiah.

Kamba mendorong Pemkot Jogja segera merevisi perda tersebut dengan klausul ancaman hukuman lebih berat. Demikian pula bagi para hakim yang menyidangkan kasus parkir liar. Mereka diminta menjatuhkan vonis maksimal seperti diatur dalam perda. (pra/yog/fn)